
Ayah Jose hampir berlari ke samping rumah. Namun diurungkan saat melihat orang yang datang. Ternyata yang datang bukan orang yang di maksud oleh Bunda Fatia.
"Bunda ini bikin panik saja, yang datang Pak Misbah dan Bu Maya bukan anaknya ketua anggota dewan itu."
Bunda Fatia bernapas lega setelah pintu gerbang di buka. Bu Maya langsung turun dan tersenyum manis, "Assalamualaikum, Bun. Apa kabar?" Bu Maya memeluk Bunda Fatia dan cipika-cipiki.
"Alhamdulillah kami sehat, kapan datang dari Kalimantan?"
"Sudah tiga hari yang lalu."
"Ayo kita masuk, Pak Misbah biar nanti bareng Ayah Jose."
Bunda Fatia masuk ke rumah sambil berbincag. Meninggalkan para suami yang berbincang dekat mobil. Mereka sudah lupa dengan tamu yang akan datang sebentar lagi.
Setelah mereka berbincang hampir satu jam. Bunda Fatia dan Bu Maya di ruang tamu. Sedangkan Ayah Jose dan Pak Misbah masih di samping mobil saat tamu yang dimaksud datang.
Ada suara klakson dari luar pintu pagar dan mobil yang tidak dikenal. Ayah Jose baru teringat jika awalnya sedang menunggu tamu putri dari ketua anggota dewan. Kemungkinan yang datang sekarang ini adalah dia.
"Pak ... ayo kita masuk!" Ayah Jose berjalan tergesa-gesa masuk rumah untuk menemui istrinya.
"Iya baik."
__ADS_1
Baru saja melangkah masuk pintu utama, Ayah Jose langsung memanggil istrinya, "Bun ...!" teriaknya.
Bunda Fatia belum sempat menjawab panggilan suami. Mommy Astrid dan Daddy Kim Oen datang bergabung di ruang tamu. Kebetulan yang tidak di sengaja karena mereka tidak melihat tamu yang ada di depan pintu gerbang.
Ayah Jose mendekati Bunda Fatia, dan berbisik di telinga, "Tamunya sudah datang, cepat keluar sana, di sini biar Ayah yang mengatasi."
"Baik ...." Bunda Fatia berdiri dan meninggalkan ruang tamu, "Permisi saya tinggal sebentar!"
"Silahkan ...." Bu Maya dan Pak Misbah menjawab bersamaan.
Ayah Jose memperkenalkan orang tua Vefe kepada tamu. Menceritakan sekilas orang tua yang baru saja bertemu. Berbincang dengan akrab seperti sudah lama kenal.
Bunda Fatia berjalan tergesa-gesa mendekati pos security. Ada putri dari ketua anggota dewan yang sedang meminta izin untuk bertamu, "Pak Umar!" teriak Bunda Fatia.
"Iya terima kasih, Pak."
Bunda Fatia langsung menyalami tamunya dengan sopan, "Assalamualaikum, Bu. Sebaiknya silahkan parkirkan mobil Anda ke dalam!"
"Walaikum salam ... Terima kasih."
"Pak Umar tolong buka pintu gerbang!" perintah Bunda Fatia.
__ADS_1
"Siap Nyonya Bunda."
Setelah mobil diparkirkan, Bunda Fatia mengajak tamunya bukan masuk ruang tamu. Namun mengajak dia duduk di taman samping rumah, "Maaf ya Jeng ... Saya ingin berbincang secara pribadi sebelum Anda bertemu dengan menantu saya."
Tante Darwati Raharjanto mengangguk dan pasrah mendengar Bunda Fatia berterus terang. Bisa memaklumi sikap yang di tunjukkan karena kemarin telah bersikap kurang sopan. Wajar saja jika mereka kurang percaya dengan niat baik yang dilakukan sekarang ini.
Di taman ada Pak Min yang sedang menyiram bunga. Laki-laki tua itu langsung berlari mendekati Bunda Fatia, "Ada yang bisa saya kerjakan, Nyonya Bunda?"
"Tidak ... lanjutkan saja pekerjaan Pak Min!"
"Baik, saya permisi."
"Silahkan duduk, Jeng." Bunda Fatia mengajak duduk di kursi panjang yang ada di pinggir taman.
"Terima kasih."
"Terus terang ya, Jeng. Khan tadi menghubungi saya jika Anda akan berkunjung ke sini. Maaf saya masih kecewa karena sikap keluarga Anda kemarin."
Tante Darwati Raharjanto mengambil napas panjang mendengar ucapan Bunda Fatia yang berterus terang. Rasanya sangat malu mengapa kemarin tidak mendengarkan penjelasan dari mantan kekasih Almarhum kakaknya.
Wajar saja jika sekarang di sambut kurang baik. Semua perbuatan pasti akan ada sebab dan akibat. Seperti saat ini wajar jika ibu mertua dari keponakannya menaruh curiga atas kedatangannya sekarang.
__ADS_1
"Saya Darwati Raharjanto mewakili keluarga minta maaf karena sikap Ayah kemarin, kami terus terang tidak berani membantah ucapan Ayah."
"Anda ke sini apakah ketua anggota dewan itu mengetahiunya?"