Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 56. Mendadak Ke Manhatten


__ADS_3

Khan tidak menunggu hari Sabtu berangkat ke Manhetten, New York. Pesawat hanya transit selama dua jam di Bandara Internsional Sukarno Hata. Tidak ingin di jodohkan terus-menerus dengan wanita yang selalu membuat trauma.


Khan berangkat juga tidak mengabari Bunda Fatia dan Ayah Jose. Emosinya yang memuncak seolah tidak bisa dia tahan lagi. Meninggalkan pekerjaan yang menumpuk begitu saja kepada Asisten Satia.


Tidak sempat berpamitan kepada Vefe secara langsung. Dia hanya mengirim pesan lewat telegram dengan alasan sedang bekerja di luar kota. Tidak mengatakan berapa hari keluar kotanya.


Emosi Khan sudah di ubun-ubun selalu saja Bunda Fatia berusaha menjodohkan dirinya. Khan sebenarnya tahu tujuan Bunda Fatia baik yaitu agar traumanya hilang. Agar bisa berinteraksi seperti pemuda kebanyakan.


Khan rela menempuh perjalanan hampir 20 jam menggunakan pesawat pribadi. Hanya untuk menghentikan perjodohan demi perjodohan yang selalu di lakukan oleh Bunda Fatia.


Sampai di Manhatten waktu pukul dua dini hari. Khan tidak membangunkan Bunda Fatia yang masih terlelap. Ada Ayah Jose yang sedang tertidur sambil memeluk Bunda Fatia di sampingnya.


Khan ikut bergabung tidur di samping Bunda Fatia. Khan juga memeluk Bunda Fatia seperti Ayah Jose. Sehingga Bunda ada di tengah di peluk putra dan suaminya.


Menjelang subuh Bunda Fatia mengerjapkan mata. Ada dua laki-laki kesayangan sedang memeluk dirinya, "Nak ... Kapan datang?" tanya Bunda Fatia dengan suara serak khas bangun tidur.


Ayah Jose juga ikut terbangun, "Khan ... Mengapa memeluk istri Ayah?"


"Khan lagi kesal sama istri Ayah," jawab Khan sambil lebih mengeratkan pelukannya kepada Bunda Fatia.


"Eee enak aja katanya kesal, tetapi memeluk Bunda semakin erat sana jauh!" Bunda Fatia pura-pura kesal juga.


"Biarin aja, kalau Bunda tidak menghentikan perjodohan, Khan akan terus memeluk Bunda."


"Dengan siapa lagi Bunda akan menjodohkan Khan?" tanya Ayah Jose.


"Tidak tahu, Ayah. Kata Bunda dengan wanita bercadar."


"Bunda ...?" tanya Ayah Jose.


Ayah Jose bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Mengusap lengan Bunda yang masih dalam pelukan Khan. Rasanya Ayah Jose sedang berhadapan dengan masa lalunya sendiri saat melihat Khan.


Teringat bertahun-tahun lamanya tidak bisa berdekatan dengan wanita karena melihat ibu kandungnya di gagahi mantan tangan kanan ayahnya sendiri. Bisa sembuh hanya dengan sentuhan lembut tangan Bunda Fatia saat itu.


"Bun ... cukup, jangan jodohkan putra Ayah terus. Suatu saat nanti pasti putra kita akan mendapatkan jodohnya sendiri."

__ADS_1


"Tapi kapan, Yah?"


"Tenang aja, Bun. Sebentar lagi akan dapat," jawab Khan sekenanya.


Spontan Bunda Fatia bangun dan duduk sambil memegangi dahi Khan, "Khan tidak sedang mengigau, Kan?"


"Eee malah keceplosan." Khan menutup mulutnya sambil menutup wajahnya dengan gulung.


Bunda Fatia membuka guling yang ada di wajah Khan. Menatap putranya yang masih terlihat malu dan tersenyum simpul, "Katakan yang jujur, apakah Khan sudah menemukan calon menantu Bunda?"


"Khan tidak akan bercerita, sebelum Bunda batalkan dulu yang sekarang akan di jodohkan untuk Khan!"


"Aaah Bunda tidak percaya, nanti hanya akal-akalan Khan saja, agar bisa menghindari perjodohan."


Khan mendekati Ayah Jose sambil cemberut, "Ayah ... Tolong bantu Khan dong!"


"Bun ...!" Ayah Jose mengedipkan matanya kepada Bunda Fatia.


"Apakah Ayah percaya, sama Khan?" tanya Bunda Fatia.


"Eee tunggu Khan, Bunda belum selesai bicara!"


"Tidak ... Khan akan mengadu saja sama yang di atas."


Khan melenggang keluar kamar ke dua orang tuanya. Menuju mushola kecil yang ada di samping runag keluarga. Menunaikan kewajiban yang tidak pernah di tinggalkan selama ini.


Khan berlari mengitari komplek lingkungan rumah Ayah Jose saat matahari sudah mengintip di ufuk timur. Lebih memilih mengalihkan emosinya dengan berolahraga. Ini demi teralihkan emosinya dan tidak ingin marah dan durhaka kepada kedua orang tua.


Selama ini Khan selalu menghormati dan menyayangi dengan tulus ke dua orang yang melahirkan dirinya. Menolak perjodohan secara halus. Agar tidak di cap sebagai anak durhaka.


Khan sangat takut jika di bilang anak durhaka. Dari dulu selalu menuruti apa yang di peritahkan Bunda Fatia kecuali perjodohan. Sering Khan bingung harus berbuat apa tentang hal yang satu ini.


Sampai waktunya sarapan pagi, Khan tidak bisa menghindar lagi. Di tanya tentang orang dekat dengannya saat ini oleh ke dua orang tua, "Khan ...." Bunda memanggil dengan pelan.


"Ada apa, Bun?"

__ADS_1


"Cerita dulu, apakah Khan sudah memiliki orang yang bisa mengobati trauma itu, Nak?"


"Khan tidak akan bercerita sampai Bunda mencabut semua perjodohan, dari Eno, Sania, sekarang wanita bercadar dan entah siapa lagi?"


"Bunda sebenarnya sudah putus asa karena Khan selalu menolak wanita cantik, maka itu Bunda berencana menjodohkan dengan wanita bercadar."


"Maksud bunda Apa?" tanya Ayah Jose.


"Kalau Khan tidak melihat wajah wanita itu, kemungkinan Khan tidak akan mengalami trauma lagi, betulkan, Yah?"


"Pokoknya tetap tidak, Bun. Khan akan mencari sendiri, Khan ingin berpacaran dengan wanita yang Khan suka. Seperti Ayah mencintai Bunda."


"Tapi, Nak. Maksud Bunda ...?"


"Cukup dong, Bun. Kalau Bunda tidak mengabulkan permintaan Khan, lebih baik Khan tidak usah menikah saja." Khan kesal dan mulai ngambek.


Ayah Jose hanya menggelengkan kepala sambil melihat Bunda Fatia dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Ayah Jose menyadari Bunda tidak pernah mengalami trauma. Dia hanya mendengarkan cerita dan mengobati trauma.


Berharap mendekatkan wanita kepada putranya agar traumanya hilang. Ingin melihat putranya bisa bersikap normal seperti pemuda yang lain, "Baiklah, Bunda akan membatalkan perjodohan dengan wanita bercadar."


"Alhamdulillah," jawab Khan dengan senyum mengembang.


"Naaah begitu dari kemarin dong, Bun. Putra kita tidak uring-uringan terus." Ayah Jose juga merasa lega.


"Tetapi Khan harus menepati janji, mencari jodoh sendiri, tidak boleh berniat akan membujang seumur hidup," pinta Bunda Fatia.


"Janji, Bun. Jangan lupa batalkan sekalian itu Sania dan Eno!"


"Berikan alasan yang masuk akal untuk membatalkan dua wanita yang tergila-gila pada Khan!"


Khan menceritakan tentang ulah Sania Parwati dan Retno Wulandari. Tentang obsesinya yang sangat mengganggu kehidupan sehari-hari. Dan menceritakan pula tentang Sania Parwati yang membuka kafe Sanpar dekat perusahaan.


"Apakah ada alasan khusus, Khan baru menolak mereka sekarang ini?" tanya Ayah Jose.


"Sebenarnya sudah lama Khan menolak mereka, Yah. Mereka saja yang selalu mengejar Khan."

__ADS_1


"Jawab dulu dong, Nak. Pertanyaan Ayah Jose. Alasan khusus apa yang membuat Khan yakin menolak mereka?" tanya Bunda Fatia.


__ADS_2