
Mata Khan mulai memerah karena menahan amarah. Sikap tengil si Bahar dan alasan hanya untuk sekedar menemani Vefe sangat terlihat jika dia masih tertarik kepada istrinya. Wajahnya yang terlihat tanpa merasa bersalah membuatnya semakin kesal.
Vefe yang menyadari Khan semakin emosi dengan spontan mempunyai ide untuk meredamkan emosinya. Vefe langsung berbisik di telinga suaminya, "Mas ... Nanti sebelum kita babymoon apakah Ve boleh meminta sesuatu?"
Mata Khan yang awalnya memerah saat melihat Bahar. Kini berubah menjadi tatapan penuh cinta untuk istrinya. Permintaan istrinya suatu kebahagiaan tersendiri bagi Khan karena bisa menuruti keingnan si jabang bayi.
"Katakan Sayang, apa yang Ve inginkan?"
"Ve ingin makan ketupat Kandangan, dari kemarin terbayang terus nikmatnya makanan itu."
"Sayang ... Mengapa dari kemarin tidak bilang, kita bisa langsung terbang ke Kalimantan Selatan untuk makan siang di sana?"
Vefe hanya nyengir kuda mendengar jawaban Khan. Untuk makan siang harus terbang dulu ke Kalimantan. Sungguh pemikiran yang sangat bertolak belakang.
Jika Vefe pasti akan memperhitungkan biaya perjalanan dan lain-lain. Beda dengan pemikiran Khan, hanya untuk makan siang saja dan mungkin harga menu makanan tidak seberapa. Akomodasi untuk berangkat ke sanalah yang tidak pernah diperhitungkan oleh Khan.
"Maksud Ve, sebelum kita ke Singapura transit sebentar untuk makan ketupat kandangan, jadi tidak ...?"
Vefe langsung menghentikan ucapannya karena Khan langsung mengecup pipi Vefe di depan Bahar dengan gemas, "Jangan pikirkan tentang jarak dan biaya akomodasi, lain kali jangan di tahan apapun yang Ve inginkan, mengerti?"
Bahar langsung cemberut dan terlihat kesal. Melihat Khan dengan sengaja mengecup pipi istrinya, "Yaah mengapa bermesraan di depan Bahar, bikin ngiri saja, cabut saja deh!"
"Sono minggat jauh-jauh!" Khan mengayunkan kakinya menendang angin.
Bunda Fatia hanya menggelengkan kepala karena tingkah Khan yang seperti anak kecil saat menghadapi Bahar, "Dia masih anak-anak Khan, tidak perlu ditanggapi serius."
"Kalau dibiarkan nanti ngelunjak, Bun."
Selesai menikmati hidangan yang di sediakan kedua mempelai. Khan bercerita akan melakukan babymoon ke Singapura. Mengajak dua pasangan pengantin untuk berbulan madu.
Khan juga bercerita kepada Bunda Fatia tentang ngidamnya Vefe. Kepingin makan hidangan khas kalimantan selatan. Ketupat Kandangan yang pernah diceritakan oleh Bu Maya.
"Dari kemarin Bunda sudah mencurigai kalau Nak Ve pingin itu, tetapi dia tidak mau mengakui, kenapa sih, Nak?"
__ADS_1
"Ve tidak enak, Bun. Tempatnya jauh sekali, tetapi dari kemarin makanan itu selalu saja terbayang di mata Ve," jawab Vefe sambil tersenyum.
"Tadi Khan juga sudah ngomong begitu sama Ve, Bun."
"Jangankan ke Kalimantan, Nak. Bunda dan Ayah pernah datang ke Malaysia hanya untuk makan malam saja," cerita Bunda Fatia.
Vefe kembali tersenyum mendengar cerita Bunda Fatia. Kehiupan keluarga yang sangat sempurna membuatnya menjadi manusia yang paling beruntung. Tidak pernah menyangka kehidupan akan sesempurna ini. Semoga kehidupan masa kecil tidak akan dialami olehnya dan putranya nanti.
Hanya satu jam Vefe dan Bunda Fatia serta Nina dan buah hatinya pulang. Khan dan Asisten Satria tetap ada di gedung acara resepsi pernikahan. Menjadi penerima tamu dan mewakili dua pasangan pengantin
Pukul lima sore acara resepsi dua bujang lapuk selaesai. Khan baru memberikan kado untuk sahabatnya, "Kalian siap-siap untuk bulan madu ke Singapura, kita berangkat pukul enam sore!"
"Alhamdulillah kita bulan madu di Singapura untuk berapa hari?" tanya Wahono.
"Tiga hari saja, bersiaplah!"
"Ok siap, apakah akomodasi hotel sekalian?" tanya Aan penasaran.
"Aku sudah booking villa, kita tinggal di sana."
"Aku akan babymoom, sekalian kalian bulan madu. Asisten Satria dan istrinya liburan keluarga," jawab Khan dengan jelas.
"Saya juga ikut, Tuan?" tanya Asisten Satria.
"Iya ajak Mbak Nina dan anak-anak. Aku juga mengajak Pak Gun dan istrinya serta dua security dan keluarga."
"Waaah ini namaya wisata keluarga dong." Wahono langsung menyahut.
Sampai sana nanti tujuan masing-masing, berangkatnya satu pesawat dan tinggal juga di villa."
"Baik yang penting kita bulan madu di Singapura," jawab Aan dengan tersenyum senang.
"Oya satu lagi, nanti kita transit dulu untuk makan malam di Kalimantan Selatan."
__ADS_1
"Haah, ke Kalimantan Selatan hanya makan malam saja?" tanya Aan kaget.
"Istriku ngidam pingin makan ketupat Kandangan."
Wahono menggelengkan kepala, "Sultan maaah bebas, tidak masalah kita transit dan makan malam di sana, yang penting kita bisa bulan madu gratis."
Pukul enam sore mereka berkumpul di bandara Soekarno Hatta. Dengan pasangan masing-masing naik pesawat pribadi milik kluarga Bunda Fatia. Sekitar dua jam perjalanan melalui udara mereka sampai di Kalimantan Selatan.
Yang turun dari pesawat hanya Vefe, Khan dan Bunda Fatia saja. Sisanya lebih memilih untuk tinggal di pesawat dan beristirahat. Merka hanya treansit selama satu jam.
Senyum Vefe selalu mengembang saat dalam perjalanan menuju kadai ketupat Kandangan yang tidak jauh dari bandara. Mereka langsung memesan tiga porsi untuk bertiga. Ditambah es jeruk manis sebagai pelengkapnya.
Jika dilihat dari bahan dan kondimennya, ternyata kuah ketupat Kandangan seperti mangut lele. Hanya bedanya mangut lele bercita rasa pedas dari cabai dan menggunakan kunyit. Jika ketupat Kandangan rasa pedasnya dari sahang atau lada dan berwarna putih.
Rasanya sangat legit dn lembut dilihah saat ketupat digigit. Gurih santan berpadu ikan haruan yang dipanggang rasanya sangat enak. Satu porsi dinikmati oleh Vefe seperti kurang.
"Mas ... Ve boleh tambah ikan haruannya saja?" kata Vefe sambil tesenyum.
"Enak sekali Kah, Nak?' tanya Bunda Fatia.
"Iya Bun, rasa ikan yang di panggang seperti mangut lele, Ve sangat suka."
Khan memanggil pelayan kedai untuk meminta tambah satu porsi tanpa ketupat. Dengan disajikan di mangkuk ikan haruan bersantan. Vefe langsung menikmati tanpa sisa satu mangkuk sendirian tanpa sisa.
Khan tersenyum melihat istrinya makan dengan lahap. Keringat sampai membasahi wajahnya, "Keringatnya sampai membasahi wajah, sini Mas lap dulu!"
Vefe tersenyum sambil memajukan badannya. Dengan lembut Khan mengusap keringat dengan sapu tangan, "Mau nambah lagi, mumpung masih di sini?"
"Sudah kenyang, Mas."
Tepat satu jam berlalu Khan, Vefe dan Bunda Fatia kembali ke Pesawat. Para kru dan teknisi mempersiapkan untuk terbang. Pramugari mulai menghitung penumpang.
Tanpa diduga Wahono yang tidak ada di tempat duduknya. Pramugari yang sedang menghitung bingung karena pintu tidak dibuka sama sekali. Dibuka hanya saat pemilik pesawat naik dan turun untuk makan malam.
__ADS_1
Aan ikut kelabakan mencari sahabatnya. Dewi istrinya juga ikut bingung padahal tadi berpamitan ke toilet saja, "Dewi ... suami kamu ke mana ?" tanya Aan khawatir,
"Tidak tahu, Bang. setengah jam yang lalu dia pamit ke toilet."