
Vefe sudah berkeringat dingin saat Khan mengerim mendadak. Takut dia marah atau kembali ke butik untuk memaki si mantan idola yang sekarang menjadi security. Wajah Vefe sampai terlihat pucat saat mobil berhenti sempurna di inggir jalan.
"Ceritakan sekarang!" perintah Khan dengan wajah datar.
"Itu hanya pikiran anak SMA yang suka sama seorang idola sekolah, Mas. Tetapi si security itu tidak suka sama Vefe." Vefe bercerita dengan mnegerucutkan bibirnya karena Khan terlihat jutek.
Tanpa diduga Khan tergelak sambil menunduk dan mencium perut Vefe yang sudah membuncit, "Jadi Ve bertepuk sebelah tangan?"
Vefe semakin mengerucutkan bibirnya mendengar Khan menertawakan dirinya, "Mas ini, jaman dulu Ve cuma anak panti asuhan yang tidak memiliki apa-apa. Karena Ve suka idola, Ve di bully habis-habisan ... tau!"
"Maaf ... Sayang. Mas justru senang tidak ada laki-laki yang suka sama Ve. Karena Ve hanya milik Mas Khan seorang."
Vefe menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan merasa lega. Ternyata yang di khawatirkan tidak terjadi. Untung tadi saat bertemu si security tidak beriteraksi dengan dia langsung.
"Sekarang Ve masih suka sama dia?"
"Tidak dong, Mas. Cinta Ve hanya untuk Mas Khan seorang," jawab Vefe sambil menujukkan simbul cinta dengan menyilangkan jari jempol dan telunjuk.
__ADS_1
Khan tersenyum dan mengusap lagi perut Vefe. Ada gerakan dari dalam perut kemungkinan tendangan kaki dari bayi yang ada di dalam. Khan langsung menempelkan telinganya di perut, "Eeee bereaksi dia, kamu senang ya, Nak. Papi elus?" tanya Khan dengan sanagat bahagia.
Mobil berhenti di pinggir jalan raya. Saat Khan mendekatkan kepalanya ke perut Vefe mobil terlihat bergoyang dari luar. Membuat seorang polisi yang sedang lewat mencurugai ada sepasang kekasih yang sedang mesum.
Bersamaan Khan berbincang dengan bayinya. Bersamaan pula polisi mengetuk pintu mobil yang di sebelah kemudi, "Mas itu Pak polisi sedang ...?" Vefe tidak lagi melanjutkan ucapannya.
Khan langsung membuka pintu dengan cepat, "Ada apa Pak?"
"Permisi dan selamat malam, apakah Anda sedang ...?" Polisi tidak melanjutkan ucapannya setelah melihat Vefe yang duduk meluruskan kakinya dengan perut membuncit.
Polisi mengerutkan keningnya awalnya mengira sepasang kekasih yang sedang berbuat mesum. Sekarang mengira seorang ibu yang akan melahirkan. "Maaf Pak, saya kira saat melihat mobil bergoyang dari luar, kalian sedang berbuat esek-esek, ternyata seorang ibu yang akan melahirkan," kata Polisi sambil melipatkan tangannya.
Khan menahan tawa dan langsung turun dari mobil. Perpikir cara menjawab diplomatis atas ucapan polisi yang sedang mendekati mobilnya, "Istri saya kakinya bengkak, Pak. Jadi saya sedang mengurut kakinya. Mungkin itu yang membuat mobil terlihat bergoyang dari luar."
"Oooo apakah perlu ambulance untuk ke rumah sakit?"
"Tidak perlu, Pak terima kasih. Sebenarnya saya hanya memerlukan minyak kayu putih yang lupa tidak terbawa," jawab Vefe ikut memberikan alasan.
__ADS_1
"Minyak kayu putih ... Tunggu saya ada di kotak P3K!"
Pak polisi berlari mendekati mobil dan mengambil yang dibutuhkan ibu hamil. Dengan cepat kembali mendekati mobil Khan, "Ini saya ada minyak kayu putih, silahkan!"
"Terima kasih, Pak."
Khan langsung mengambil minyak katu putih dari polisi. Mengoleskan minyak kayu putih pada kedua kaki Vefe. Mengedipkan mata sambil tersenyum teringat kecurigaan polisi.
Setelah polisi berpamitan dan melanjutkan perjalanan. Khan dan Vefe tertawa terbahak-bahak. Pengalaman yang lucu dan penggelitik bagi keduanya malam ini.
"Ayo kita pulang, Mas!"
"Iya kita esek-esek di rumah saja kita buat kamar bergoyang, " jawab Khan sambil tergelak lagi.
Khan baru mengangkat satu kaki untuk naik mobil. Ada suara khas motor vespa model jadul yang mendekat. Laki-laki yang di juluki Vefe si security datang sok menjadi pahlawan.
"Tuan ...!" teriak Giofani.
__ADS_1
"Mas tutup pintu!" teriak Vefe.
Maksud Vefe menutup pintu setelah Khan naik mobil. Yang dilakukan Khan menutup pintu setelah dia turun dari mobil, "Kamua mengikuti kami?"