Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
167. Ada Tuyul


__ADS_3

Malam itu juga Bunda Fatia dan Ayah Jose terbang ke Jakarta. Tidak tega melihat Vefe matanya bengkak karena menangis. Semua pekerjaan langsung di tinggal begitu saja dan hanya diserahkan kepada sang asisten.


Perjalanan yang tidak sebentar membuat Bunda Fatia tidak sabar ingin cepat sampai. Berulang kali menghubungi Khan menanyakan Vefe dan baby Aaron. Seolah yang mengalami dilema Bunda Fatia bukan menantunya.


Sedengkan di kamar hotel, walaupun Vefe tidur hampir menjelang pagi. Dia tetap bangun pagi untuk menjalankan kewajiban menghadap pada yang maha khaliq. Memberikan ASI dan tidak lupa mengajak baby Aaron mandi pagi.


Vefe enggan juga keluar kamar hari ini. Hatinya masih galau dan bingung. Belum berani bertemu dengan Nyonya Asrid dan keluarga. Masih ingin menunggu Bunda Fatia datang dari Manhatten.


Khan juga ikut enggan ke luar kamar. Setelah menunaikan menghadap ilahi Robbi. Dia kembali terlelap di sofa sambil menarik selimut yang ada di tempat tidur.


Pukul sepuluh pagi, Khan masih meringkuk dan terlelap. Vefe sedang memberikan ASI kepada putranya. Sambil termenung memikirkan harus bersikap bagaimana saat bertemu keluarga Nyonya Astrid.


Khan mengerjapkan mata, yang pertama dilihat adalah Vefe yang masih termenung. Dia sedang memberikan ASI putranya. Bahkan kaki baby Aaron sesekali menendang kaki Vefe dia seolah tidak memperdulikan.


Dengan usil Khan mendekati Vefe dengan membuka celana pajang pasangan baju tidur. Dia hanya menggunakan CD saja plus atasan yang diikat. Dengan tujuan agar istrinya tidak terfokus dengan persoalan keluarga kandungnya.


Masih berjarak beberapa langkah Vefe kaget melihat penampilan Khan, "Astagfirullah ... Papi Bule!" teriakanya.

__ADS_1


Vefe tertawa terpingkal-pingkal melihat penampilan suaminya. Baby Aaron ikut tersenyum padahal tidak tahu apa yang terjadi. Sampai bayi bule itu melepas dan tidak menikmati ASI nya lagi.


"Coba lihat Papi, Nak. Seperti tuyul yang sedang mencari uang," kata Vefe terus terpingkal-pingkal.


Khan langsung membuka baju yang tadi diikat dan terlihat pusarnya. Sekarang CD tidak terlihat karena tertutup atasan baju tidur. Duduk di samping Vefe dan menciumi pipi putranya.


"Papi rela jadi tuyul asal Mami bisa tertawa, Nak." Khan ikut tergelak melihat Vefe tertawa terpingkal-pingkal.


Vefe menutup mulutnya dan kembali memberikan ASI kepada putranya. Hanya menggelengkan kepala sambil mencubit lengan Khan, "Papi gokil ...."


"Sekarang sudah tidak bersedih lagi?"


"Bingung dan galau boleh saja, Mami Sayang. Asal tetap ingat makan. Apakah Mami sudah sarapan?"


Vefe kembali termenung dari tadi malam enggan menyentuh makanan. Tidak terasa lapar, hanya meminum susu untuk ibu menyusui saja, "Mami belum lapar."


"Kasihan dong Aaron kalau Mami tidak makan. Mami harus makan. Katakan mau makan di mana?"

__ADS_1


"Baiklah ...makan di kamar saja tetapi Papi pakai celana dulu jangan jadi tuyul begitu," jawab Vefe sambil tergelak.


"Papi pesan layanan kamar saja."


Khan memesan menu nasi dobel sarapan dan makan siang sekaligus. Sambil menunggu pesanan datang, dia bergegas mandi untuk membersihkan diri. Dia hanya mandi dengan cepat agar Vefe tidak menerima pesanan saat pramusaji datang.


Sampai tengah hari, Vefe tidak juga keluar hotel. Khan juga tidak tega meninggalkan Vefe, lebih memilih bekerja melalui online saja. Bekerja sambil menghibur dan menasehati agar istrinya bisa ikhlas.


Sedangkan di luar pintu kamar hotel yang di tempati Khan dan Vefe. Nyonya Astrid sudah mondar-mandir hampir satu jam yang lalu. Karena dari pagi tidak melihat sosok putrinya bersama rombongan.


Tadi pagi keluarga Nyonya Astrid sarapan di restoran bersama Asisten Satria dan rombongan. Hanya sayangnya Vefe dan suami serta putranya tidak bergabung. Saat ditanya, Asisten Satria mengatakan mereka masih beristirahat.


Saat ini Nyonya Astrid berada tepat di depan pintu kamar hotel Vefe. Tangannya diangkat untuk mengetuk pintu. Namun hatinya dipenuhi kebimbangan.


Diangkat ingin mengetuk, tetapi diurungkan kembali. Nyonya Astrid terus mengulangi sampai berkali-kali. Dia masih ragu karena takut dianggap tidak sabar.


Datang Bunda Fatia dan Ayah Jose sambil menarik koper besar. Melihat ada seorang wanita yang berdiri didepan kamar putranya. Wajahnya bisa dikenali karena tadi malam dikirim profilnya oleh Khan, "Apakah Anda Nyonya Astrid?"

__ADS_1


"Iya benar."


"Ikut kami sebentar!"


__ADS_2