
Vefe memandang Eno dengan lekat setelah dia mengatakan masih ragu dengan hatinya. Hanya dengan melihat sorot mata dia saja sudah bisa menebak jika wanita itu masih trauma. Tidak mungkin mudah mengalami pernikahan yang gagal padahal sudah sampai di hari H.
"Karena pernikahan gagal kemarin pasti banyak orang yang akan mengejek dan menghina Eno."
"Kalau niat baik untuk menikah, sebaiknya jangan terlalu mendengarkan kata orang, Mbak. Toh yang menjalankan Mbak Eno, bukan orang lain."
Eno hanya mengangguk saja, semakin mengenal cara pandang hidup Vefe. Wanita sederhana itu selalu bisa menyikapi persoalan dengan dewasa. Tidak seperti dirinya sendiri yang selalu melihat sesuatu dihitung dengan materi dan ekonomi.
"Kalau menurut kamu, apakah Bang Rian mencitai Eno dengan tulus?"
"Ve melihat sorot matanya selalu berbinar saat melihat Mbak Eno, dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Tidak mungkin dia berani langsung melamar kalau dia tidak mencintai Mbak Eno, kan?"
"Benar juga sih, apakah tidak terlalu cepat, seandainya Eno menikah dengan Bang Rian?"
"Mbak ... kalau masih ragu, lebih baik sholat istiharah saja. Itu cara terbaik menurut Ve."
Eno meneteskan air mata mendengar nasehat Vefe. Selama ini selalu jauh dari tuntunan agama. Selalu hidup bebas dan tanpa memperdulikan batasan antara baik dan buruk.
"Lho ... mengapa Mbak Eno malah menangis?"
"Eno selama ini jauh sekali dari ...?" Eno semakin tergugu.
Vefe langsung memeluk Eno dengan erat. Rasa kasihan dan iba mendengar pengakuan dia. Karena pergaulan yang kurang baik membuat dia jauh dari ajaran yang seharusnya.
"Terima kasih, Eno akan berubah mulai sekarang."
Tanpa di sadari kedua orang tua Eno, Bunda Fatia berdiri tidak jauh dari gazebo. Pak Marsono ikut meneteskan air mata mendengar percakapan itu. Ibu Eno termenung dengan pandangan mata yang kosong.
Bunda Fatia langsung berlari dan memeluk Vefe dan Eno yang sedang berpelukan, "Putri Bunda sangat bijaksana. Semoga Eno juga bisa mengambil semua hikmah dari pengalaman kemarin."
"Iya Bun, Eno akan berusaha."
"Bunda bisa aja," jawab Vefe sambil tersenyum.
"Ayo kita makan siang dulu, Bunda lapar!"
"Iya ...."
Saat makan siang, Vefe tidak melihat Mpok Ria. Biasanya dia yang paling antusias saat ada baby Aaroon ikut bergabung makan siang. Hanya ada Pak Gun dan dua bibi yang mempersiapkan makan siang.
"Pak Gun, Di mana Mpok Ria?" tanya Vefe.
"Ada di panti asuhan, katanya kangen masakan Bibi Kudri," jawab Pak Gun.
"Jangan bilang Mok Ria ke sana naik angkot, Pak?" tanya Vefe lagi.
"Naik mobil online, Nyonya. Jangan khawatir."
Vefe sangat khawatir dengan keadaan Mpok Ria. Walaupun terlihat Mpok Ria baik-baik saja tetapi dia harus diperhatikan. Karena daya tahan tubuhnya tidak seperti ibu hamil biasa.
__ADS_1
Selain karena umur yang tidak muda lagi. Mpok Ria belum mengalami kenaikan berat badan normal seperti ibu hamil pada umumnya. Walaupun usia kehamilan kini memasuki bulan ke enam.
"Jangan pulang dengan mobil online, Pak. Nanti Ve saja yang jemput!"
"Tidak perlu, Nyonya. Pak Gun saja nanti yang jemput."
"Beneran lo ya, jangan biarkan Mpok Ria pulang sendiri."
"Iya ...."
Sepulangnya para tamu, Khan penasaran apa saja yang dibicarakan dengan Eno. Khan langsung mengajak Vefe masuk kamar dengan alasan beristirahat. Dari awal saat melihat istrinya berjalan ke belakang rumah, rasa khawatir takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Mami tidak disakiti oleh wanita ganjen itu, 'kan?"
Vefe tersenyum sambil menggelengkan kepala. Kekhawatiran Khan terlalu berlebihan tentang wanita yang dulu selalu mengejarnya. Tidak mungkin berani Eno menyakiti secara fisik, pasti akan ditendang dengan satu jurus saja sudah tersungkur.
"Terus bicara apa saja kok lama sekali?"
"Banyak sekali, Pi. Walaupun luarnya terlihat galak dan sok berkuasa ternyata hatinya sangat rapuh."
"Rapuh bagaimana?"
"Banyak pengalaman pahitnya daripada senang, pergaulan yang salah, dan bahkan dikhianati sahabatnya sendiri."
"Apakah dia juga mengaku kalau masih suka sama Papi?"
"Eee Papi mulai narsis."
"Dia berani mengakui, tetapi menurut Mami, Mbak Eno itu terobsesi sama Papi."
"Teropsesi bagaimana, Mi?"
"Dia lebih teropsesi dengan harta dan kekayaan keluarga Papi."
Khan langsung mengerutkan keningnya memikirkan ucapan Vefe. Menurutnya cinta dan obsesi hanya beda tipis. Sayangnya lebih mengarah kemapanan dan kenyamanan hidup tujuannya.
"Alhamdulillah," ucap Khan sambil menghembuskan napas perlahan.
"Mengapa mengucap syukur, Pi?"
"Alhamdulillah jodoh Papi itu Mami, bukan dia."
"Maksudnya?"
"Papi membayangkan kalau jodoh Papi wanita ganjen itu pasti dia kerjaannya menghambur-hamburkan uang saja."
"Berarti ... Eee tidak jadi deh!" Vefe tidak jadi berkomentar tentang apa yang dibayangkan oleh Khan.
Khan hanya tersenyum karena tahu betul apa yang dipikirkan oleh istrinya, "Kalau yang menghambur-hamburkan uang itu Mami, pasti Papi akan bahagia."
__ADS_1
"Tahu aja apa yang ada dalam pikiran Mami," jawab Vefe dengan tersenyum.
"Jelas dong, Mami itu belahan jiwa Papi, apapun yang ada dipikiran Mami pasti Papi tahu. Pasti Mami juga tahu apa yang ada di pikiran Papi?" tanya Khan sambil mengedipkan mata.
Vefe mengerucutkan bibirnya karena tahu betul apa yang diinginkan Khan. Selalu saja ujung-ujungnya modus tanpa melihat waktu, "Mami sangat tahu."
"Asyik ... ayo beraksi, I love you."
Khan bukan mengajak Vefe istirahat seperti tujuan awal. Namun mengajak istrinya melayang menuju surga dunia. Aji mumpung saat baby Aaron sedang bermain dengan Ayah Jose dan Bunda Fatia.
Baru saja Khan tumbang disamping Vefe setelah mencapai puncak. Ada suara ponsel milik Vefe berdering, "Pi ... tolong dong ambilkan!"
"Lebih baik ambil sendiri, Papi akan sangat suka saat Mami mengambilnya tanpa ditutupi, Pasti Papi langsung on lagi," canda Khan dengan mengedipkan mata.
"Iiiih Papi, cepat ambil. Papi aja yang tanda ditutupi."
"Nanti Mami on juga?"
"Kagak ... cepat nanti keburu mati ponselnya."
"Baiklah, perintah Mami Sayang adalah titah yang wajib dilaksanakan."
"Dasar tukang modus."
Sambill tersenyum, Khan mengambil ponsel yang dari tadi berbunyi. Dia melakukan apa yang diperintahkan Vefe. Yaitu berjalan polos tanpa sehelai benangpun sambil tersenyum devil.
"Iiiih ... Papi ini aneh!"
Ada panggilan dari Umi Maryam yang masuk dalam ponsel milik Vefe. Khan langsung menyerahkan ponselnya, "Ini ponselnya, telepon dari Umi!"
"Terima kasih, Pi."
Vefe langsung menekan tombol hijau untuk menerima suara panggilan ponsel. Khan menjawab dengan berbisik ditelinga Vefe, "Sama-sama ... jangan lupa ada imbalannya ronde ke dua."
Vefe menjawab panggilan ponsel Umi Maryam sambil melotot ke arah Khan, "Assalamualaikum, Umi."
" ...."
"Ada apa, Umi?"
"...."
"Sabar dong Umi, jangan emosi!"
"..."
"Ya Ve ke sana sekarang!"
BERSAMBUNG
__ADS_1
yok mampir ke novel teman author yang rekomen banget ini, ada di novel toon juga kok, terima kasih.