Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 241. Lahir dan Duka


__ADS_3

Bayi perempuan mungil dengan berat dua koma enam kilogram lahir dengan lancar. Erina tidak membutuhkan waktu lama untuk melahirkan. Dari terasa sampai bayinya lahir tidak sampai membutuhkan waktu dari tiga jam.


Semasa kehamilan, Erina sangat rajin olahraga, jalan pagi serta tidak pernah absen senam hamil. Pekerjaan tidak pernah ditinggalkan walaupun perut sudah membuncit. Sehingga membuat lebih lancar dan mudah untuk melahirkan.


Tanpa drama, tanpa harus didampingi suami, Erina dengan mudah dan lancar melahirkan putri kecilnya. Saat Daniel masuk ruang bersalin, ayah baru itu langsung mengumandangkan azan dan iqomah di telinga si kecil dengan lirih.


"Ini bayinya Mami Ve!" Daniel menggendong bayi mungilnya keluar dari ruang bersalin setelah bersih dan cantik.


Yang sangat antusias Khan karena bayinya perempuan. Ingin sekali memiliki bayi perempuan dalam waktu dekat, "Sini Papi Khan saja yang gendong, Papi Khan juga ingin punya putri cantik seperti dia!" Tanpa canggung Khan menggendong bayi Erina yang baru lahir.


Vefe tersenyum dan mendekatkan baby Aaron pada wajah bayi yang digendong Khan, "Adik cantik siapa namanya?"


"Cantika Erinda Daniella," jawab Daniel.


"Adik Cantika selamat datang." Vefe mentowel pipi bayi mungil yang terlelap dalam dekapan Khan.


Bersamaan Khan dan Vefe ada di depan ruang bersalin. Kebetulan pasangan Aan dan Mursida sedang periksa kandungan. Bayi yang ada dalam kandungan Kak Mur juga perempuan. Akan semakin membuat Khan bersemangat menambah momongan.


Setelah Erina dipindah di ruang rawat inap. Mereka berkumpul dan berbincang sambil mengucapkan selamat atas bayi yang lahir selamat. Sampai sore hari mereka berpamitan pulang untuk beristirahat setelah orang tua Daniel datang berkunjung.


Kelahiran, kematian, umur, jodoh dan hidup adalah rahasia Ilahi Robbi yang tidak bisa ditebak oleh insan yang ada di bumi. Saat baru keluar dari rumah sakit, mobil Aan dan Kak Mursida tanpa sengaja di sambut truk dari belakang.


Truk yang bermuatan beras oleng saat menghindar sebuah sepeda motor yang menyalip dari sebelah kanan. Rem langsung tidak bisa dikendalikan dan menghantam mobil yang dikendarai Aan. Tepat di gerbang pintu utama rumah sakit kejadiaan naas itu terjadi.


Suara benturan keras terdengar dengan jelas. Jeritan Kak Mursida yang kaget. Berpadu teriakan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu. Mobil yang di tumpangi Aan dan Kak Mur ringseng bodi bagian belakang. Sedangkan mobil bagian depan menghantam trotoar yang ada disamping gerbang.

__ADS_1


Brankar tempat tidur rumah sakit langsung di dorong mendekati TKP. Aan sama sekali tidak bergerak terjepit bodi mobil dan kursi. Kak Mur pingsan sesaat setelah melirik suaminya yang tidak bergerak.


"Cepat selamatkan ibu dan bayinya dulu!" teriak salah satu Security yang mendorong brankar tempat tidur.


Banyak sekali yang membantu evakuasi korban. Sopir truk juga terjebit antara setir dan pintu yang patah. Hanya kernet truk yang duduk di bak belakang yang selamat karena saat kejadian dia sempat loncat dari bak.


"Ayo kita angkat ibu hamilnya terlebih dahulu, dia masih bernapas!" Salah satu Perawat memeriksa nadi lengan Kak Mur.


Tubuh Kak Mur diangkat dan dibaringkan di brankar tempat tidur dalam keadaan pingsan. Yang kedua memeriksa tubuh Aan yang tidak bergerak sama sekali dan masih dalam posisi duduk. Perawat memeriksa nadi yang ada di lengan Aan.


"Innalilahi wa inna ilaihi rojiun, sopirnya tidak terselamatkan," kata Perawat.


Saat kejadian Khan dan Vefe masih ada di dalam parkiran rumah sakit. Masih menunggu giliran keluar dari tempat parkiran karena bersamaan banyak kendaraan yang akan keluar. Saat perawat mengatakan sopir tidak selamat bersamaan Khan datang dan mendengar ucapan perawat.


"Aan ...!" teriak Khan.


"Iya dia temanku, bagaimana dengan istrinya?"


"Istrinya selamat dan sudah dibawa ke ruang UGD."


"Sopir truk juga tidak selamat, jadi korban meninggal dunia ada dua orang!" teriak Security yang baru saja memeriksa keadaan truk.


Pihak yang berwajib datang dan mengambil alih TKP. Menyelidiki kejadian dibantu para saksi dan warga yang rela membantu evakuasi. Masih banyak warga yang perduli dan membantu pihak yang berwajib atau korban.


Khan dan Assten Satria langsung menghubungi keluarga. Wahono dan anggota sasana tinju. Keluarga Pak Misbah dan Bu Maya yang saat in berada di Kalimantan.Serta keluarga Aan yang berada di Bogor juga mulai dihubungi.

__ADS_1


Saat itu juga Kak Mursida langsung dibawa ke ruang operasi. Dokter memutuskan untuk menyelamatkan bayinya yang terkena benturan di perut. Khan dan Asisten Satria yang dimintai pertimbangan saat dokter bertindak cepat.


"Bagaimana ini, Pi. Kak Mur bagaimana keadaannya?" tanya Vefe.


"Dia masih belum sadarkan diri, Mi. Kata saksi yang melihat kejadian itu, Kak Mur pingsan sesaat setelah melihat Aan yang tidak bergerak."


"Apakah mungkin Kak Mur sudah tahu kalau Bang Aan tidak selamat, Pi?"


"Mungkin saja, kita tunggu saja, Mi."


Khan dan Vefe duduk di depan kamar operasi menunggu Kak Mur. Asisten Satria yang mengurus semua keperluan yang lain. Termasuk kepulangan jenazah Aan yang sekarang ini masih di kamar mayat.


Satu persatu keluarga Aan datang dari Bogor. Bersamaan bayi yang lahir selamat setelah operasi Caecar. Jenazah Almarhum Aan dibawa pulang di kediaman yang tidak jauh dari rumah sasana tinju milik Wahono.


Hanya sayangnya Kak Mur belum sadar dari obat bius paska operasi. Masih terbaring lemah di ruang rawat inap dengan ditemani oleh Vefe dan Dewi istri Wahono. Bayi juga masih berada di ruang bayi dalam keadaan sehat.


Kesepakatan keluarga, jenazah Almarhum Aan langsung di makamkan sore itu juga. Tidak menunggu Kak Mur sadar dari operasi. Dokter juga tidak mengizinkan Kak Mur berjalan paska operasi pasti harus opservasi terlebih dahulu.


Suasana duka di rumah Kak Mur sangat terlihat. Suami pulang ke haribaan ilahi tanpa ada istri tercinta. Melepas kebergian dengan linangan air mata.


Tidak ada yang menyangka, tadi siang masih bercada dan bersama menikmati indahnya waktu. Sore ini terpaksa harus mengantar ke peristirahatan yang terakhir. Umur seseorang tidak ada yang bisa mengetahui kapan akan berakhir.


Bayangan tawa dan perkataan seolah masih berada di pelupuk mata. Namun sekarang sudah berbaring dan berpulang ke hadapan yang maha kuasa. Seolah tidak bisa diterima dengan akal dan pikiran.


Sekarang ini tidak ada yang bisa membayangkan bagaimana menghadapi Kak Mur nanti. Suaminya sudah tidak berada di sisinya lagi. Besama kehadiran putri kecilnya lahir ke dunia. Namun suaminya meninggalkan dan pergi untuk selamanya.

__ADS_1


Siapa yang akan sanggup untuk menyampaikan duka ini pada Kak Mur. Hampir semua keluarga dan sahabat tidak ada yang tega. Kelahiran, kematian, Umur, nasib jodoh dan takdir hanya Ilahi Robbi yang maha tahu.


__ADS_2