Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 131. Ngedumel


__ADS_3

Berkali-kali Merry di repotkan oleh Khan bukan Vefe. Di minta mengambil gaun yang ada di menakin. mengambil gaun yang ada di etalase paling atas yang Merry tidak sampai.


Merry juga harus bolak-balik etalase dan kamar ganti karena tidak cuma dua atau tiga gaun yang harus di coba. Dia harus mengambil puluhan gaun yang akan di coba oleh Vefe.


Merry yang capek karena harus mondar-madir menggunakan sepatu high heels. Kaki rasanya pegal dan tumitnya lecet kebetulan dia memakai sepatu baru. Sambil menahan sakit dan perih dia harus mengikuti perintah Khan.


Khan sampai tidak menyadari istrinya juga capek karena harus berpuluh kali fitting gaun dengan berbagai model. Apalagi dalam keadaan hamil besar. Kaki gajah mulai datang lagi tanpa diundang.


Karena kesal Vefe berteriak dari dalam kamar ganti, "Mas Bule ... sampai kapan Ve harus berdiri, kaki gajahnya datang lagi nich?"


Khan nyengir kuda karena baru menyadari niatnya ingin memberikan pelajaran kepada orang yang menghina istrinya. Ternyata imbasnya juga kepada Vefe. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjongkok melihat kakinya yang terlihat membesar.


"Maaf Sayang, tenang aja nanti Mas servis dengan terapi rileks tiga ronde kalau perlu."


"Eeee enak Mas tetapi Ve malah gempor," jawab Vefe dengan kesal.


Khan tergelak masih jongkok dan mengusap kaki vefe, "Belum besar kok, Sayang nanti terapi rileksnya sekali sudah cukup."


"Mulai lagi, kapan Ve duduknya ini?"


"Oya maaf lagi, silahkan duduk!"


Vefe duduk di sofa yang tadi diduduki oleh Khan tadi. Sambil melirik Merry yang masih terpaku. Sengaja menunjukkan kemesraan pada teman sekolahnya dulu agar dia tidak meremehkan orang lain seenaknya.

__ADS_1


"Kalau Mas masih pingin milih gaun silahkan saja, tapi jangan suruh Ve fitting lagi!"


"Dari yang dicobain tadi ada yang Ve taksir?"


"Ve sukanya yang sederhana yang di pegang oleh Merry itu saja. Yang lain tidak mau."


"Jangan cuma satu dong, Sayang. Cari model lain ya?"


"Terserah Mas saja, tetapi Mas yang memilih kalau perlu Mas yang fitting," jawab Vefe sekenanya.


"Jangan dong, Sayang. Mana ada laki-laki memakai gaun."


Khan langsung menatap tajam ke arah Merry yang berdiri terpaku. Masih ingin memberikan pelajaran agar wanita itu jera, "Eee kamu, mengapa hanya berdiri saja di situ? Cepat ambilkan model yang lain karena istriku tida suka yang tadi!" perintah Khan dengan suara juterk.


Merry meninggalkan tempat untuk mengambilkan model gaun yang lain. Dia melenggang sambil tetap membawa gaun yang dipilih Vefe. Padahal gaun yang ditangan sudah dipilih oleh Vefe.


"Tunggu ...!" teriak Khan.


"Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?"


"Itu yang dipilih oleh istriku, mengapa kamu bawa lagi?" tanya Khan dengan kesal.


"Oya maaf, tidak sengaja."

__ADS_1


Merry memasukkan gaun hitam pilihan Vefe ke keranjang. Bergegas mengambil gaun model lain lagi untuk ditunjukkan kepada Vefe. Mulutnya komat-kamit sendiri terlihat kesal.


Khan tersenyum devil melihat Merry yang terlihat kesal dan ngedumel sendiri. Bisa ditebak jika dia pasti kesal karena dari puluhan gaun yang dipilih hanya satu. Kakinya pasti pegal karena harus mondar-madir puluhan kali.


Merry datang dengan membawa empat gaun sekaligus, "Nyonya ... di antara empat gaun ini, apakah ada yang Anda suka?"


"Hai bod*oh, kamu faham tidak kalau istriku tadi bilang capek, bawa sini gaunnya aku yang pilih!" perintah Khan dengan emosi.


"Maafkan saya, Tuan. Ini silakan Anda pilih!"


"Kamu yang pegang dan perlihatkan satu persatu kepada saya sekarang!"


Merry terpaksa melihatkan satu persatu gaun itu kepada Khan. Setelah keempatnya sudah di lihat, Khan mengusap pipi Vefe dengan lembut, "Sayang ... Pilih yang mana?"


"Terserah Mas saja."


"Ok Mas pilihkan nomor dua dan tiga, ok!"


"Iya Ve setuju."


Tanpa sengaja Merry menggerutu sendiri dengan lirih, "Pilihan yang kampungan, ini kan gaun sederhana banget."


Khan mendengar ucapan Merry padahal suaranya lirih dan pelan, "Apa kamu bilang?"

__ADS_1


__ADS_2