Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 212. Calon Menantu Cadangan


__ADS_3

Saat Khan melewati rumah dan pelaminan Eno, kemungkinan Ibu Eno melihatnya. Saat Bunda Fatia sedang bercerita ada pintu di ketuk dari luar. Orang yang sedang dibicarakan sudah berdiri di depan pintu.


Pembantu rumah tangga yang membukakan pintu, "Silahkan masuk, Bu!"


"Terima kasih."


Sambil tersenyum Ibu Eno bergegas masuk, "Jeng Fat, aku tadi lihat putramu, Eee orangnya di sini!"


Khan mengangguk dan teresenyum, "Anda mencari saya, Bu?"


Belum dipersilahkan duduk Ibu Eno langsung duduk di samping Vefe, "Apakah kamu tahu kapan keluarga calon menantuku berangkat ke Surabaya, Nak Khan?"


Khan kaget dan bingung mendengar pertanyaan dari Ibu Eno. Lupa saat kemarin berada di Bandung tidak menemui Doni Prawira. Padahal beberapa waktu yang lalu mendengar jika teman bisnisnya itu sedang di kediaman istrinya Sania Parwati.


"Saya tidak tahu, Bu. Apakah keluarga yang ada di Jakarta belum ada yang datang?"


"Belum ... katanya mereka juga menggunakan pesawat pribadi seperti kamu."


Khan semakin bingung dan heran. Selama ini tidak pernah tahu jika keluarga Doni Prawira memiliki pesawat. Yang Khan tahu keluarga mantan istri Toni Prawira yang memiliki helikopter saja.


"Pesawat apa yang dimiliki keluarga calon menantu, Bu?" tanya Bunda Fatia.


"Tidak tahu juga sih, Jeng. Mungkin sama seperti punya Jeng Fatia."


Ayah Jose hanya menggelengkan kepala saat Ibu Eno kembali bercerita tentang calon menantu yang dibanggakan. Tidak menyadari jika orang yang di ceritakan sangat mengenal keluarga calon menantu.


Ibu Eno belum selesai becerita, ada lagi ketukan pintu dari luar. Pembantu rumah tangga kembali bergegas membuka pintu. Ada Cak Mus yang berdiri di depan pintu masih memakai seragam tukang parkir kebesarannya.


"Assalamualaikum," ucap Cak Mus setelah dipersilahkan masuk.


"Walaikum salam," jawab mereka bersamaan.


"Eee ada calon Ibu mertua," kata Cak Mus sambil cengar-cengir.


Ibu Eno langsung mengerucutkan bibirnya sambil cemberut. Yang awalnya cerah ceria dan membusungkan dada saat bercerita. Kini wajahnya terlihat kesal dan marah di panggil calon ibu mertua.


"Kamu bukan calon menantuku, iiih tidak level," jawab Ibu Eno dengan memalingkan wajahnya ke samping.


"Jangan begitu dong, Ibu. Daripada calon menantu yang dibanggakan tidak muncul juga sampai sekarang, lebih baik calon menantu yang setia ini saja."


Bunda Fatia menutup mulutnya hampir keceplosan. Setuju apa yang dikatakan oleh aki-aki nyentrik yang masih berdiri di depannya. Ide itu bagus juga dijadikan calon menantu cadangan.


Jika dilihat dari umurnya calon menantu asli dan Cak Mus tidak jauh beda. Hanya berbeda nasib dan keberuntungan saja. Yang paling mencolok yang satu presdir dan yang satu lagi tukang parkir.

__ADS_1


"Sudah aah, Jeng Fat, saya pamit saja," kata Ibu Eno dengan mengibaskan tangannya.


"Lo ... kok pamit, belum selesai ceritanya," sindir Bunda Fatia.


"Lain kali lagi ceritanya, siapa tahu calon menantuku sudah datang sekarang, permisi."


Baru beberapa langkah Ibu Eno berjalan. Dia berbalik badan dan berhenti, "Nak Khan ... jangan lupa besok datang sebelum jam sembilan pagi ya, biar bisa langsung berkenalan dengan calon suami Eno. Dia sama seperti kamu lo, pebisnis hebat!"


Khan tergelak sambil mengacungkan jempolnya, "Baik ... Bu."


"Kalau Cak Mus menantu hebat lo, Bu!" teriak Cak Mus sambil menunjuk pada diri sendiri.


"Hebat dari mana?"


Ibu Eno langsung ke luar pintu tanpa menunggu jawaban dari Cak Mus. Menutup pintu dengan keras tanpa disadari menunjukkan kekesalan hati. Pergi tanpa mengucapkan salam kepada tuan rumah.


Setelah Ibu Eno berpamitan pulang. Khan ingin menghubungi Doni Prawira yang sedang berada di Bandung. Ingin menanyakan kepastian kehadiran dari keluarga pengantin pria.


Hampir satu jam Khan menghubungi Doni Prawira. Ponsel tersambung tetapi hanya operator yang menjawabnya. Berkali-kali hanya jawaban operator yang menjawab sedangkan Doni Prawira entah kemana.


Cak Mus berbincang dengan Ayah Jose sambil bercanda. Khan dan Vefe mengajak putranya untuk masuk kamar karena waktunya tidur siang. Bunda Fatia menuju dapur melihat para pembantu masak di dapur, sebentar lagi waktunya makan siang.


Di kamar, Khan kembali menghubungi Doni Prawira berkali-kali. Masih penasaran tentang keluarga pengantin pria yang belum hadir di acara pernikahan. Rasanya janggal mereka belum juga hadir, pasalnya pernikahan adalah menyatukan dua keluarga besar.


"Sudahlah ... Papi, mungkin ponsel Bang Doni ketinggalan."


"Betul juga sih, jadi Papi ngapain dong sekarang?"


"Terserah Papi mau ngapain?"


"Mau makan boleh?"


"Kalau mau makan ayo Mami ambilkan di ruang makan sana!"


"Tidak bisa dong, Papi mau makan Mami."


Khan baru ingin memeluk Vefe dari belakang. Ada suara ketukan pintu dari luar. Suara Bibi yang memanggil Khan dan Vefe untuk makan siang.


"Tuan ... Nyonya, sudah di tunggu di ruang makan!" teriak Bibi dari luar.


"Iya ... Bi, tunggu sebentar!" jawab Vefe ikut berteriak.


"Mami, mengapa dijawab, Papi mau makan Mami dulu?"

__ADS_1


"Siang-siang dilarang makan Mami, ayo kita ke luar!"


Vefe menarik tangan Khan untuk ke luar kamar. Dengan terpaksa Khan mengikuti langkah Vefe dengan gontai, "Mami memang ratu tega ya, padahal dia sudah mulai bangun," kata Khan sambil menunjuk senjata tomahawk.


"Bukan Mami yang tega, tetapi senjata tombak tomahawk Papi yang kurang aturan, suka bangun di sembarang tempat," jawab Vefe asal.


"Eeee dia bangun cuma di kamar saja lo."


"Salah ... bangun di sembarang waktu, suruh tidur lagi saja, nanti malam Mami bangunkan."


Dengan senyum yang mengembang, Khan langsung berjalan semangat, "Janji ya nanti malam Mami yang bangunkan!"


Vefe mengerutkan keningnya berpikir dan mulai menyadari rupanya tadi salah ngomong. Harus mempunyai ide agar tidak di tagih janjinya nanti malam. Pasti sebelum dibangunkan pasti dia akan terbangun sendiri jika berada di kamar berdua.


"Tanpa dibangunkan pun senjata tombak tomahawk Papi selalu terbangun dengan sendirinya."


"Tetapi janji harus ditepati dong, Mami. Nanti malam Papi tunggu ya!"


Sambil tersenyum devil Vefe menjawab dengan mengangguk. Bermonolog dalam hati ingin mengulur waktu saat nanti malam di kamar berdua. Mungkinkah senjata tombak tomahawk akan tahan menunggu dibangunkan.


"Mengapa tersenyum devil begitu, Mami?"


"Tidak apa-apa."


"Mami sedang membayangkan sedang membangunkan senjata tombak tomahawk Papi ya?"


"Kagak ...!"


"Terus apa dong?"


"Rahasia, pokoknya lihat saja nanti malam."


Khan kembali tersenyum sambil membayangkan aksi Vefe nanti malam. Pasti akan menikmati sensasi yang berbeda jika Vefe yang akan memulai duluan, "Papi tunggu tanggal mainnya."


"Pokoknya Papi tunggu saja nanti malam, jangan protes dan harus menunggu dengan sabar."


"Waaah kok Papi mencium rencana curang ya?"


BERSAMBUNG


hai sholat Anna, jangan lupa mampir ya di novel teman. ini rekomen banget lo, ada di novel toon juga


__ADS_1


__ADS_2