Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 57. Isyarat Ayah Jose


__ADS_3

Khan hanya nyengir kuda mendengar Bunda Fatia dan Ayah Jose yang mendesak meminta alasan khusus. Khan masih belum bisa menceritakan tentang Vefe. Masih belum adanya kejelasan status kekasih yang membuat Khan masih berpikir ulang untuk bercerita.


"Doakan saja Khan ya Bun ... Yah. Khan hanya ingin mengalami seperti pemuda lain. Khan ingin juga mengalami pacaran, berkencan malam mingguan."


Saat Bunda tersenyum menebak kemungkinan putranya sudah dekat dengan seorang gadis. Ayah Jose mengusap lengan istrinya. Ayah Jose juga memberikan kode untuk menggelengkan kepala perlahan.


"Iya ... Nak. Ayah akan mendoakan semoga putra Ayah mendapatkan jodoh wanita seperti Bunda."


"Terima kasih, Ayah. Itu yang ingin Khan dengar. Pasti suatu saat nanti Khan akan membawa sendiri jodoh Khan."


"Aamiin ...." Ayah Jose menjawab sambil mengedipkan matanya kepada Bunda Fatia.


"Aamiin, baiklah Bunda juga ikut mendoakan Khan, semoga cepat bertemu jodoh seperti kreteria yang Khan inginkan."


Aamiin," jawab Khan dengan senyum mengembang.


Ayah Jose kembali mengedipkan mata dan menggelengkan kepala. Agar Bunda Fatia tidak lagi bertanya tentang wanita yang diidamkan putranya. Ayah Jose hanya ingin memberikan waktu dan mempercayakan pada putranya agar tidak mengalami trauma lagi.


Jika seseorang mengalami trauma tidak hanya sehari langsung bisa sembuh. Yang pernah di alamai oleh Ayah Jose sampai putrinya Elya lahir. Baru berangsur-angsur traumanya sembuh.


Pandangan tentang trauma memang berbeda cara mengatasinya antara Ayah Jose dan Bunda Fatia. Karena Ayah Jose yang mengalami dan Buda Fatia sebagai obat trauma. Ada perbedaan pendapat diantara keduanya.


Jika Bunda Fatia berpendapat asal Khan mau menerima perjodohan pasti akan sembuh. Ayah Jose berpendapat Khan akan menemukan seorang gadis yang tidak akan mengalami trauma suatu saat nanti. Seperti yang pernah dialaminya dulu saat bertemu dengan Bunda Fatia.


Ayah Jose teringat dulu Bunda Fatia mengambil ikat pinggang yang dipakainya. Saat itu Bunda Fatia melingkarkan tangan dari belakang pada pinggang Ayah Jose. Sejak itulah traumanya berangsur-angsur sembuh.


"Sepakat ya, Bun. Tunggu Khan sebentar lagi, mulai sekarang jangan jodohkan lagi Khan. Tolong batalkan semuanya!"


Bunda Fatia mengangguk ragu sambil memandang Ayah Jose yang tersenyum ikut mengangguk. Padahal hatinya ingin bertanya banyak kepada putranya, Di urungkan hanya karena kedipan mata suaminya.


"Baiklah, Khan akan bertemu El dan putinya Freya, setelah itu Khan akan langsung pulang lagi ke Jakarta."


Khan langsung meninggalkan meja makan tanpa menunggu jawaban dari ke dua orang tua. Dia tahu pasti Bunda Fatia akan bertanya banyak hal jika dia terus duduk bersama. Lebih baik menghindar dulu daripada harus berbohong.


Setelah Khan berjalan ke rumah yang ada di samping rumah utama. Adiknya Elya dan suaminya Jasson Smith serta putri mereka Freya Smith menetap di samping rumah Ayah Jose. Pengusaha garment baju muslim adik iparnya penduduk asli Amerika muslim taat beribadah, "Assalamualaikum."

__ADS_1


"Walaikum salam, Uncle ... Freya miss you so much!" teriak Freya melihat Khan.


"Yo opo kabare rek?" Khan dan Freya gadis cilik berumur enam tahun itu selalu menggunakan dua bahasa saat bertemu yaitu inggris dan bahasa Surabaya.


"Freya apik wae, Uncle."


"Where your Dad and Mom?"


"La kae nyang dapur."


"Mas Khan ...!" panggil Elya.


"Hai Bro, how are you?" Tanya Jasson.


"Fine ...."


Mereka berbincang di ruang makan dengan riang gembira. Bercanda dan bercerita terutama si Cantik Freya yang selalu ceria. Khan sarapan dua kali pagi ini.


Di ruang makan Bunda Fatia dan Ayah Jose masih berdebat tentang keputusan Ayah Jose, "Mengapa Ayah melarang Bunda untuk bertanya tentang gadis yang di sukai?"


"Sampai kapan, Yah. Ingat dua minggu lagi dia sudah berumur 28 tahun?"


"Ayah bisa melihat mata Khan itu berbinar, Bun. Kemungkinan dia sedang jatuh cinta sekarang, bersabarlah sedikit."


"Oya sebaiknya kita tanya langsung, Yah. Bunda langsung akan melamnar saja kalau begitu." Bunda Fatia berdiri dan ingin menyusul Khan yang ada di rumah Elya.


Ayah Jose langsung menahan tangan Bunda Fatia, "Tunggu dulu dong, Bun. Jangan terburu-buru, apakah Bunda tidak mendengar tadi Khan ingin merasakan pacaran, berkencan dan malam mingguan."


Bunda Fatia duduk kembali di samping Ayah Jose. Dia duduk sambil termenung teringat keinginan putranya. Rasanya tidak sabar ingin mengetahui gadis yang di sukai putranya.


"Jadi bagaimana cara kita tahu kalau Khan sudah punya gadis pilihannya sendiri, Yah?"


"Bunda, tenang saja. Ada Satria, Pak Gun. Mereka bisa kita tanya, "kan?"


"Benar juga ya."

__ADS_1


"Tunggu jangan sekarang, Bun. Nanti kita datang ke Jakarta saat Khan ulang tahun saja."


"Baiklah, kali ini Bunda ikut saran Ayah."


Sore itu juga Khan kembali ke Indonesia. Karena perjalanan ditempuh dalam waktu lama. Dia sampai di Jakarta tiga hari dan bertepatan malam minggu waktu Jakarta.


Dari bandara Khan langsung melunjur ke panti asuhan dengan membawa oleh-oleh yang dibeli di Bandara Internasional Sukarno Hatta. Kali ini Khan hanya membeli pizza dalam jumlah banyak memesan menggunakan drive thru.


Khan tiba di depan panti asuhan Bunda, masih banyak anak-anak yang beemain di halaman rumah. Saat malam minggu biasanya mereka menghabiskan waktu bermain di halaman panti apalagi saat bulan purnama seperti saat ini.


Khan berhenti di dekat mereka, mereka seketika berhenti bermain sampil memanggilnya, "Mas Khan ...!" teriak mereka bersamaan.


"Assalamualalikum."


Mereka menjawab bersamaan, "Wakaikum salam."


"Umi ... Apa kabar?" tanya Khan sambil mencium punggung tangannya.


"Baik, Nak."


Khan memerintahkan kepada Gi dan Ji untuk mengambil oleh-oleh pizza. Mereka langsung menikmati pizza dengan duduk melingkar. Menikmati dengan hati yang sangat bahagia.


"Mpok Ria ...." Khan juga mencium punggung tangan wanita yang menyandang disabilitas tuna rungu.


Mpok Ria memberikan kode isyarat tangan baik-baik saja dan bertanya apakah sedang mencari Vefe?"


Khan mulai mengerti sedikit tentang bahasa isyarat dari Vefe, "Iya Mpok, di mana Vefe?" tanya Khan.


Mpok Ria menjawab lagi dengan bahasa isyarat jika Vefe tidak ada. Umi Maryam yang melanjutkan jawaban Mpok Ria, "Vefe belum pulang, Nak. Katanya hari ini banyak pesanan,"


"Kira-kira pulang jam berapa, Umi?"


"Tidak tahu sih, Nak. Ve tadi tidak bilang."


Mpok Ria kembali memberikan isyarat lebih baik di susul saja ke sana. Belum sempat Khan menjawab Ada seorang pemuda datang dengan menendarai motor milik Vefe. Pemuda itu datang tanpa memakai helm dan hanya sendirian.

__ADS_1


Umi Maryam kaget karena tidak melihat ada Vefe yang membonceng di motor itu, "Nak Daniel, mengapa motor Ve kamu yang bawa, di mana Ve?"


__ADS_2