Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 123. Terapi Rileks


__ADS_3

Kali ini Khan gaal modusin istrinya. Niatnya merayu dan bisa berburu saat keluarga keluar kamar. Hanya sayangnya Umi Maryam dan Mpok Ria datang lagi dengan membawa satu bakom air hangat.


Vefe tergelak sambil menutup mulutnya saat wajah Khan cemberut, "Yaaaah gagal deh," bisik Khan di telinga Vefe.


"Sana ... Mas keluar saja menemui tamu," kata Vefe sambil mendorong tubuh Khan yang masih menempel.


"Ayo sini kakinya, Ve. Harus terendam sampai mata kaki ya!"


"Iya terima kasih, Umi."


Vefe memasukkan kakinya di baskom yang berisi air hangat dan diberikan sedikit garam. Khan masih melihat Vefe saat istrinya memejamkan mata merasakan hangatnya air. Diikuti Umi Maryam dan Mpok Ria juga melihatnya.


"Apakah rasanya enak, Sayang?"


"Waaah rasanya hangat, Mas. Membuat pikiran menjadi rilleks."


"Ikutan dong!"


"Eeee Nak Khan, baskomnya kecil nanti terinjak dong kaki Ve!"


Khan hanya nyengir kuda, kaki yang sudah diangkat tidak jadi dimasukkan ke dalam baskom. Awalnya hanya bercanda, tetapi dianggap serius oleh Umi Maryam. Lebih memilih meninggalkan kamar untuk menemui para tamu lagi karena pasti akan banyak yang menanyakan.


"Mas keluar dulu untuk menemui tamu ya, Sayang." Khan mengusap pipinya sebelum meninggalkan kamar.


"Iya Mas."


Merendam kaki selama seperempat jam lamanya. Sambil berbincang bertiga membicarakan banyak hal. Tidak henti-hentinya Umi Maryam bersyukur dengan kebahagiaan Vefe saat ini.


Setelah semua tamu sudah datang dan berpamitan pulang semua. Khan bergegas masuk kamar ketika melihat Umi Maryam dan Mpok Ria bergabung lagi dengan Bunda Fatia. Ingin melihat keadaan istri dan melanjutkan modusnya.


Vefe duduk di sofa panjang dan meluruskan kaki sambil melihat tayangan televisi, saat Khan masuk kamar dan memanggil namanya, "Sayang ...!"


"Ya ada apa, Mas. Apakah tamunya sudah tidak ada?"


"Sudah tidak ada, bagaimana dengan si gajah apakah sudah pergi?"


"Dia sayang sama Ve, cuma sedikit saja gajahnya yang pergi," jawab Vefe sambil tergelak.


"Enak aja tak satupun boleh sayang sama Ve, Ingat Ve hanya milki Mas Khan seorang."


"Sini Mas yang mengusirnya!" Khan mulai mengusap kaki Vefe mulai dari jari kaki.

__ADS_1


Vefe mengerutkan keningnya mendengar ucapan Khan yang nyeleneh, "Bagaimana cara mengusir kaki gajah?"


"Gampang banget dong, Sayang. Yang penting pikiran Ve menjadi rileks kemungkinan dia pergi?"


"Ve tidak tahu sih, Mas."


"Kalau ingin tahu ayo kita praktek ya sekarang!"


Khan jongkok langsung mencium bibir Vefe. Membuat Vefe kaget dan langsung mendorong dada Khan dengan sekuat tenaga, "Hhmm ...!"


"Ada apa, Sayang. Mas baru mulai ini?"


"Maksud Mas Khan mengusir gajah dengan berburu?"


Khan tersenyum devil sambil mengangguk. Sebenarnya sudah menahan rasa saat tadi sore. Baru bisa dilakukan setelah Umi Maryam dan Mpok Ria keluar kamar.


Khan kembali mengulangi mencium bibir Vefe yang terihat menggoda. Mulai mengabsen seluruh bagian yang ada dalam rongga mulutnya. Bergerlya tanpa memberikan jeda sampai keduanya hampir kehabisan pasokan oksigen.


Vefe tidak pernah bisa menolak pesona Khan saat beraksi. Kelembutan dan rasa cinta yang ditunjukkan suaminya. Selalu saja membuat Vefe melayang sampai atas awan.


Kelembutan yang ditunjukkan Khan saat berburu. Bermain ditempat favoritnya yaitu dua gungukan kembar, Khan selalu bermain dengan cantik. Membuat Vefe selalu menikmatinya dengan penuh penghayatan.


Sampai ke duanya di puncak nirwana, dilakukan di sofa panjang tanpa berpindah tempat. Khan langsung turun dari sofa agar membuat Vefe tidak merasa keberatan. Dia berjongkok kembali walaupun dia tanpa benang sehelaipun.


"Memangnya kenapa, Sayang?"


"Senjata tombak tomahawk milik Mas nanti menyentuh bawah lo!"


Khan tergelak dan memandangi ke arah bawah. Terlihat jelas senjata tombak tomahawk masih terbangun sempurna, "Tidak menyentuh kok, coba lihat?"


"Tadak mau palingan dia masih ada ilernya," jawab Vefe asal.


Khan tergelak lagi sambil melihat senjatanya, "Ini tidak cuma iler Mas aja lo, ada ilernya Ve juga, iya kan?" Vefe ikut tergelak dan mengangguk.


Keesokan harinya pukul sembilan pagi adalah jadwal anak-anak berwisata di Trans Studio Surabaya. Dengan terpaksa Vefe tidak ikut karena bengkak kakinya masih terlihat walaupun tinggal kecil. Dia harus banyak beristirahat agar kakinya normal kembali.


Yang ada dirumah hanya Khan, Vefe dan dua pembantu yang sedang memasak di dapur. Dua pembantu tidak ikut karena kurang enak badan. Security juga ikut berwisata bersama keluarga mereka.


"Apakah perlu di berikan terapi rileks lagi, Sayang?"


"Eee itu bukan terapi, Mas. Itu akal-akalan Mas Khan aja yang ingin berburu," jawab Vefe asal.

__ADS_1


"Itu terapi, nyatanya sekarang tinggal sedikit gajahnya. Yok kita ke kamar!"


Belum sempat meninggalkan ruang keluarga ada suara pintu gerbang di buka yang terdengar, "Siapa yang pulang lagi?" tanya Khan.


Khan mengitip dari balik horden melihat orang yang baru saja datang. Ada Cak Mus yang datang sambil membawa tas ransel di punggungnnya, "Sayang ... Sana masuk kamar dan istirahat, ada Cak Mus berkunjung. Kemungkinan dia mengajak main karambol!"


"Iya baik, Mas."


Vefe naik tangga menuju kamarnya saat Khan membuka pintu. Belum sempat Cak Mus menekan bel Khan sudah membukakan pintu, "Silahkan masuk, Cak!"


"Kon wes weroh aku teko ta?" tanya Cak Mus.


"Iya dari baunya sudah ketahuan Cak Mus yang datang."


"Waduh ... Apa bauku seperti bandot?"


"Iyo bandot tua," jawab Khan asal.


"Ini dari mana membawa tas ransel segala, Cak?"


"Dari Madura, ada saudara yang menikahkan anaknya, jadi maaf kemarin aku tidak bisa hadir di acara kalian."


"Tidak apa-apa yang penting doanya saja."


"Apakah sekarang masih mengejar si Eno, Cak?"


"Tidak ... Eno sekarang kerja menjadi manager di sebuah perusahaan ekspedisi, dia sering keluar kota."


"Jadi sekarang tidak mengejar dia lagi?"


Cak Mus bercerita ayah dari Eno yang bertanya langsung kepada Cak Mus. Dia bertanya untuk apa selalu mengejar putrinya. Ayahnya Eno mencurigai yang dilakukan oleh putrinya.


Cak Mus bercerita terus terang kepada dia bahwa sebenarnya itu karena Eno dan ibunya. Menceritakan dengan terus terang apa yang dilakukan putrinya terhadap Khan dulu.


Cak Mus langsung meminta maaf setelah satu minggu mengganggu Eno. Tujuannya agar Eno jera dan tidak melakukan hal yang menyalahi kodrat manusia. Agar Eno hanya percaya kepada yang maha kuasa saja.


Sedang asyik bercerita, kembali ada suara pintu gerbang terbuka. Pintu gerbang sengaja diberikan suara jika tidak ada security yang berjaga. Bertujuan jika ada orang asing masuk langsung diketahui kedatangannya.


Khan mengintip dari balik horden untuk melihat orang yang datang. Tanpa diduga yang baru dibicarakan datang mendorong pintu gerbang, "Cak ... Coba lihat, panjang umur dia, baru saja dibicarakan dia datang ke sini."


"Si Eno datang ke sini?"

__ADS_1


"Iya ... Cak Mus saja yang menemui dia, coba bagaimana reaksinya!"


"Betul juga, cepat sana kamu ngumpet!"


__ADS_2