Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 107. Food Court


__ADS_3

Saat masuk kamar, Khan melihat Vefe sedang bobok cantik sambil memeluk guling. Wajahnya terlihat cerah dan bersinar. Senyumnya terlihat tipis walaupun sedang terlelap.


Khan lansung mencium seluruh wajah Vefe sambil berkali-kali mengucapkan kata maaf, "Sayang ... Maafkan Mas."


Yang di cium hanya menggerakkan kepala perlahan dan bergumam seolahsedangmimpi, "Hhmm...."


"Maafkan Mas ya, Sayang. Mas yang salah deh, yang penting Ve tidak marah." Kembali Khan menciumi wajah Vefe dengan raut wajah yang khawatir.


Vefe terbangun karena wajahnya ada kecupan berkali-kali, "Hhmm apa sih, Mas?" tanya Vefe masih memejamkan mata dan enggan terbangun.


Khan mengerutkan keningnya, sudah berkali-kali meminta maaf. Dia masih anteng dan enggan bangun dan malas membuka mata. Biasanya orang yang lagi marah seharusnya langsung terbangun dan menujukkan raut wajah yang jutek.


"Maafkan MAs, tentang pemesanan gedung itu ya, semua hanya salah faham." Kembali Khan mencium wajah Vefe dan berakhir di bibir.


Vefe langsung membuka mata perlahan tidak menjawab permintaan maaf Khan. Melihat Khan yang masih memegang bunga dan cokelat sambil tersenyum, "Itu bunga dan cokelat untuk Ve?"


"Iya, sebagai pemintaan maaf Mas."


"Mas melakukan kesalahan apa?"


"Alhamdulillah, Ve tidak marah sama Mas?" Khan mengulurkan bunga dan cokelat, dia kembali mengecup bibir Vefe sekilas.


Vefe bagun kemudian duduk dan menerima bunga serta cokelat. Memandangi wajah Khan yang terlihat khawatir, "Mas bahas soal Eno?"


"Iya jangan marah ya, Sayang. Mas bisa jelaskan Kok!"


Vefe menciumi bunga mawar merah yang ada di tangan. Tidak menjawab pertanyaan Khan karena matanya terfokus pada cokelat putih yang terlihat enak. Air liurnya seolah menetes membayangkan lembutnya rasa coklat putih.


"Sayang ... Mas tidak sanggup kalau Ve marah seperti dulu, maafkan Mas ya!"


"Siapa yang akan marah sih, Mas. Ve sudah tahu kok persoalan Eno si ganjen itu dari Pak Gun."


Khan bernapas lega, kekhawatiran dan kegalisahaan yang dirasakan hilang sudah, "Pak Gun yang menemui orang dari gedung itu?"


"Awalnya hanya Ve sendiri, Ve bingung ingin bertanya siapa karena Mas tadi pagi bercerita akan meeting jadi Ve tanya Pak Gun."


"Mas sangat khawatir tadi, kalau Ve marah dan tidak percaya."


"Ve lebih percaya Mas Khan daripada berita seperti itu."


"Terima kasih. Cinta Mas hanya untuk Ve seorang."


"Ve tahu itu."


Vefe membuka cokelat putih yang terlihat menggoda, menyantapnya sepotong demi sepotong sambil mendengarkan cerita Khan tentang peristiwa pemesanan gedung.

__ADS_1


Cerita belum selesai cokelat putih sudah habis tanpa sisa, "Yaaa Mas sudah habis," kata Vefe dengan suara manja.


"Ve mau lagi?"


"Apakah masih ada?"


"Mas cuma beli satu, Ayo kita beli lagi ke sana, Ve mau ikut?"


"Iya mau ... Tunggu Ve ganti baju dulu!"


Dengan riang Vefe turun dari tempat tidur menuju ke lemari. Berganti baju dengan cepat sambil tesenyum, "Mas, selain cokelat putih, Ve antar ke gedung yang sudah dipesan oleh Eno ya!"


"Eee mau ngapain ke sana, Sayang?"


"Tidak tahu, pokoknya Ve ingin lihat saja."


"Baiklah ayo kita berangkat!"


Khan langsung meluncur mengajak Vefe ke toko cokelat. Membelikan Vefe banyak cokelat untuk istrinya. Kemudian melajukan mobilnya kembali ke gedung yang dulu di pesan oleh Eno.


Sampai di depan gedung, Khan menghentikan mobilnya, "Itu gedungnya, Ve mau lihat dari sini atau mau turun?"


Belum sempat menjawab pertanyaan Khan. Vefe melihat sosok laki-laki yang berpenampilan antik sedang menggandeng seorang wanita. Mereka keluar dari gedung sambil tersenyum dan berjalan ke arah parkiran.


"Mana sih, Sayang?"


"Itu yang sedang memakai kaos loreng dan menggandeng seorang wanita."


"Betul dia, siapa wanita yang di gandengnya?"


"Mungkin sang mantan yang kemarin di ceritakan kali, Mas."


"Biarkan saja, kita pura-pura tidak tahu saja."


"Eeee Ve mau turun!" teriaknya.


Khan mengira Vefe ingin menemuai Wahono yang sedang berjalan ke parkiran. Khan langsung turun dari mobil berlari menyusul Vefe, "Sayang mau ke mana?"


"Itu Ve mau beli es goyang yang ada di pojok gedung itu!"


"Ooo ya sudah sana beli!"


Ternyata di pinggir gedung itu berjajar pedagang food court dari depan ke beakang. Vefe tersenyum setelah membeli es goyang satu buah saja. Dia berjalan menyusuri pedagang dan melihat apa yang diinginkan.


Khan hanya mengikuti dan menggandeng tangan Vefe dengan mesra, "Mau pingin makan apa, Sayang?"

__ADS_1


"Sebentar belum ada yang tertarik, Mas."


Berjalan hampir sampai ujung food court Vefe masih memilih makanan yang diinginkan. Tanpa sengaja Khan melihat Aan dan Kak Mur sedang duduk berdapingan sambil menikmati bakso.


Khan hanya melirik sekilas karena Vefe yang terus berjalan memilih makanan. Khan memandangi mereka yang terlihat mesra dan bahagia, "Sayang di kedai bakso itu ada Aan dan Kak Mur," bisik Khan di samping telinganya.


"Apa mungkin dua sahabat Mas tadi doble date ya, Mas?"


"Bisa jadi, Sayang. Berarti mereka sudah mendapatkan pasangan masing-masing."


"Aamiin."


Khan sengaja tidak menyapa Aan dan Kak mur. Pura-pura tidak melihat agar mereka tidak merasa terganngu. Lebih memilih mengikuti Vefe yang bingung ingin memilih makan apa.


Deretan food court sangat panjang dari gedung bagian depan sekitar ada 30 pedagang. Mulai dari makanan tradisional dan modern tersedia di sini. Vefe bingung harus memilih yang mana terlihat semua enak dan lezat.


"Ve pingin sate taichan, teoge goreng dan soup buah, tetapi tempatnya berbeda-beda."


"Mau di bawa pulang atau pingin makan di sini?"


Belum sempat memilih makanan, Khan ditepuk bahunya, "Bro ...!"


"Astagfirullah ...!" ucap Khan sambil mengusap dadanya.


"Kamu memata-matai kami ya?" tanya Wahono.


Khan mengerutkan keningnya, tadi dia ada di parkiran menggandeng wanita. Sekarang sudah ada di sampingnya. Saat menengok wanita yang di gandeng ternyata masih ada di sampingnya.


"Kurang kerjaan memata-matai orang pacaran, nich istri tercinta lagi ngidam pingin makan di sini."


"Ooo kirain ...?" Wahono tidak melanjutkan ucapannya dan dia hanya tersenyum devil.


"Tadi aku lihat sudah di parkiran, mengapa ke sini?"


"Aku lihat mobil kamu dipinggir jalan, aku juga lihat kamu berjalan ke sini. Jadi aku ikuti."


"Kalian doblle date di sini?" tanya Khan.


"Doble date dengan siapa? aku ke sini berdua saja."


Khan mengerutkan keningnya, tadi melihat Aan dan Kak Mur di kedai bakso. Mereka tidak jauh letaknya dari tempatnya berdiri saat ini. Berarti Wahono tidak tahu jika Aan dan Kak Mur ada di sini juga.


"Ada Aan dan Kak Mur di kedai bakso sebelah sana!" tunjuk Khan ke arah kedai bakso.


"Waduh mati aku!" teriak Wahono.

__ADS_1


__ADS_2