
Khan langsung tergelak sambil memeluk Vefe dari belakang. Menciumi tengkuknya dengan gemas. Otaknya membayangkan istrinya semalaman tidak memakai benang sehelaipun.
Dengan mudah kapak tomahawk berburu tanpa harus susah membukanya. Akan gampang keluar masuk dan tinggal membuka selimut. Jika ingin berburu lagi tinggal beraksi dan beraksi lagi.
Vefe masih terus melihat dan memutar baju yang terlihat tipis dan tembus pandang. Bagi Vefe tidak pernah keluar masuk butik yang mahal. Dia tidak pernah mengetahui model baju tidur yang seperti itu.
"Ini namaya lingerie, Sayang. Sangat cocok untuk di pakai pengantin baru."
"Ve tidak mau pakai aah, terlalu transparan, nanti Mas Khan berburu terus tanpa henti."
"Itu memang tujuannya, di pakai dong ... Mas ingin melihat istri Mas seksi!"
"Ve pakai dobel tiga langsung boleh?"
"Tidak boleh dong Sayang. Ayo cepat ganti!"
Vefe memilih satu baju lingerie warna hitam tanpa lengan dan panjangnya sampai lutut saja. Membuka gaun yang di kenakan untuk berganti dengan baju seperti yang di minta. Terus saja dipandangi olehnya saat akan berganti sesuai keinginan suami.
Gaunnya baru terlemas dan tergeletak di lantai dan belum sempat memakai lingerie. Badan sudah melayang dalam gendongan bridal Khan. Kapak tomahawk sudah bengun dengaan sempurna dan tidak tahan lagi untuk berburu.
"Aaaaah ... Mas, Ve belum sempat memakai baju itu!" teriak Vefe sambil menggoyangkan kakinya.
"Kelamaan, Sayang. Mas sudah tidak sabar lagi."
Khan kini sangat ahli beraksi baik di bibir, leher apalagi di tempat favoritnya. Khan paling suka beraksi di ujung dua gundukan menggunakan bibirnya. Sensasinya tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
Apalagi saat Khan beraksi di ujung dua gundukan. Vefe melingkarkan tangannya di kepala dan sengaja menekan agar semakin dalam bermain di sana. Itu gambaran rasa yang sangat sulit diuraikan.
Baru sampai pintu nirwana, belum benar-benar masuk dan menikmati indahnya kapak tomahawk berburu. Pintu di ketuk dari luar dengan suara keras.
"Mas ada yang mengetuk pintu," kata Vefe berbisik di telinga.
"Biarkan saja, Sayang. Lagi tanggung nich, ayo sebentar lagi, jangan cuma diam saja!"
Dengan irama yang sama Khan dan Vefe memacu agar cepat sampai puncak nirwana. Seperti berpacu dengan waktu karena adanya suara ketukan pintu. Ketukan pintu berhenti bersamaan kapak tomahawk juga sudah sampai puncaknya.
__ADS_1
"Cepat buka pintu, Mas. Ve lari dulu ke kamar mandi!"
Vefe berlari ke kamar mandi tanpa menutupi tubuhnya yang polos. Khan hanya memakai celana pendek dan kaos dalam. Bergegas membuka pintu dan melihat siapa yang mengetuk pintu.
"Lama banget sih, Mas. Lagi ngapain?" tanya Elya sambil melongok ke dalam kamar.
"Ada apa sih mengganggu saja?" tanya Khan dengan nada suara kesal.
Elya melihat ada baju Khan yang berserakan di lantai, lengerie dan gaun milik Vefe yang ad di lantai depan lemari. Dia sudah bisa menebak apa yang sedang dilakukan kakaknya baru saja. Bahkan Elya mengediplkan matanya berkali-kali menggoda Khan, "Mas lagi ehem-ehem ya?"
"Ada apa, jangan berpikiran macam-macam?"
"Ha ha ... Bagaimana tidak berpikir macam-macam, lihat ada dalaman di sana, gaun Kak Ve tergeletak di depan lemari."
Khan menoyor jidat Elya, "Jangan berisik ... Ada apa mengetuk pintu?"
"Mas dan Kak Ve di panggil Ayah, Aaah sekalian El mau cerita Mas barusan habis ehem-ehem!" teriak Elya berlari meninggalkan pintu kamar Khan.
Khan masuk kamar kembali bersamaan Vefe keluar kamar mandi. Vefe hanya melilitkan handuk di badannya saja. Khan tersenyum mendekati Vefe ingin memeluknya.
"Ve dengar El ngomong tadi?"
"Iyalah ... Ve jadi malu, Mas sih baru masuk pesawat sudah berburu saja!"
Khan kembali menciumi tengkuk Vefe yang terlihat mempesona dan mencium sekilas pipinya, "Tapi Ve juga suka, 'kan?"
"Iya sih," jawab Vefe jujur.
"Ha ha ha ... Mas mandi dulu."
Khan dan Vefe menemui Ayah Jose di kursi penumpang pesawat. Duduk bersama Bunda Fatia, Elya dan Smith. Elya cengar-cengir sambil mengedipkan mata kepada Khan.
"Ayah memanggil Khan?"
"Iya duduk sini!"
__ADS_1
"Ayah sudah mengatur perjalanan keliling Eropa selama dua minggu. Dua hari lagi kalian baru bisa berangkat, tetapi di sela bulan madu Khan harus tetap menjalankan perusahaan melaui online."
"Baik ... Ayah, terima kasih."
"Nak Ve haus sering mengingatkan suamimu untuk melaksanakan tugas yang harus di kerjakan di sela-sela bulan madu, Bunda tidak mau mendengar alasan apapun, mengerrti?"
"Baik Bunda, insyaallah," jawab Vefe.
Perjalanan sekitar delapan jam keluarga sudah sampai Bandara Internasional John F Kanady. Di jemput menggunakan mobil menuju Manhetten. Di sana menunjukkan waktu malam hari.
Khan kembali bisa berburu dengan leluasa. Bisa mengajak Vefe terus-menerus menuju puncak nirwana. Kesempatan perbedaan waktu menguntungkan untuk berburu sesuka hati.
Siang hari waktu Amerika, Khan mengajak Vefe berwisata ke Patung Libartty. Patung yang berdiri tegak di pulau Liberty terlihat megah saat di lihat dari dekat. Vefe tidak henti-hentinya mengagumi patung simbul perdamaian warga Amerika.
Vefe hanya setengah jam saja berkunjung di Patung Liberty dan berselfi ria di sana. Khan lebih senang mengajak Vefe mencari pernak-pernik oleh-oleh untuk anak panti asuhan.
Mengajak Vefe ke perkampungan muslim yang ada di sana. Berbincang dan melihat kegiatan ibadah mereka serta memberikan sumbngan bagi para anak-anak penghafal tahfis.
Sampai sore hari Khan mengajak berkunjung ke perguruan silat yang di kelola oleh orang Indonesia. Pendiri peguruan adalah teman kuliah Khan yang menikah dengan wanita muslim Amerika. Muridnya sebagian besar warga asli Amerika. Bahkan mereka juga diajari bahasa Indonesia.
Saat Vefe datang di perguruan langsung di sambut dengan atraksi seru seluruh murid perguruan. Mereka seperti menyambut guru yang lama tidak bertemu. Vefe sangat bahagia bisa melihat murid seperguruan walaupun di luar negeri.
"Mereka lebih antusias ya, Mas."
"Iya mereka sangat menghargai dan menggumi ilmu bela diri asli Indonesia."
Setelah menyaksikan atraksi, pimpinan perguruan meminta Vefe untuk menunjukkan kemampuannya di depan murid-murid perguruan, "Apakah boleh, Mas?" tanya Vefe.
"Tentu ... Silahkan," jawab Khan.
Semua murid melingkar duduk bersila menyaksikan Vefe sedang beraksi. Mulai dengan tangan kosong, menggunakan alat ataupun silat sebagai seni.
Kemanpuan Vefe yang mumpuni membuat seluruh murid kecil, remaja atupun dewasa mengagumi atraksi yang Vefe peragakan. Khan hanya mengawasi dari kejauhan bersama guru dari perguruan.
Ada pemuda tanggung asli penduduk Amerika langsung masuk arena mengajak Vefe bertarung. Semua murid langsung bertepuk tangan dengan meriah. Mereka bersorak mendukung Vefe untuk menerima tantangan pemuda tanggung itu, "Come on fight with me!" teriaknya.
__ADS_1
"Ayo siapa takut!"