Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 202. Kakek Termenung


__ADS_3

Sampai satu minggu berlalu, misteri tentang kekasih Eno belum juga terkuak. Vefe juga tidak lagi penasaran atau mencari informasi tentang kabar itu. Karena disibukkan persiapan ke USA nanti malam.


Perjalanan jauh untuk pertama kali bagi baby Aaron. Sehingga Vefe mempersiapkan keperluan putra semata wayangnya dengan matang. Mulai dari pakaian, vitamin, mainan sampai keperluan dari bangun tidur sampai tidur malam.


Berkumpul di Bandara Internasional Suekarno Hatta di ruang khusus. Dengan fasilitas yang sangat sangat lengkap. Sambil menunggu keluarga datang semua, mereka menikmati fasilitas ruang tunggu.


"Siapa yang belum datang, Tante?" tanya Khan kepada Tante Darwati.


"Tunggu sebentar, Nak Khan. Keluarga Tante Prapti masih dalam perjalanan."


"Baik kita tunggu saja."


Khan melirik Kakek Raharjanto yang duduk termenung. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Seolah hatinya masih ragu untuk berangkat.


Khan langsung duduk di sampingnya dan menepuk pundaknya, "Apakah Kakek masih ragu untuk bertemu dengan Mommy?"


"Eee ... Kakek tidak ragu, hanya masih bingung saja, sudah berpuluh tahun Kakek tidak pernah mau menemui dia. Kakek jadi takut dia marah sama Kakek."


"Mommy tidak pernah marah sama Kekek, Beliau sangat merasa bersalah dan ingin selalu meminta maaf kepada Kakek."


"Kakek jadi merasa bersalah sekarang. "


"Kakek jangan khawatir, Mommy sangat menyayangi dan menghormati Kakek."

__ADS_1


Kakek Rahajanto menjawab dengan mengangguk. Pandangan matanya menerawang terlihat masih ragu dan bimbang. Sudah puluhan tahun tidak tidak pernah berkomunikasi ataupun berhubungan langsung setelah peristiwa kecelakaan dulu.


Dalam perjalanan menuju USA, Kakek Raharjanto masih banyak termenung. Tidak ikut bercanda dan berbincang dengan putri dan cucunya. Dia lebih banyak diam dan menyendiri.


Vefe yang baru saja keluar dari kamar kabin melihat keluarga sedang bercanda dengan riang. Namun melihat Kakek Raharjanto hanya terdiam. Vefe langsung duduk di sampingnya, "Kakek ...?"


Kakek Raharjanto tersentak kaget padahal Vefe memanggil dengan perlahan. Terlihat murung dan wajahnya pucat kurang tidur.


"Apa yang Kakek pikirkan?"


"Nak Ve ... apakah baby Aaron sudah tidur?"


"Sudah, mengapa Kakek murung?"


"Apakah Kakek terpaksa berangkat ke USA?"


"Sama sekali tidak, Kakek hanya sedang merenung tentang apa yang Kakek lakukan dulu pada Mommy kamu. Kakek selalu menyalahkan dia, tidak pernah mendengar penjelasan dia."


"Semua sudah berlalu, Kek."


"Seandainya waktu bisa di putar kembali, Kakek akan mendengar penjelasan dia, jika mau membuka hati mungkin sudah sejak lama Kakek bertemu denganmu."


"Mungkin ini sudah takdir yang maha Khaliq, semoga kedepannya nanti kita lebih baik."

__ADS_1


"Aamiin, terima kasih. Sekali lagi maafkan Kakek ya!"


"Iya ... Ve sangat menyayangi Kakek."


Pukul sembilan pagi waktu Amerika pesawat mendarat di bandara. Di jemput oleh Ayah Jose dan Smith. Mereka langsung menuju kediaman Ayah Jose untuk beristirahat.


Seharian ini keluarga besar Kakek Raharjanto berwisata di Patung Libarty. Hanya Elya, Smith dan Freya yang mendampingi mereka. Vefe dan Khan tidak ikut ke sana. Karena harus memenuhi undangan perguruan silat teman Khan.


Ada pertandingan antar perguruan silat asli Indonesia yang ada si seluruh daerah Amerika Serikat. Hari ini adalah babak final untuk merebutkan juara umum. Khan dan Vefe diminta menjadi juri tamu dalam ajang itu.


Saat penjurian semua berjalan dengan lancar. Waktu menunggu pengumuman menjadi seru saat dengan spontan pembawa acara meminta Khan dan Vefe menunjukkan kemampuannya untuk bertanding.


Ini pertama kali Vefe bertanding dengan suaminya sendiri. Biasanya jika di rumah sering berlatih atau olahraga bersama. Namun tidak pernah bertanding layaknya pesilat yang bertanding di arena atau di panggung.


Sama-sama pemegang sabuk hitam dalam perguruan. Memiliki kemampuan dan ciri khas masing-masing. Apalagi Khan sangat disegani di perguruan yang ada di Manhatten.


"Mami ... anggap aja Papi ini lawan Mami, jangan sungkan untuk menyerang," bisik Khan saat keduanya baru masuk di arena pertandingan.


Para peserta antusias duduk melingkar di arena pertandingan. Memberikan tepuk tangan dan dukungan penuh untuk pasangan suami istri yang akan bertanding.


"Kalau Mami yang menang, Papi harus mendapatkan hukuman dari Mami ya?" tantang Vefe.


"Dengan senang hati, asal jangan hukuman berhenti beraksi senjata tomahawk. Papi siap saja!"

__ADS_1


__ADS_2