Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 234. Tempe Benguk


__ADS_3

Hari ini adalah pernikahan sederhana Eno dan Rian Santoso. Hanya di gelar dengan akad nikah serta berkumpul keluarga inti dengan menikmati hidangan makan siang bersama. Digelar di apartemen milik Eno dengan konsep yang sederhana.


Saksi pernikahan dari pihak mempelai wanita adalah Khan. Dulu awalnya Ayah Jose yang diminta untuk menjadi saksi. Hanya sayangnya Ayah Jose tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang ada di Manhatten.


Dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan seperangkat perhiasan emas lima belas gram. Semua berjalan lancar sampai ikrar pengucapan ijab kabul dengan satu napas. Disertai kesungguhan Rian Santoso yang selalu memuja istrinya dalam setiap pandangan.


Hanya sayangnya mempelai wanita sesekali masih melirik saksi nikah. Walaupun mendapatkan tatapan horor dari Vefe seolah Eno tidak memperdulikan. Bahkan yang di curi pandang sama sekali tidak memperhatikan karena matanya selalu memandangi Vefe yang terlihat anggun hari ini.


"Mengapa Mami selalu cantik dan anggun sih?" rayu Khan dengan berbisik di telinganya.


"Tidak perlu gombal, Papi tidak lihat pengantin wanita dari tadi melirik Papi terus?"


"Untuk apa melihat dia, membuat pemandangan menyeramkan saja."


"Eee Mbak Eno cantik lo dandannya."


"Tidak menurut Papi, yang tercantik hanya bidadari yang duduk di sebelah Papi saja."


Vefe hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Tahu betul jika Khan merayu karena tingkah pengantin wanita selalu melirik, "Sudah selesai menjadi saksi, ayo kita pindah dari sini!"


"Ayo ... menyusul Bunda saja itu ada di teras bersama Aaron!"


Pengantin pria sedang membaca janji nikah yang menjadi kewajiban suami, saat Khan dan Vefe meninggalkan tempat. Pengantin wanita masih melirik Khan sampai ke luar pintu apartemen.


Hanya keluarga Kakek Raharjanto yang belum hadir. Mereka masih dalam perjalanan pulang dari Wonogiri. Rencana akan bergabung setelah sampai di Jakarta.


Vefe mendapatkan pesan WA dari Tante Darwati tidak jadi hadir ke acara Eno. Karena Kakek Raharjanto tidak enak badan. Meminta untuk mampir setelah acara Eno selesai.


Saat membaca pesan, Vefe berdiri di samping Umi Maryam yang sedang menikmati snack, "Ada apa, Nak?"


"WA dari Tante Dar, mereka tidak bisa hadir ke sini karena Kakek tidak enak badan."


"Alhamdulillah," jawab Umi Maryam spontan.


"Eee ... Umi?"


"Maaf bukan maksud alhamdulillah karena sakit, tetapi karena tidak harus bertemu dengan kakek tua itu."

__ADS_1


"Ooo kirain Alhamdulillah karena kakek sakit."


Umi Maryam hanya menjawab dengan tersenyum sambil menggelengkan kepala. Tidak berniat bersyukur diatas sakit kakek kandung Vefe. Walaupun tidak suka dengan laki-laki mantan ketua anggota dewan, tetapi tetap ingin dia selalu sehat.


Khan mendekati Vefe setelah selesai menyapa putranya, "Siapa yang sakit, Mi?"


"Ini ... Papi baca sendiri!" Vefe memberikan ponsel miliknya.


Datang Mommy Astrid dan Daddy Kim Oen saat Khan sedang membaca pesan WA, "Ada apa, Nak?"


"Kakek tidak enak badan, Mom. Kita di minta ke sana setelah acara di sini selesai," jawab Khan.


Mommy Astrid langsung menghubungi Tante Darwati. Ingin mendengar cerita langsung dari adik dari ayah Vefe. Menyarankan untuk berobat ke rumah sakit jika diperlukan.


Sesaat setelah mematikan ponsel, Mommy Astrid berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Mengajak Daddy Kim Oen untuk berpamitan langsung dengan kedua mempelai. Berpamitan juga dengan kedua orang tua pengantin.


Setelah satu jam berlalu, Tante Darwati dan Mommy Astrid kembali menghubungi Vefe. Mengirim pesan jika kakek sangat merindukan baby Aaron. Kakek sudah tidak sabar ingin mendengar celotehan batita itu.


Sudah saatnya makan siang, namun kakek menolak untuk diajak makan. Dengan alasan masih belum lapar padahal harus minum obat. Menunggu cucu kesayangan datang dan ingin mengajak makan bersama.


"Ada apalagi, Mi?" Khan langsung membaca pesan yang ada di ponsel Vefe.


"Ayo kita ke sana sekarang, Pi!"


"Iya ... Papi pamit sama Bunda dan Umi dulu ya."


"Mami juga ikut, sekalian mengajak Aaron."


Khan, Vefe dan baby Aaron meninggalkan acara Eno yang belum selesai. Setelah berpamitan dengan Bunda Fatia dan Umi Maryam. Masih ada tamu keluarga dekat yang datang dalam acara itu.


Berpamitan langsung kepada kedua mempelai dan orang tua Eno, "Selamat Bro, semoga sakinah mawadah warohmah," kata Khan kepada Rian Santoso.


"Terima kasih, Bang."


"Selamat ya Mbak Eno, semoga bahagia," kata Vefe menyalami Eno dan melipatkan tangan di dada pada Rian Santoso.


"Terima kasih, Ve dan Mas Khan atas doanya," jawab Eno saambil terus memandang Khan.

__ADS_1


"Kami pamit dulu." Khan melipatkan tangan di dada untuk Eno.


Khan hanya cuek tanpa menanggapi tatapan mata Eno yang tidak tahu apa maksudnya. Menggandeng Vefe yang sedang menggendong baby Aaron. Sengaja memamerkan kemesraan saat berlalu dari pengantin wanita.


Bunda Fatia dan yang lain tidak bisa pulang terlebih dahulu. Mereka menjadi menerima tamu dan menjadi wakil tuan rumah. Berjanji akan segera menyusul ke rumah Kakek Raharjanto setelah acara selesai.


Baru masuk pintu utama rumah Kakek Raharjanto, Khan langsung disambut dengan menu masakan jawa. Makan sudah dipersiapkan dengan lesehan di ruang keluarga. Nasi khas wonogiri yaitu nasi tiwul dan semua lauk pendamping.


Mulai dari sayur lombok ijo, tempe benguk goreng, sayur tempe besengek ditambah ikan wader yang digoreng dengan tepung. Masakan yang dibawa dari Wonogiri langsung memang sengaja untuk Vefe dan Khan. Agar mengenal masakan khas dari kampung halaman keluarga Kakek Raharjanto.


Vefe mengambil nasi yang bercampur, "Ini yang namanya nasi tiwul?" tanya Vefe.


"Iya betul, Nak. Campuran dari singkong kering yang dihaluskan," jawab Kakek Raharjanto.


"Untuk lauknya itu namanya tempe besengek, olahan sayur yang dibuat dari bahan dasar tempe, cabe hijau, pete, dan kulit biji melinjo ini dipadukan dengan santan untuk mendapatkan citarasa yang gurih." Tante Darwati menunjuk sayur tempe besengek.


"Yang ini namanya apa, Tante. Sayur ini terlihat enak?" tanya Vefe lagi.


"Namanya sayur lombok ijo sayur yang mirip seperti sayur lodeh, ada tempe serta potongan cabe hijau yang dipotong miring, ditambah santan membuat rasanya jadi lebih sedap."


"Jangan lupa lauknya, Nak Khan itu tempe benguk goreng dan ikan wader goreng," kata Kakek Raharjanto.


"Kalau wader goreng ini dulu Khan sering makan saat di pondok, Ini sangat gurih sekali."


"Ini tempe gorengnya beda, dari bahan apa ini, Kek?"


"Itu dari koro benguk namanya, di fermentasikan seperti tempe yang terbuat dari kedelai. Rasanya berbeda dari tempe biasanya karena koro ini bentuknya lebih besar dibanding dengan kedelai."


Vefe menggigit satu tempe yang warnanya cenderung hitam itu, "Rasanya aneh tetapi gurih."


Kakek Raharjanto tertawa melihat reaksi Vefe, "Karena rasanya yang aneh itulah Kakek tidak suka tempe benguk itu, Nak."


"LIdah Kakekmu memang kebalik kok, Nak. Tempe benguk seenak itu katanya aneh. Tante saja sangat menyukainya," cerita Tante Darwati.


"Tadi Ve juga bilang rasanya aneh, Tante."


"Iya kah, sama dong berarti sama Kakek?"

__ADS_1


__ADS_2