Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 21. Kedatangan Erina


__ADS_3

Vefe tidak menjawab pertanyaan Khan tentang bahasa isyarat Mpok Ria. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Memilih mengalihkan perhatiannya dengan membantu anak panti yang masih kecil untuk makan bakso.


Khan tidak kurang akal, dia melihat kearah Umi Maryam yang tersenyum simpul. Hanya memberi kode dengan menggerakkan kepala tanda bertanya. Sayangnya setali tiga uang, Umi Maryam juga hanya tersenyum dan melirik Vefe.


Si Ai anak laki-laki yang duduk di samping Khan yang langsung berbisik di telinga Khan, "Kata Mpok Ria Mas Khan dan Kak Ve itu pasangan serasi."


"Ooo ...." Khan membulatkan bibirnya tetapi dalam hati berucap Aamiin.


Khan ikut membantu gadis kecil anak panti yang masih balita karena kesulitan memotong bakso yang berukuran besar, "Sini Mas bantu ya!"


Khan melirik Vefe saat sedang memotong-motong bakso menjadi berukuran kecil. Dia mengikuti seperti yang Vefe lakukan, "Sudah selesai, ayo di makan!"


"Terima kasih, Mas."


Khan mengangguk dan mengacak rambut gadis kecil yang tersenyum lebar. Duduk kembali di samping Umi Maryam, "Bagaimana kesehatan Umi?"


"Alhamdulillah baik, Nak."


"Jangan lupa kontrol dengan rutin, Umi. Agar gula darah tetap stabil."


"Insyaallah, nanti Umi kontrol rutin di puskesmas saja."


"Jangan dong, Umi. Tetap di rumah sakit yang kemarin saja. Jangan khawatir kejadian seperti kemarin tidak mungkin akan terulang lagi."

__ADS_1


Tanpa di duga malam ini datang Erina dengan segala permasalahan penghitungan tentang pesanan yang melimpah tetapi eror. Mata Erina langsung terbelalak melihat wajah laki-laki blasteran yang duduk di samping Umi Maryam.


"Ve, elu lagi diapelin sama si doi?" tanya Erina sambil berbisik.


"Hus ... Diapelin pala lu peang, dia sedang mentraktir anak panti makan bakso."


"Gue mau dong nyobain bakso si Mas bule, kali aja reasanya beda."


"Noooh masih ada tiga porsi, makan cepetan. Sini pekerjaan yang elu bawa gue benerin sebentar, dasar dodol lu!"


Khan hanya mengangguk, melipatkan tangan di dada dan tersenyum kepada teman Vefe. Umi Maryam yang menceritakan yang baru saja datang adalah teman Vefe dari masa SMA. Yang sekarang menjadi teman berjualan online di rumah Erina.


Sambil berjalan sedikit mermbukuk Erina melewati Khan dan Umi Maryam, "Permisi Umi ... Mas, Erin mau ikut makan bakso."


"Tentu Umi, pasti Nenek akan seneng banget dapat traktiran dari gebetan Vefe."


Vefe melempar polpen kearah Erina sambil melotot, "Jaga omongan elu. Gue santet jadi cantik baru tahu ya!"


"Wuuuih mau banget dong jadi cantik. Nanti Erin akan gaet itu si Mas Bule," jawab Erina sambil mengedipkan mata kearah Vefe.


Vefe hanya mengerucutkan bibirnya, candaan Erina membuat salah tingkah. Sedangkan Khan hanya tersenyum mendengar candaan mereka sambil terus mendengarkan Umi Maryam bercerita.


Vefe terus berkonsentrasi mengerjakan catatan yang di bawa Erina. Khan mendekati Vefe setelah meminta izin kepada Umi Maryam, "Permisi Umi!"

__ADS_1


Khan langsung duduk berjongkok di depan Vefe, "Pesanannya banyak, Ve?"


"Eee lumayan, Mas."


"Apa yang dijual sama Vefe?"


"Macam-macam, Mas. Baju, kosmetik tas, pokoknya keperluan wanita gitu."


"Mas tidak bisa beli dong?"


"Bisa Mas, kalau Mas mau berdandan cantik."


"Eee lekong dong, tidak mau aah!"


Vefe tergelak tetapi masih konsenterasi pada pekerjaan yang di tulis tangan oleh Erina. Khan memperhatikan tangan Vefe yang cekatan menghitung angka yang ada. Vefe menghitung tanpa bantuan alat penghitung, sesekali dia mengerutkan keningnya terlihat berpikir dengan sungguh-sungguh.


"Mengapa tidak pakai kalkulator, Ve?"


"Cuma sedikit aja kok, Mas. Kalau banyak baru hitung pakai kalkulator."


"Mengapa tidak memakai komputer, lebih mudah lo daripada dengan tulisan tangan?"


"Itu target ke depannya, Mas. Untuk sekarang belum cukup modal untuk membeli perlengkapan,"

__ADS_1


"Apakah boleh Mas ikut menanam modal?"


__ADS_2