
Vefe memundurkan badannya karena Khan menunjuk bibir sambil mengedipkan mata. Antara nervous dan malu menjadi satu. Belum pernah yang namanya berciuman apalagi di bibir.
Khan terus memandangi wajah Vefe yang salah tingkah. Wajahnya semakin terlihat cerah karena antara malu dan salah tingkah. Khan memajukan badannya saat Vefe berusaha mundur.
Tangan Vefe langsung mencapit lengan Khan, "Iiiih Mas ini!"
"Aauw ... sakit, Sayang!" teriak Khan.
"Eee ...?" Vefe semakin salah tingkah karena dipanggil sayang.
Khan semakin terbawa suasana hati yang sedang berbunga-bunga. Inginnya hanya berdua saja. Saat ada ketukan pintu dia langsung cemberut kesal sambil melihat pintu, "Masuk ...!" teriaknya.
Asisten Satria masuk dan hanya berdiri di samping pintu, "Maaf ... Tuan, Anda di tunggu di ruang meeting sekarang."
"Ya tunggu lima menit lagi nanti menyusul."
Asisten Satria keluar kantor kembali tanpa menoleh Khan yang duduk berdekatan dengan Vefe. Sambil menggelengkan kepala dia berlalu tanpa kata. Membayangkan kebahagiaan yang kini dialami tuannya membuatnya ikut bahagia.
Khan meraih dan menggenggam tangan Vefe, "Mas akan meeting selama satu jam, jangan keluar dari kantor. Kalau pingin sesuatu kirim pesan ke ponsel Mas saja. Ada minuman dingin dan buah di kulkas di ruang gym ambil sendiri kalau haus."
"Iya ... Ve juga mau kerja lewat online."
"Mas tinggal ya."
Vefe mengangguk dan tersenyum saat Khan mencium jemari Vefe sebelum meninggalkannya. Hati rasanya berat unuk meninggalakan dia sendiri. Akan melangkahpun tangan tetap tidak ingin melepaskan tautan itu.
"Berangkat sana, Mas!"
"Nanti kalau rindu bagaimana?"
"Gombal ... sana berangkat sudah di tunggu!"
"Iya ... I love you."
Vefe mengangguk dan melambaikan tangannya. Memandangi sampai dia keluar kantor dan tidak terliha lagi. Jantung berdegup kencang padahal baru saja dia keluar dari pintu.
Khan masuk ruang meeting dengan wajah yang serius dan berwibawa. Mode jutek dan serius sangat terlihat di wajahnya. Sangat berbeda jauh saat ada di dalam kantor tadi.
Melakukan meeting selama kurang dari satu jam saja seolah sehari lamanya. Ingin cepat-cepat berlari ke kantor bertemu dan berdua kembali dengan kekasih hati. Gelisah tidak menentu dan tidak berkonsentrasi mengikuti jalannya meeting.
Selesai menandatangani berkas yang baru saja dibahas di ruang meeting. Khan langsung meninggalkan ruangan itu tanpa kata. Baru saja satu jam lamanya hati berdegup kencang sangat merindukan kekasih hati yang ada di kantor.
__ADS_1
Khan berjalan dengan lngkah panjang mendorong pintu sete;lah sampai di kantor, "Sayang ...!"
"Cepat betul, Mas. Ini belum ada satu jam lo?"
Khan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Meninggalkan kekasih hati satu jam masih kurang sepuluh menit. Rasanya sangat lama seperti seharian penuh tidak bertemu.
"Cepat bagaimana? Bagi Mas sudah satu hari meninggalkan Ve di sini."
"Eee gombal lagi, ayo kerja ini waktunya bekerja!"
"Mas pinginnya hanya duduk berdua saja sama Ve."
"Jangan merayu terus, Mas. Bawa sini pekerjaan Mas Khan kita duduk di sini sama-sama mengerjakan tugas masing-masing!"
"Baiklah ...."
Hampir dua jam, Khan dan Vefe berkutat dalam pekerjaan masing-masing. Terkadang Khan usil mengetik di laptop hanya tangan kanan saja. Sedangkan tangan kiri memeluk atau mengusap pipi Vefe.
Hampir jam istirahat siang, semua pekerjaan Vefe sudah selesai. Pekerjaan Khan masih menumpuk segunung gara-gara hampir lima hari Khan tidak berangkat ke kantor.
"Perlu bantuan, Mas?"
"Ve sudah selesai?"
Khan tersenyum menarik jemarinya dan dikecupnya berkali-kali, "Boleh, sini lebih dekat Mas dulu!"
"Mau ngapain?"
"Katanya mau membantu Mas!"
Vefe bergeser sedikit mendekati Khan, "Mana yang bisa Ve bantu?"
Khan menunjuk pipi dan bibrnya bergantian, "Mau yang sini atau yang ini?" tanyanya.
"Mau ngapain?"
"katanya mau membatu Mas, cukup dengan mencium di sini atau di sini akan sangat menambah semangat Mas bekerja."
"Ogah banget ... Untung di Mas rugi di Ve dong!"
Khan tergelak sambil menariknya dalam pelukan, "Begini saja dulu. Yang lain nanti kalau sudah mendapat restu ayah dan bunda."
__ADS_1
Asisten Satria masuk kantor Khan setelah mengetuk pintu, "Tuan, Anda mau makan siang di luar atau di kantin?"
Khan masih tetap memeluk Vefe, "Tolong perintahkan orang kantin untuk mempersiapkan menunya sebentar lagi kami ke sana!"
"Baik siap laksanakan."
Asisten Satria membuka pintu keluar dari kantor. Khan mematikan laptop dan menutupnya, "Ayo kita makan dulu!"
"Kenapa kita tidak makan di sini saja, Mas?"
Khan ingin menunjukan ke seluruh karyawan agar mereka mengenal Vefe. Di kantinlah sebagian besar karyawan akan menghabiskan waktunya saat istirahat. Dengan sendirinya mereka akan mengenal Vefe.
"Makan di kantin saja ya, Ve bisa memilih menu kalau di sana. Kalau di bawa ke sini hanya satu menu saja, ayo kita makan dulu!"
Khan mengulurkan tangan untuk mengajak Vefe berangkat ke kantin. Berjalan menuju kantin sambil bergandengan tangan dan berbincang. Di kantin heboh setelah Khan dan Vefe memasuki area khuhus untuk para petinggi perusahaan.
Jarak antara kantin karyawan dan kantin untuk para petinggi perusahaan hanya di batasi dinding kaca transparan. Akan terlihat jelas diantara ke duanya jika saling mengawasi. Seringnya para karyawan akan terus melihat Khan sampai selesai.
Ada satu perbedaan diantara ke duanya yang terlihat jelas. Di kantin karyawan setiap karyawan akan diambilkan menu lauk dan sayur, tetapi nasi mengambil bebas. Di kantin para petinggi perusahaan disediakan dengan cara prasmanan.
Khan tetap menggandeng Vefe sampai mereka di depan menu prasmanan, "Sayang ... Mau menu apa?"
"Banyak banget menunya, Mas. Ver bingung."
"Boleh kok pilih semuanya."
"Perutnya tidak mungkin kuat dong, Mas."
Khan tergelak sambil mengambil piring diisi nasi putih. Mengambil mangkuk mengambil satu mangkuk soto betawi, sambal dan kerupuk udang. Vefe mengikuti Khan mengambill menu yang sama. Setelah di letakkan di atas meja makan, Khan kembali mengambil buah semangka dan melon, dua gelas es jeruk.
"Ve mau Mas suapin?" Khan menyuapkan satu sendok nasi soto betawi ke mulut Vefe.
Di kantin karyaywan yang melihat kemesraan Khan menyuapi Vefe terlihat riuh rendah. Mereka banyak sekali berkomentar dengan bahasanya mereka sendiri. Bukan patah hati masal lagi bagi karyawan saat ini melainkan hari patah hati di dunia halu.
Yang biasanya mereka berandai-andai pimpinannya menjadi pasangan hidupnya. Menjadi penyemangat saat kerja kini sudahh ada yang memiliki. Seluruh karyawan menjadi terbawa perasaan putusnya harapan mereka.
Di grop pesan WA para karyawan perusahaan saat ini ada tranding topik tentang kemesraan CEO dan kekasih hati. Tidak hanya di perusahaan pusat saja saat ini berita itu tersebar. Foto Khan dan Vefe juga beredar di grop perusahaan cabang.
BERSAMBUNG
Yok jangan lupa mampir di novel teman, Shobat Anna. Sambil menunggu KKJ up lagi. Terima kasih,
__ADS_1