
Dengan sabar Bunda Fatia menjawab pertanyaan Bu Eno. Di jelaskan jika tidak ada hubungannya Eno di pecat dengan perjodohan. Pemecatan semata karena kepribadian Eno yang tidak memiliki etika dalam lingkungan kantor.
Setelah Bu Eno pamit pulang, Vefe tertunduk di samping Bunda Fatia. Diusap rambutnya dengan lembut penuh dengan kasih. Dengan sabar Bunda Fatia menasehati Vefe agar tidak dimasukkan ke dalam hati perkataan Bu Eno.
"Yang penting perasaan Khan, Nak Ve. Bukan kata orang, hanya kamu pilihan satu-satunya putra Bunda. Jangan dipikirkan ucapan Bu Eno ya!"
"Apakah terlihat Ve merebut Mas Khan dari Eno, Bun?"
"Tidak dong, di sini Nak Ve harus bisa membedakan antara merebut versi Bu Eno dengan versi dari Khan, perjodohan itu hanya satu pihak yang setuju, jadi lebih tepatnya mereka tidak bisa menerima jika sebenarnya perjodohan sudah di tolak sejak lama."
"Mengapa si Eno itu selalu menyebut sudah di retui Bunda saat Ve bertemu dengannya?"
"Itulah permasalahannya, Nak. Bunda menyetujui Eno untuk berjuang mendapatkan hati Khan. Hanya mereka sendiri yang mengasumsikan perjodohan sudah disepakati."
Vefe mengangguk mulai memahami permasalahan dengan Eno. Obsesi karena di setujui untuk berjuang. Dimanfaatkan Eno untuk bisa mendapatkan restu itu agar orang lain tidak mendekati Khan.
Vefe mulai yakin sekarang tanpa ragu lagi. Mempersiapkan diri untuk menghadapi Eno jika bertemu lagi. Bisa memberikan alasan atau argumen yang tepat unuk menghadapi Eno jika masih menyalahkan atas takdir yang sudah ditetapkan oleh Ilahi Robbi.
Keesokan harinya pesta pernikahan di gelar di hotel bintang lima yang ada di Surabaya. Hampir mayoritas vefe tidak mengenal para tamu yang datang. Namun tidak menyurutkan Vefe untuk mengenal dan berbincang.
Pergelaran adat jawa tema pernikahan Vefe dan Khan. Semua berjalan lancar dan tanpa kendala. Tamu datang silih berganti mengucapkan selamat kepada mempelai.
Sampai hampir di akhir acara datang satu keluarga Eno lengkap ayah, ibu dan anak. Khan sedang berbincang dengan teman-temannya di bawah panggung. Diatas panggung hanya ada Vefe ditenami Freya. Ayah Jose dan Bunda Fatia duduk di samping kiri pelaminan.
Saat mereka melenggang ke atas panggung dan ingin mengucapkan selamat. Vefe sudah siap untuk hal yang buruk sekalipun. Menyiapkan mental untuk bisa menjawab apapun yang akan mereka ucapkan nanti.
Untungnya Bunda Fatia menyadari situasinnya, Dia langsung mendekati Vefe dan Freya yang sedang bercerita, "Sayang berdirilah, ada tamu yang akan mengucapkan selamat!" perintah Bunda Fatia.
Vefe berdiri sambil tersenyum, bahkan Freya juga ikut berdiri di samping Vefe. Yang pertama memberikan kata selamat adalah ayah Eno, "Selamat menempuh hidup baru."
"Terima Kasih, Pak." Vefe mengangguk dan melipatkan tangan di dada.
Ibu Eno mengekor di belakang Ayah Eno. Ikut melipatkan tangan di dada sambil mengucapkan selamat dengan suara terdengar jutek dan tidak ikhlas. Vefe tetap menjawab dengan tersenyum tanpa beban.
__ADS_1
Di saat terakhir Eno mengucapkan selamat dengan memeluk Vefe. Ketika berpelukan dia berbisik di telinga Vefe, "Aku masih bisa merebutnya dengan cara lain, hati-hati kamu," ancam Eno.
"Silahkan ... bangun dari mimpi," jawab Vefe sambil tersenyum.
Mereka bertiga turun dari panggung menuju tempat menu makanan prasmanan. Selesai mengambil menu makan, mereka berjalan mendekati meja Khan dan teman-temannya yang sedang berbincang. Langsung ikut bergabung dengan mereka.
Eno sengaja duduk di hadapan Khan. Menunjukkan senyuman seolah tidak pernah terjadi sesuatu kemarin. Wajahnya tetap menunjukkan rasa kagum, cinta dan memuja.
Khan hanya melengos tanpa mau memandang wajah Eno yang sok ramah. Lebih memilih memandangi ayah dan ibu Eno yang sedang menikmati nasi campur. Wajah mereka terlihat tanpa ekspresi dan terlihat datar.
Yang awalnya Khan dan teman-temannya bercerita dan bercanda. Mereka terdiam seolah kehabisan bahan candaan. Saat ada satu keluarga yang bergabung duduk diantara mereka.
Masih mengunyah makanan, Ayah Eno memandangi Khan. "Selamat ya Khan. Semoga kalian bahagia."
"Terima kasih, Paman." Khan menjawab sambil mengangguk.
Ibu Eno memandangi wajah Khan dengan tajam. Terlihat sekali wajahnya sangat kecewa. Tadi malam tidak bisa menemui laki-laki incaran putrinya semakin membuat wanita itu sangat kesal.
Khan hanya diam saja tanpa menjawab perkataan Ibu Eno. Pikirannya melayang di masa lalu. Sudah berkali-kali ditolak perjodohan itu tetapi tetap saja memaksakan.
Tidak ingin mengatakan hal yang tidak baik kepada orang tua. Apalagi saat ini dalam suasanan bahagia. Lebih memilih mengalah sebagai anak muda tidak ingin berdebat dengan mereka.
"Apa kurangnya Eno sih, Khan?" tanya Ibu Eno lagi.
Belum sempat Khan menjawab pertanyaan Ibu Eno. Khan melirik Eno yang makan sambil menunduk dengan perasaan yang kesal. Untungnya Ayah Eno yang menjawab pertanyaan istrinya, "Bu, cukup ... Jangan di permasalahkan lagi, ini namanya memang tidak berjodoh."
"Tapi Ibu merasa ...!" Ayah Eno langsung memotong jawaban Ibu Eno dengan suara tegas, "Apapun yang dirasakan Ibu dan Eno, itu tidak merubah apapun, Khan sudah resmi menikah sekarang, jadi lebih baik terima dengan ikhlas."
"Terima kasih, Paman." Khan tidak perlu menjelaskan apapun ayah dari Eno sudah menjelaskan semuanya.
"Sama-sama."
Khan melirik Vefe yang dari tadi memandang kearahnya terus-menerus. Wajahnya terlihat cemberut dan di tekuk. Khan tahu istrinya cemburu karena ada Eno duduk didepannya.
__ADS_1
Khan berdiri memundurkan kursinya, "Permisi, Saya di panggil Bunda dan istri."
Tanpa menunggu jawaban dari keluarga Eno dan teman-temannya. Khan melenggang pergi dan berjalan menuju panggung. Mendekati Vefe yang masih cemberut dan wajah yang ditekuk.
"Apakah istri Mas Khan yang cantik lagi cemburu?"
"Tidak ... Ve lagi kesal," jawab Vefe dengan suara jutek.
"Mengapa wajahnya jadi semakin cantik sih. Mas jadi pingin makan?"
"Makan sana di meja prasmanan, mengapa masih di sini?"
"Bukan makan itu, Sayang. Pingin makan Vefe, yok kita masuk kamar?"
Vefe mengerucutkan bibirnya, selalu saja otaknya menuju kearah perburuan liar. Suaminya selalu bisa membuat otaknya terbayang hal yang membuatnya melayang diatas awan. Mengingatnya saja hatinya tersenyum sendiri.
"Hayo lagi bayangin apa?" goda Khan sambil mengedipkan matanya.
"Mas Khan selalu membuat otak Vefe mesum," jawab Vefe dengan suara manja.
Khan tergelak sambil mengecup bibir Vefe sekilas. Lupa jika sekarang ini masih berada di pelaminan, seolah sedang berdua saja. Rasa cinta membuat hatinya selalu berbunga-bunga.
"Ayo cepat, kapak tomahawk sudah bangun!"
"Iiiih Mas ini, malu tahu dilihat orang."
"Sekarang sudah tidak cemburu lagi, 'kan?"
"Masih lah, jangan mengalihkan perhatian ya. Mengapa dari tadi tidak cepat ke sini saat dia duduk di depan, Mas Khan?"
"Mas masih berbincang dengan teman, Sayang."
"Tidak usah banyak alasan, Apakah Mas sengaja tebar pesona dengan wanita ganjen itu?"
__ADS_1