
Vefe tersenyum manis mendapatkan setangkai mawar merah dari Khan. Tidak menyangka kekasihnya sangat romantis setelah tiga hari bekerja ke luar kota. Mengambil bunga dari tangan Khan dan mencium bunga dengan lembut, "Terima kasih, Mas."
"Mengapa bunga di cium, tetapi Mas tidak?"
Vefe hanya menjawab dengan menggelengkan kepala sambil tergelak. Semakin hari dia semakin berani merayu dan terus-terang. Selalu mengekspresikan hatinya dengan spontan tanpa malu-malu.
"Tunggu ya, Mas. Ve ganti baju dulu!"
Vefe meninggalkan Khan sendiri setelah Khan menganggukkan kepala. Daniel mendekati Khan setelah Vefe tidak terlihat dan masuk di ruang ganti. Hanya sekedar menemani sampai Vefe datang lagi.
"Mas dari mana?" tanya Daniel.
"Mas baru pulang dari tugas luar kota."
"Setelah ini mau ke mana?"
"Tidak tahu sih, Daniel ada acara?"
"Daniel mau nonton film, Mas Khan mau ikut siapa tahu bisa doble date."
Khan tersenyum mendengar ajakan Daniel untuk menonton film. Selama ini belum pernah merasakan berdua duduk di gedung film. Menikmati indahnya film romantis sambil bergandengan tangan yang dibayangan Khan.
"Ide bagus, tunggu Ve saja dulu!"
Vefe berlari mendekati Khan setelah berganti baju. Gadis itu terlihat semakin cantik dan anggun bagi Khan saat dia berpenampilan apa ada adanya. Hanya menggunakan kaos putih dan celana jeans terlihat sederhana tetapi rapi.
"Ayo kita pulang, Mas!"
Khan mendekati telinga Vefe dan berbisik, "Nonton dulu yok!" ajak Khan sambil melirik Daniel.
Vefe juga ikut melirik Daniel yang tersenyum memandangi dirinya, "Film apa, Mas?"
"Tidak tahu juga, coba tanya sama Daniel!"
"Yang mengajak Bang Daniel?"
"Iya Ve, kita doble date yok!"
Vefe melihat jam tangan kecil yang melingkar di tangannya. DIa melihat sekelilingnya mencari Erina. Jika nonton film sekarang sebelum senja sudah sampai rumah.
"Bang Daniel sama Erin, Mana dia?"
"Dia sudah ada di gedung film. Kebetulan tadi dia mengantar pesanan pelanggan di sekitar sana."
__ADS_1
"Ayo Ve ikut mereka!" ajak Khan lagi.
"Ve hanya berpenampilan seperti ini, Mas?"
"Ve sangat cantik kok, Mas cinta Ve apa adanya bukan ada apanya." Khan mengedipkan matanya.
Vefe tertunduk tersipu malu, ada rasa rendah diri dan bahagia menjadi satu. Selalu saja rasa rendah diri itu bisa di tepis karena kata-kata manis sang kekasih. Menjadi terbunga-bunga dan bahagia.
"Bagaimana, Ve?"
"Iya baiklah. Bang Daniel ikut kami?"
"Tidak dong, Ve. Abang nanti mengganggu adik yang sedang pacaran, tidak baik itu."
Danel meninggalkan Vefe dan Khan menuju parkiran. Dia membawa motor sendiri. Tidak ingin mengganggu orang yang sedang kasmaran.
Khan tergelak dan meberikan jempolnya kepada Daniel. Membukakan pintu mobil untuk Vefe naik. Vefe tersenyum dan naik sambil mengucapkan terima kasih.
Khan sambil menyetir selalu melirik Vefe yang terdiam, "Ve ...."
"Ya ada apa, Mas?"
Tangan Khan menautkan ke jemari Vefe dengan sempurna. Dia memilih menyetir dengan tangan satu, "Mas sangat merindukan Ve. Perasaan Ve kok tidak merindukan Mas ya?"
"Kita sudah tiga hari baru bertemu, Ve."
"Lewat VC itu juga termasuk bertemu, Mas."
"Kalu cuma lewat VC bagi Mas tidak bertemu, Ve. Cuma lewat online tidak bisa berpegangan tangan seperti ini!"
Sampai di gedung bioskop Khan dan Vefe langsung bergabung dengan Erina dan Daniel yang sudah menunggu di depan pintu masuk, "Ayo kita masuk!" ajak Daniel.
Khan kembali menggandeng tangan Vefe saat mulai memasuki pintu yang terlihat gelap. Hanya ada kilatan cahaya ponsel untuk mencari nomor tempat duduk masing-masing. Vefe dan Erina di tengah sedangkan Khan ada di sebelah Vefe dan Daniel disebelah Erina.
Saat film belum mulai mereka berempat bercanda dan berbincang dengan akrab. Setelah film mulai keempatnya terdiam konsentrasi melihat film yang baru di mulai. Tangan Khan mulai menautkan lagi ke tangan Vefe dengan sempurna.
Dari awal film mereka sudah tegang dengan ceritanya. Cerita film romantis yang bercertita tentang perjuangan gadis yatim piatu. Sangat menegangkan saat sang gadis itu harus berkorban demi sang kekasih yang orang berada tidak di restui oleh ayahnya.
Ujian demi ujian akhirnya pasangan romantis itu bisa bersatu. Sangat menguras air mata walau akhirnya bahagia. Perjuangan yang melelahkan membuat Vefe menangis tersedu-sedu.
Latar belakang cerita sang aktris yang hampir mirip seperti dirinya. Kekasih hati juga orang berada seperti kekasihnya saat ini. Hanya nasibnya lebih baik karena bisa bersatu dengan sang kekasih.
Vefe sangat merasakan apa yang dirasakan sang aktris. Saat berperan dengan sangat baik. Seolah Vefe yang memerankan aktris dalam film itu. Air mata terus mengalir tanpa henti.
__ADS_1
Vefe merasakan seolah dia sedang melihat dirinya di layar lebar. Teringat saat dirinya harus merasa rendah diri lagi dan lagi. Selalu menghadapi cibiran orang yang ada di sekitarnya.
Di akhir cerita, belum beranjak dari kursi penonton Vefe masih terisak. Khan langsung memeluknya dengan erat. Mengusap pungunggnya perlahan agar hatinya merasa tenang.
Dada Khan berdegup kencang saat sang kekasih dalam dekapan. Semakin kencang terdengar saat wajah Vefe menempel di dada. Jantung seolah seperti kendang yang tidak memiliki nada.
Dekapan semakin erat saat Vefe terus terisak. Bibir ingin sekali mengecup keningnya agar dia tenang. Karean ada Daniel dan Erina yang berada di sampingnya sehingga di urungkan.
Sampai seluruh penonton keluar dari gedung. Vefe masih terisak dan masih dalam pelukan Khan. Erina juga tak kalah terbawa perasaan dengan film romantis ini.
"Ve ayo kita keluar!" ajak Erina sambil mengusap pundak Vefe.
"Eee iya ... Maaf Mas." Vefe melepaskan dari pelukan Khan.
Khan tersenyum sambil membimbing Vefe keluar dari gedung. Erina dan Daniel berjalan didepannya. Khan terus saja tersenyum, baru kali ini memeluk seorang gadis. Apalagi gadis yang berstatus kekasihnya.
"Mas, mengapa dari tadi tersenyum?" tanya Vefe berjalan sambil memegangi lengan Khan.
"Mas lagi bahagia hari ini, Ve."
"Kenapa sih, Mas?"
"Mas bisa memeluk Vefe."
Vefe mengerucutkan bibirnya, merasa tidak enak hati karena terbawa perasan dalam cerita film. Walaupun tidak di pungkiri rasa nyaman dalam pelukannya. Hanya saja tidak mungkin berani terus terang seperti yang di katakannya.
Sampai di luar gedung Daniel dan Erina berpamitan pulang terlebih dahulu. Mereka memang sengaja untuk meninggalkan mereka agar melakukan quality time berdua. Vefe hanya mengangguk saat keduannya berpamitan dan langsung berpisah di depan gedung film.
"Makan dulu ya, Ve. Sebelum pulang!"
"Makan apa, Mas?"
"Makan apa ya yang membuat Ve menangis dan Mas bisa memeluk Ve lagi?"
Dengan spontan Vefe mencubit lengan Khan, "Mas ini memang sukanya merayu dan gombal."
"Aauw ... Sakit ...!"
"Biarin aja ... Mas sih sih modus!"
BERSAMBUNG
Shobat Anna yok mampir ke novel temen author ini rekomen banget lo sambil menunggu KKJ up lagi
__ADS_1