Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 224. Bujangan tetapi Tidak Perjaka


__ADS_3

Tiga hari setelah Ayah Jose kembali ke Manhatten sendirian. Bunda Fatia mengajak seluruh keluarga memenuhi undangan Pak Marsono. Acara lamaran resmi Rian Santoso dan keluarga.


Keluarga sederhana yang akan menjadi besan Pak Marsono datang dengan adat jawa. Membawa seserahan berupa pakaian wanita, kosmetik, perhiasan dan perlengkapan lainnya. Seperti tas, sepatu, bra dan pakaian dalam.


Ada juga makanan khas yang biasa selalu ada di acara hajatan pernikahan adat jawa. Mulai dari wajik, jadah, dan kue bolu. Buah-buahan dengan berbagai macam juga ada terutama buah pisang.


Yang paling unik lagi dari rombongan itu ada yang membawa boneka ayam jago. Ditambah dengan berbagai pernak-pernik yang memiliki nilai-nilai filosofis. Boneka ayam jago dihiasi dengan sangat cantik dari bahan yang berwarna-warni.


Vefe belum pernah melihat acara seperti adat jawa ini sebelumnya. Dia langsung berbisik kepada Khan yang ada di sebelahnya, "Pi ... kok ada boneka ayam jago yang dihias?"


"Itu adat jawa timur terutama daerah Sidoarjo, Lamongan dan sekitarnya."


"Apakah maksud dari simbul ayam jago itu, Pi?"


"Simbol jika calon mempelai pria masih perjaka, kalau mau ingin mengetahui lebih detailnya tanya Bunda saja!"


Bunda Fatia yang mendengar Vefe bertanya kepada Khan langsung ikut menjawab dengan berbisik, "Itu boneka ayam jago menandakan jika calon mempelai pria masih perjaka."


Bunda Fatia menjelaskan jika boneka ayam jago tersebut adalah simbol pengantin pria yang memiliki banyak kelebihan. Tradisi ini hanya khusus untuk mempelai pria yang masih perjaka, atau belum pernah menikah. Demikian juga bagi pihak perempuan belum pernah menikah.


Ayam jago mengandung makna bahwa calon mempelai pria benar-benar merupakan lelaki berkualitas dan bukan orang sembarangan. Siap berumah tangga dan bertanggung jawab sebagai kepala keluarga yang bisa melindungi keluarganya kelak.


Disamping itu ada nasihat perihal bagaimana menjalani hidup berumahtangga. Bahwa manusia itu wajib berhati-hati dalam menjalani kehidupan meski dalam keadaan sulit. Melakukan pekerjaan tetap harus hati-hati, agar selalu cukup rejeki untuk keluarga.


Hidup harus berpegang teguh pada agama dan selalu rajin beribadah. Juga jangan sampai lupa jasa-jasa orangtua yang telah merawat dan membesarkannya hingga akhirnya sekarang hendak berumahtangga sendiri. 


Saat Bunda Fatia bercerita dengan berbisik. Vefe fokus dengan cerita Bunda Fatia yang mengatakan simbol untuk perjaka.


"Bagaimana kalau calon mempelai pria bujangan tetapi tidak perjaka, apakah juga harus membawa boneka ayam jago, Bun?"


"Eee ...?" Khan kaget dengan pertanyaan Vefe.


"Nak Ve ini ada-ada saja, kalau masalah itu Bunda juga tidak tahu," jawabnya sambil tersenyum menggelengkan kepala.

__ADS_1


Mereka tidak melanjutkan ceritanya karena acara dimulai. Ada perwakilan dari calon mempelai pria yang mengatakan niat dan kedatangan mereka. Disamping silaturahmi juga melamar Retno Wulandari menjadi istri Rian Santoso.


Dilanjutkan dengan penerimaan dari calon mempelai wanita yang diwakili oleh Asisten Satria. Bertanya kepada Eno sekali lagi tentang lamaran dari keluarga Rian Santoso sebelum Asisten Satria melanjutkan menjawab lamaran itu.


"Eno ... apakah kamu terima lamaran Bang Rian?" tanya Asisten Satria.


Eno awalnya menunduk dan terediam. Kemudian melirik Khan dan Vefe yang menatap tajam mata Eno. Bergantian memandang Rian Satoso yang menatap wajah Eno dengan tatapan berbinar penuh cinta.


"Iya saya terima lamaran, Bang Rian."


"Alhamdulillah ...." Ucap syukur dilakunan oleh semua keluarga.


Asisten Satria melanjutkan menjawab jika sudah diterima mewakili keluarga Eno. Keluarga dari Rian bertanya tentang hari yang baik untuk pernikahan. Karena seperti adat jawa pada umumnya mereka selalu mencari hari baik untuk acara baik.


Pak Marsono teringat pesan dari Ayah Jose beberapa hari yang lalu. Untuk melaksanakan akad nikah satu hari sebelum persidangan Toni Prawira. Kemarin Eno pun juga setuju dengan rencana itu.


"Tunggu ... Eno ingin akad nikah dilaksanakan hari Minggu besok dengan sederhana saja, sisanya jika keluarga Bang Rian ingin mengadakan acara resepsi Eno ikut saja."


Keluarga dari Rian Santoso tertawa bersama. Mereka mengira Eno juga sangat mencintai Riana Santoso. Menganggap jika Eno sudah tidak sabar ingin segera bersatu dengan calon suami.


"Alhamdulillah ... calon pengantin sangat mencintai Bang Rian."


"Atau pingin cepat bulan madu?"


"Pingin cepat malam pertama dong tentunya."


Masih banyak lagi komentar mereka tentang tanggal akad nikah yang diminta Eno. Sedangkan Eno hanya nyengir kuda sambil terus memandang Rian Santoso yang tergelak. Tatapan mata yang terlihat memuja dan sangat mencinta selalu ditunjukkan.


Setelah mengadakan diskusi disepakati acara resepsi akan di bicarakan setelah akad nikah selesai. Akan dilakukan di Jakarta walaupun Eno tidak memiliki banyak saudara. Kemungkinan keluarga dari Rian Santoso yang akan menyelenggarakan resepsi.


Acara dilanjutkan dengan menyerahkan seserahan secara simbolis kepada calon mempelai wanita. Tidak lupa penyerahan simbol boneka ayam jago yang diserahkan langsung kepada ayah dari calon mempelai wanita. Serta menyematkan cincin di jari manis Eno sebagai tanda pengikat.


Mereka makan bersama setelah serangkaian acara selesai. Menikmati hidangan makan malam yang sudah dipesan di restoran yang ada di lantai bawah apartemen. Sambil berbincang dan memperkenalkan diri sebagai keluarga baru dengan akrab.

__ADS_1


Vefe meminta izin untuk ke kamar mandi sebelum mengambil hidangan makan malam. Tanpa sengaja mendengar perbincangan Eno dan Ibunya, "Mengapa kamu percepat akad nikah kamu, Nak?"


"Mengapa sih Bu. Apakah Ibu masih tidak setuju Eno menikah dengan Bang Rian?"


Vefe mengintip wajah Ibu Eno ditekuk dan kesal. Kemungkinan wanita paruh baya teman Bunda Fatia itu masih belum mau merestui penikanan putrinya. "Mengapa saat acara tadi diam saja tidak mau mengatakan keberatan?" gumam Vefe.


"Bukan Ibu tidak setuju, Nak. Ibu masih belum rela Eno menikah dengan laki-laki kalangan biasa."


"Sudahlah, Bu. Jangan dibahas lagi." Eno ingin meninggalkan ibunya yang berdiri di balkon apartemen. Baru beberapa langkah ibu memanggilnya kembali, "Eno!"


"Apalagi sih, Bu?"


"Eno belum menjawab pertanyaan ibu tadi!"


"Eno ingin sudah menikah saat sidang itu di gelar, Eno ingin menunjukkan pada Bang Toni dan May kalau Eno ini tidak seperti yang dia katakan."


"Toni mengatakan apa?"


"Dia mengatakan tidak ada yang akan menikah dengan Eno kecuali Bang Toni."


Vefe mengarutkan keningnya mendengar tujuan Eno meminta hari akad nikah. Pernikahan dijadikan ajang pembuktian karena sakit hati. Tidak menganggap ijab kobul adalah hal yang sakral.


Pernikahan akan dijalankan sempai seumur hidup. Bukan untuk main-main dan bukan untuk mengubah status semata. Melainkan pernikahan adalah termasuk menjalankan ajaran agama.


"Jadi kamu ingin memamerkan pada laki-laki brengsek itu dipersidangan?" tanya Ibu Eno.


"Iya ... Eno ingin sudah menikah saat bertemu dia pertama kali."


Vefe langsung datang mendekati Eno dan ibunya, "Apakah itu tujuan Mbak Eno menikah?"


BERSAMBUNG


ayo mampir ke novel teman author yang rekomen banget ini, ada di novel toon juga kok, terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2