
Vefe mendengar jelas apa yang di katakan dua resepsionis. Dia kembali berbalik badan mendekati dua resepsianis itu. Seketika mereka terdiam tidak berani menggunjingkan Vefe lagi.
"Permisi bu!" Vefe mengagetkan mereka dengan suara yang tegas.
"Ya Kakak ... ada yang bisa kami bantu lagi?" jawab salah satu resepsionis dengan gugup.
"Ini ada dokumen Tuan Khan yang tertinggal di panti asuhan Bunda, tolong nanti sampaikan kepada beliau."
Vefe menyerahkan dokumen dengan dimasukkan paper bag. Dia langsung meninggalkan lobi dengan langkah panjang. Menuju tempat parkiran mengambil motor yang terparkir di sana.
Dalam perjalanan pulang, ada rasa yang mengganjal di hati. Perkataan dua pegawai resepsionis itu rasanya membekas di hati. Rasa rendah diri itu tiba-tiba muncul.
Teringat kembali saat masih SMA, hinaan dan cemo'ohan teman. Terutama mereka yang mempunyai keluarga lengkap dan kaya raya. Hatinya mulai kembali ragu memiliki kekasih tampan dan kaya raya.
Dalam perjalanan pulang, seolah pikiran Vefe tidak berada di badan saat ini. Terlahir sebagai anak buangan, hidup di panti asuhan tidak memilik masa depan. Itulah yang selalu membuatnya rendah diri.
Vefe melewati taman kota, dia menghentiksn motornya. Dududk sendiri merenung dan berpikir. Hubungannya dengan sang kekasih belum ada seumur jagung, tetapi sudah merasa terbebani.
Vefe memandangi penampilannya sendiri. Setidaknya rapi walaupun hanya sederrhana. Selalu saja dia dipandang sebelah mata hanya dari penampilan.
Membuka ponselnya untuk memeriksa pesan telegram yang di kirim pada Khan tadi pagi. Sampai sekarang pukul spuluh pagi tetap belum juga di balas. Hati semakin merasa kecil hati dan rendah diri.
Vefe sekali lagi mengirim pesan kepada Khan melalui telegram, "Mas Khan, maaf dokumen yang ketinggalan Ve titipkan pada resepsionis, Ve tadi terburu-buru."
Vefe tidak berniat menceritakan apa yang di dengar di lobi tadi pagi. Peristiwa seperti itu sering dialaminya. Menjadikan hinaan seperti itu sebagai cambuk untuk meraih masa depan.
Dengan sengaja ponsel Vefe matikan agar tidak ada yang menghubungi. Ingin menata hati dan meyakinkan hati jika semua baik-baik saja. Melajukan motornya menuju Verin Olshop.
"ayo semangat Ve, tidak perlu mendengarkan mereka yang julid!" Vefe menyemangati diri sendiri.
Pukul sebelas siang Khan baru membuka ponselnya. Ada panggilan tidak terjawab dan pesan dari sang kekasih hati. Matanya langsung terbelalak lebar membaca satu persatu pesannya.
Rasa sesal di hati saat ini yang di rasakan karena mematikan ponsel. Merasa bersalah dan kecewa pada diri sendiri. Seharusnya kebiasan itu harus mulai di rubah agar tidak terjadi lost contact dengan Vefe.
Asisten Satria mendorong Pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sambil membaca pesan dari Vefe. Melihat ada panggilan tidak terjawab juga, "Tuan ... tadi Nona Vefe ke sini, apakah Anda sudah tahu?"
"Iya ini aku juga baru membaca, kamu ambil dokumen itu di resepsionis!"
"Baik ... Tuan."
__ADS_1
Khan menghubungi Vefe berkali-kali, menggunakan pesan WA, telegram, dan menghubungi dengan nomor ponsel. Tdak ada satupun yang aktif, "Ve, ayo diangkat, apakah kamu balas dendam ya?" monolog Khan sendiri.
Sampai Asisten Satria kembali dari lobi membawa dokumen. Khan belum bisa menghubungi Vefe. Hati Khan semakin gelisah dan bingung sambil berusaha terus menhubunginya.
"Ada apa, Tuan?"
"Ponsel Vefe tidak aktif, apakah dia marah?"
"Jangan zu'uzon dulu dong, Tuan."
"Jadi harus bagaimana?"
"Banyak cara bisa menghubungi dia, contohnya bertanya kepada Umi, Erina atau bisa juga Anda langsung ke panti asuhan."
"Lebih baik ke sana saja." Khan mengambil kunci mobil dan mengantongi ponselnya.
"Tuan, Anda masih ada jadwal hari ini bertemu dengan klain dari Bandung!" teriak Asisten Satria karena Khan sudah mengambil langkah panjang keluar kantor.
Kamu saja yang menemui dia, kalau ada yang perlu kita meeting lewat olnine saja!"
Asisten Satria menggelengkan kepalanya sambil mengangguk, padahal dia tidak mungkin melihat anggukan. Jatuh cinta membuat tuannya sekarang berubah drastis.
Yang dulunya disiplin waktu sekarang mulai bisa melonggarkan waktu. Yang dulu sering marah kini sudah mulai berkurang. Bahkan yang dulu jarang tersenyum sekarang ini sering tersenyum sendiri.
Sampai di depan panti asuhan, Khan memarkirkan mobilnya di sembarang tempat. Melihat pintu panti terbuka lebar. Khan menegtuk berkali-kali di daun pintu yang terbuka, "Assalamualaikum!" teriaknya.
"Walaikum salam." Umi Maryam menjawab dan keluar dari arah dapur.
"Umi ...." Khan mencium punggung tangan Umi Maryam.
"Ve ada di rumah, Umi?"
"Dari tadi pagi belum pulang, Nak. Pamitnya tadi pagi setelah mengantar dokumen ke kantor Nak Khan akan langsung ke Verin alshop, mengapa tidak menhubungi dia dengan ponsel?"
"Poselnya tidak aktif, Umi."
"Tadi pagi kalian tidak bertemu?"
"Tadi saat ke kantor, Khan sedang meeting jadi tidak sempat bertemu."
__ADS_1
"tunggu ya, Nak. Coba Umi hubungi Ve!"
"Ya ... Umi."
Umi Maryam mengubungi ponsel Vefe berkali-kali baik melalui pesan ataupun langsung. Sayangnya ponselnya sampai sekarang tidak aktif, "Tidak aktif ponselnya, Nak."
Khan teringat Erina dan Daniel. Kemungkinan mereka mengatahui keberadaan Vefe. Sayanganya sampai sekarang Khan tidak memilik nomor ponsel sahabat sekaligus rekan kerja kekasihnya.
"Apakah bisa minta tolong menghubungi Erina, Umi. Khan tidak memilikio nomor ponselnya!"
"Betul juga ... Umi coba."
Umi Maryam menghubungi Erina menggunakan nomor ponsel langsung agar cepat. Hatinya juga ikut gelisah setelah putri angkatnya itu tidak bisa di hubungi. Melihat Khan yang gelisah dia juga ikut khawatir.
Ponsel Erina berdering saat Umi Maryam menghubungi. Hanya saja tidak diangkat oleh Erina. Berkali-kali Umi ulangi menghubungi Erina tetapi tetap saja tidak di angkat.
"Maaf ya, Nak. Sebenarnya ponsel Erina teersambung, tetapi tidak diangkat oleh dia, jadi bagaimana ini?"
Khan mengambil napas panjang, untuk menenangkan hati. Hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk. Semoga dia tidak marah karean tidak mengaktifkan ponselnya.
"Kah mencari ke Verin alshop saja ya, Umi?"
"Boleh juga, Nak. Nati kalau sudah bertemu dengan dia kabari Umi ya!"
"Baik Umi ... Assalamualaikum."
"Walaikum salam."
Khan kembali melajukan mobilnya menuju rumah Erina. Hatinya semakin gelisah tidak menentu. Pikirannya semakin merasa bersalah karean tidak mengaktifkan ponselnya.
"Maaf ya, Ve. Ini kebiasaan Mas saat sedang bekerja. Mulai sekarang Mas janji akan merubah kebisaan ini," monolog Khan sambil memutar setir mobil agar semakin cepat sampai tempat Verin Olshop.
Hanya dalam setengah jam Khan sampai toko online kecil yang ada di samping ruang tamu milik Erina. Dia langsung berlari mendorong pintu tanpa mengetuk pintu, "Ve ...!" teriaknya.
Erina sedang berbincang di ponselnya saat Khan datang dan tersentak kaget, "Mas Khan, ada apa?"
BERSAMBUNG
Yok mampir dulu di novel teman yang rekomen banget
__ADS_1
Jangan lupa ya sambil menunggu Khan dan Ve datang lagi