Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 77. Nyonya Alhakhan Jose Purnomo


__ADS_3

Vefe tersenyum memandangi Khan yang masih berbaring di tempat tidur. Bergegas Khan bangun dan duduk. Seolah dia tidak percaya mata sampai di usapnya berkali-kali.


"Ve ...?" panggil Khan seolah tidak percaya


Elya kesal karena mereka hanya saling pandang. Tanpa bergerak tanpa ada yang maju, Vefe tetaap memegangi nampan sarapan. Sedangkan Khan duduk sambil memeluk guling.


Elya langsung mengambil nampan yang dipegang Vefe dan diberikan kepada Pak Gun sambil berteriak, "Aduuuh kalian ini tidak romantis banget sih, pelukan gitu lo!"


Karena sangat gugup yang Khan peluk bukannya Vefe tetapi Elya yang dipeluknya, "Terima kasih El cantik, sekarang kalian pergi sana!" Khan mengusir Elya dan Pak Gun.


Sambil mendorong tubuh Elya agar keluar kamar, tetapi matanya terus menatapVefe yang berdiri sambil tersenyum manis. Elya tergelak dan pura-pura tidak mau keluar dari kamar, "Enak aja, Mas mau ngapain, awas anak orang lo ya?"


"Sudah jangan berisik cepat keluar!"


Sambil tersenyum dan berlalu Elya berteriak, "Kak Ve hati-hati jangan lama-lama berdua nanti ada yang nimbrung!"


Pak Gun tersenyum ikut keluar kamar sambil menggelengkan kepala, "Tidak ada yang nimbrung, silahkan bicara berdua!" Pak Gun juga ikut berbicara agak keras.


"Ada Pak Gun yang ketiga itu setan."


"Berarti Elya yang ketiga," jawab Khan sekenanya.


"Enak aja." Elya keuar kamar. Pak Gun menutup pintu membiarkan mereka untuk berdua berbicara. Pak Gun percaya pada anak asuhnya tidak mungkin dia akan berbuat yang diluar aturan agama.


Khan langsung menarik tubuh Vefe. Memeluknya dengan erat, "Mas sangat merindukan Ve."


"Maafkan Ve ya, Mas." Vefe ikut memeluk Khan dengan erat.


"Tidak ada yang salah, semua hanya salah faham, jangan tinggalkan Mas lagi ya, Ve. Mas sangat mencintai Ve."


"Iya ... Ve juga sangat mencintai Mas Khan."


"Ayo Mas makan dulu!"


"Mas tidak lapar, Ve. Mas hanya sangat merindukan Ve saja."


"Mas harus makan, Ve tahu Mas jarang makan. Duduklah Ve yang suapin ya!"


Sesuap demi sesuap Ve menyendok sarapan nasi uduk yang di buat oleh Pak Gun. Khan tanpa berkedip memandangi wajah Vefe sambil mengunyah makanan. Tanpa terasa nasi satu piring ludes tanpa sisa.


"Ini minumnya, Mas!"


Khan hanya membuka mulutnya. Tdak mengambil gelas yang ada di tangan Vefe. Netranya selalu saja memandangi kekasih hati dengan hati yang berdegup kencang.


Vefe mellihat penampilan Khan yang wajahnya tidak terawat. Cambang dan jenggot mulai tumbuh tidak teratur. Wajahnya jadi terlihat garang dan galak.

__ADS_1


"Mengapa wajah Mas Khan jadi berantakan begini?" Vefe mengusap pipi Khan dengan lembut.


Khan langsung menggenggam tangan Vefe, "Tidak ada Ve jadinya Mas malas mandi, jangan tinggalkan Mas lagi ya Ve!"


"Iya ... Mas, Ve akan selalu ada di sisi Mas Khan."


"Mas mandi dulu ...." Khan berdiri dan ingin ke kamar mandi.


Ve mengambil piring kosong yang tadi di letakkan di meja. Ingin keluar kamar menyerahkan piring kosong kepada Pak Gun. Khan berbalik badan memeluk Vefe dari belakang.


Vefe kaget sambil tergelak, "Eee Mas ...!" teriaknya.


"Mas masih kangen sama Ve."


"Sana mandi dulu ... Mas bau!" teriak Vefe sambil bercanda.


"Enak aja walaupun tidak mandi, Mas masih wangi."


"Bau sana ... Cepat mandi!"


Vefe mendorong Khan agar mau melepaskan pelukannya.


"Iya baiklah." Khan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan wajahnya.


Vefe keluar kamar untuk menemui Elya, Pak Gun yang sedang berbincang di ruang makan. Datang Asisten Satria bersama Nina dan Sabrina. Sabrina langsung bermain dengan Freya di ruang keluarga.


"Iya benar, Pak."


"Alhamdulillah sudah empat hari Pak Gun baru merasa lega melihat Tuan menghabiskan makanannya." Vefe hanya menjawab dengan tersenyum.


"Sini duduklah, Kak!" Elya menepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya.


"Bagaimana keadaan Mas Khan sekarang, Kak?"


"Dia sedang mandi sekarang."


"Berarti benar kata Dokter Dino, obat yang paling mujarab hanya Anda saja, Nona," kata Asisten Satria ikut merasa lega.


"Maafkan Ve, Bang Satria."


"Semua sudah berlalu, yang penting sekarang semua akan baik-baik saja, itu yang terpenting." nasehat Pak Gun.


Mereka berbincang sambil menunggu Khan keluar dari kamar. Pak Gun membuat cokelat hangat untuk menyambut Khan keluar dari kamar. Kali ini Pak Gun tidak hanya membuat satu gelas, tetapi untuk semua yang duduk di kursi meja makan.


Khan keluar dari kamar dalam keadaan rapi seperti dulu. Cambang dan jenggot yang kemarin mulai tumbuh kini barsih dan terlihat rapi. Hanya wajahnya masih terlihat pucat tetapi bibir selalu tersenyum.

__ADS_1


"Mengapa cokelat hangat ada banyak begini?" tanya Khan.


"Ini sebagai tanda di terimanya tamu spesial yang baru pertama kali seorang wanita di terima di rumah ini, Tuan."


Khan tersenyum melirik Vefe. Menarik kursi dan mendekatkan pada Vefe dan duduk di sebelahnya, "Baiklah kita tos selamat datang tamu spesial hari ini." Khan mengangkat gelas diikuti semua.


"Tooos! " Satu gelas langsung kosong berpindah ke perut.


Tangan Khan melingkar di pinggang Vefe, "Eee ...!" Vefe kaget dan memandangi wajah Khan yang selalu tersenyum.


Khan merasa bahagia yang tidak bisa di bayangkan lagi sekarang. Cintanya kembali lagi, hatinya berbunga-bunga. Sakit yang dirasakan kemarin seolah langsung hilang lenyap tanpa bekas.


"El mau istirahat dulu capek banget," Elya masuk kamarnya sendiri untuk beristirahat.


Satu persatu pamit meninggalkan Khan dan Vefe di ruang makan. Termasuk Pak Gun setelah memberikan obat kepada Khan dia juga memilih ke dapur. Asisten Satria dan Nina pulang ke rumah yang ada di samping rumah Khan.


Khan menggenggam tangan Vefe saat tinggal berdua, "Ve ...!"


"Ya Mas, ada apa?"


"Mas sangat mencintai Ve."


Vefe tersenyum sambil menunduk. Hatinya saat ini juga sangat bahagia. Rasa rindu yang terobati, semakin lama cinta semakin dalam. Keraguan yang kemarin dirasakan kini menjadi yakin dan percaya.


"Apakah Ve sudah percaya dan yakin sekarang?"


"Iya Mas, Ve sangat percaya sama Mas Khan."


Mas tidak ingin berpisah dengan Ve lagi." Khan mencium jemari Vefe dengan lembut.


"Apa maksud Mas Khan?"


"Banyak sekali maksudnya, Mas ingin Ve tinggal di sini, Mas ingin kita melanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi, Mas pingin ...?"


"Tunggu dong, Mas. Jangan terburu-buru. Ve ingin menyesuaikan dan belajar dulu di lingkungan keluarga Mas Khan."


"Baik ... Ve ingin mulai dari mana?"


"Tidak tahu juga sih, mulai dari kantor, orang tua atau mulai dari mana terserah Mas Khan saja. Yang penting Vefe ingin di terima seperti apa adanya jadi tidak ada salah faham seperti kemarin."


"Baiklah besok pagi Mas jemput, kita ke kantor, Mas akan memperkenalkan Ve sebagai Nyonya Alhakhan Jose Pornomo."


BRSAMBUNG


Jangan lupa mampir ya shobat Anna di novel teman yang rekomen banget ini, di novel toon jg sambil menunggu KKJ up besok.

__ADS_1



__ADS_2