Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 209. Kecurigaan Semakin Besar


__ADS_3

"Tante dimarahi Ayah gara-gara arisan dan koperasi itu, apakah Tante bisa minta tolong suamimu, Nak?"


Kebetulan setelah Vefe mendengar tantenya menangis sambil menelfon. Vefe langsung menekan loud speaker pada ponselnya. Sehingga saat Tante menyebut ingin meminta bantuan Khan juga mendengarnya.


"Bantuan apa, Tante?" tanya Khan langsung.


"Tolong yakinkan Ayah kalau investasi sudah Tante tarik kemarin, Ayah tidak percaya sama Tante!"


"Mengapa Kakek tidak percaya?"


"Tante juga tidak tahu, Ayah sepertinya sedang emosi, setiap ucapan Tante selalu salah."


Perjalanan mereka baru setengah jalan. Jika diukur lebih dekat ke rumah Kakek Raharjanto daripada rumah Khan. Sehingga Khan memutuskan lebih baik untuk mampir ke rumah kakek saja.


"Kami ke sana saja, Tante. Kebetulan posisi kami tidak jauh dari rumah Kakek."


"Alhamdulillah, Tante tunggu ya!"


"Baik ... Assalamualaikum."


"Walaikum salam."


Ponsel langsung dimatikan dan kembali dimasukkan ke dalam kantong. Tujuan perjalanan kini berbelok menuju rumah Kakek Raharjanto. Vefe masih bingung tentang yang terjadi pada arisan dan koperasi ibu-ibu sosialita.


Vefe ingat betul jika uang Tante Suprapti yang diinvestasikan tinggal sepuluh persen saja. Sudah ditarik kemarin saat dinasehati oleh Khan. Vefe menjadi bingung apa yang membuat Kakek Raharjanto marah kepada Tante Suprapti.


"Kita ke rumah Kakek, Satria!" perintah Khan.


"Siap ...."


Hanya sekitar tiga perempat jam mobil sudah memasuki halaman rumah Kakek Raharjanto. Khan tersentak kaget saat baru memasuki halaman rumah. Tidak hanya Tante Suprapti saja yang menyambut kedatangan mereka.


Ada lebih dari sepuluh orang wanita yang seumuran Tante Suprapti. Mereka langsung berdiri menunggu orang yang ada di dalam mobil keluar. Wajah mereka terlihat cemas dan bingung.


"Lo kok banyak banget orangnya, pada mau ngapain itu?" tanya Khan heran.


"Kemungkinan mereka teman sosialita Tante Prapti, Papi."


"Ayo turun, Mami. Sini Aaron Papi yang gendong!"


Baby Aaron masih terlelap dalam pangkuan Vefe saat mobil sudah berhenti sempurna di halaman rumah Kakek Raharjanto. Khan langsung menggendong putranya setelah turun dari mobil.


Satu persatu dan bergantian teman Tante Suprapti menyalami Vefe. Sedangkan dengan Khan dan Asisten Satria hanya melipatkan tangan di dada. Sambil membungkukkan badan dan tersenyum ramah.

__ADS_1


"Ada apa, Tante?" tanya Vefe.


"Karena mereka juga Tante dimarahi Ayah."


"Kakek di mana, Tante?" tanya Khan.


"Dia ada di rumah, Nak Khan sudah di tunggu Ayah di sana."


"Baik kami ke sana!"


Khan dan Asisten Satria masuk rumah Kakek Raharjanto. Vefe mengikuti Tante Suprapti duduk di teras rumah bersama dengan rombongan ibu-ibu. Mereka langsung duduk melingkar dengan tertib sambil memasang wajah cemas.


"Mereka ingin mendengar cerita tentang Jeng Wulan," pinta Tante Suprapti.


Vefe bingung sambil memandang satu persatu wajah teman Tante Suprapti. Tidak mengenal Eno secara langsung, hanya banyak mendengar cerita saja. Bertemu pertama kali dengan Eno adalah kenangan yang paling berkesan buruk.


"Maaf Tante semua, Ve juga tidak begitu mengenal dia. Ve hanya sering mendengar cerita tentang dia, dari cerita itu sebagian besar negatif."


"Tidak apa, Nak. Ceritakan saja akan kami dengarkan!" teriak salah satu Ibu sosialita yang duduk paling depan.


"Baiklah ... akan Ve ceritakan."


Vefe menceritakan tentang Eno saat masih bekerja di PT KURNIA. Pertemuan pertama dan kesannya tentang wanita itu. Sampai peristiwa menyarankan Tante Suprapti menarik investasi.


"Itulah sebabnya kemarin saya menarik investasi sedikit demi sedikit," kata Tante Suprapti setelah Vefe selesai bercerita.


"Kamu sih, Jeng. Seharusnya ajak aku!"


"Bagaimana dengan nasib invesku, hartaku semua ada pada Jeng Wulan semua?"


"Dari dulu saya sudah bilang sama ibu-ibu semua kalau sebenarnya saya ragu tentang Jeng Wulan, tetapi ibu-ibu meyakinkan saya jika Jeng Wulan amanah. Mengapa sekarang malah menyalahkan saya?" tanya Tante Suprapti.


"Jadi saya harus bagaimana dong, Bu Prapti?"


"Saya tidak mau kehilangan tabungan saya."


"Anak saya mau makan apa kalau begini caranya?"


Masih banyak lagi komentar ibu-ibu sosialita tentang Eno dan investasi mereka. Kekhawatiran mereka semakin terlihat setelah Vefe bercerita. Ada juga yang terdiam tanpa berekspresi di wajahnya.


"Tunggu dulu, Tante. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Vefe.


"Teman-teman ini bingung dan takut uang investasi hilang."

__ADS_1


"Selama ini bagaimana pembagian hasil keuntungan, apakah berjalan lancar?"


"Lancar saja sih, Nak Ve. Hanya bulan ini semua anggota belum mendapatkan pembagian hasil," jawab Tante Suprapti.


"Bulan ini kita belum mendapatkan konfirmasi keuntungan, alasan dia katanya sedang sibuk mempersiapkan pernikahan," jawab Ibu sosialita yang duduk di samping Vefe.


"Tinggal menarik saja investasinya sekarang dong, Tante!" perintah Vefe.


Suara semakin gaduh karena mereka menjawab dengan bersamaan tetapi dengan pendapat yang berbeda. Vefe menjadi bingung harus menjawab yang mana, "Tunggu dulu dong, Tante. Ve jadi bingung, apakah bisa salah satu saja yang menjawab?"


"Wakil Jeng Wulan mengundurkan diri tiga hari yang lalu, kemudian dia menghilang bak di telan bumi," jawab Tante Suprapti mewakili teman-temannya.


"Apakah tidak ada staf yang lain selain wakil itu?"


"Tidak ada," jawab mereka kompak.


Vefe mengerutkan keningnya berpikir dan termenung. Orang awampun pasti tahu jika arisan atau koperasi yang bersifat hanya perkumpulan akan sangat beresiko. Hanya mengandalkan kepercayaan setiap personal saja.


Apalagi yang beromset jutaan bahkan ratusan juta. Jika pimpinan dan adminnya tidak amanah bisa jadi bukannya untung tetapi akan rugi dan semua investasi tanpa kembali. Sudah banyak kasus seperti itu yang telah ditangani oleh pihak yang berwajib.


"Apakah Tante sudah menghubungi Eno ... Eee salah Jeng Wulan itu?"


"Sudah berkali-kali, tetapi jawaban dia masih sibuk."


"Saya kirim pesan WA hanya di baca saja."


"Ponselnya tidak aktif, saya kirim telegram hanya centang satu."


Setiap orang memiliki jawaban yang berbeda. Alasan juga berbeda saat menghubungi Eno. Vefe semakin yakin kemungkinan Eno telah menyalahgunakan kepercayaan ibu-ibu sosialita.


"Bukan su'uzon ya, Tante. kemungkinan kecurigaan kita benar, tetapi tidak ada jalan lain selain menunggu sampai acara pernikahan selesai," saran Vefe.


"Berarti uang dan investasi kita hilang dong?" tanya Tante Suprapti.


"Menurut Ve sih, kita positif thingking saja dulu, Tante."


Vefe teringat cerita Asisten Satria tentang undangan dan tiket pesawat pulang dan pergi untuk karyawan PT KURNIA. Yang ada di Jakarta dan Sulawesi terutama para staf dan pimpinan mendapatkan semua. Berarti kemungkinan para anggota arisan dan koperasi ibu-ibu sosialita juga mendapatkannya.


"Apakah Tante semua mendapatkan undangan dan tiket pesawat pulang dan pergi ke Surabaya?" tanya Vefe.


"Tidak ada?" jawab mereka serempak.


"Kapan acara pernikahan Jeng Wulan di Surabaya, Nak?"

__ADS_1


"Siapa yang mendapatkan undangan dan tiket pesawat itu, Nak?"


Vefe tidak menjawab pertanyaan mereka semua. Dia hanya termenung dan bergumam dalam hati, "Kecurangan Ve kok semakin besar ya tentang Eno?"


__ADS_2