Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 50. Kemarahan Asisten Satria


__ADS_3

Asisten Satria berlari masuk kantor Khan dengan menerjang pintu tanpa di ketuk terlebih dahulu. Mendengar teriakan Khan di telepon terdengar sangat marah besar. Sudah bisa menebak pasti akan ada perang ke dunia ke dua di kantor tuannya.


"Ada apa, Tuan?"


"Apakah kamu sudah bosan bekerja, mengapa dia ke sini?"


Asisten Andri melihat seorang resepsionis yang berdiri terpaku melihat Khan marah. Dia terlihat takut dan tertunduk. Sebenarnya sudah tahu peraturannya jika akan menghadap Tuan Khan harus memalui asistennya dulu.


Asisten Satria melotot kearah resepsionis, "Apa yang kamu lakukan?"


"Maaf, Pak. Saya hanya ingin memberikan paket makanan dari Kafe Sanpar." Resepsionis menjawab sambil mengulurkan satu paper bag yang berisi paket makanan.


"Dasar bodoh kamu, sana bawa keluar papar bag itu, tunggu di kantorku, cepat!" Asisten Satri juga ikut marah karena resepsionis yang membuat kesalahan fatal.


Kafe Sanpar adalah kafe milik Sania Parwati. Singkatan nama depan wanita yang sangat tergila-gila dan teropsesi dengan Khan. Walaupun dari awal Asisten Satria tidak bercerita nama kafe itu, tetapi pasti akan sangat mudah di tebak oleh Khan.


"Maafkan atas keteledoran saya, Tuan. Semua akan saya atasi segera," kata Asisten Satria untuk sedikit menenangkan tuannya yang marah besar.


"Kamu beri peringatan resepsionis itu, sekali lagi membuat kesalahan pecat saja dia!" Khan masih emosi.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


"Kembalikan makanan itu pada si Minyak Goreng. Katakan jika dia sekali lagi mengirim makanan lagi ke sini akan aku ratakan dengan tanah kafenya!"


Asisten Satria mengangguk tetapi sambil tersenyum kecil. Dia hanya bisa bergumam dalam hati mendengar ancaman Khan. Menggunakan apa meratakan kafe Sanpar?


"Saya permisi, Tuan. Saya saja yang meratakan hati Nona Sania Parwati," jawab Asisten Satria sekenanya.


Asisten Satria langsung masuk ruangannya sendiri dan bertolak pinggang di hadapan resepsionis, "kamu sudah berapa tahun kerja di perusahaan PT KURNIA?"


"Dua tahun, Pak." Resepsionis menjawab sambil menunduk.


Ada salah satu peraturan perusahaan yang harus di patuhi yang dibuat oleh Khan. Setiap karyawan yang akan menghadap pimpinan harus melalui Asisten Satria atau sekretaris Asisten Satria.


"Saya masih ingat semua peraturan itu. Saya pikir paket bukan termasuk dalam peraturan."


Asisten Satria mengambil paket paper bag dengan kasar. Matanya melotot dan wajahnya memerah karena kesal. Pekerjaan menumpk ditambah lagi tingkah resepsionis yang sangat tidak berguna.


"Dengan terpaksa, saya memberikan Surat Peringatan kepadamu, jika sekali lagi kamu melakukan kesalahan yang sama, akan dipecat dari perusahaan ini, kamu mengarti?"

__ADS_1


"Ya saya mengerti."


"Kamu kembali ke tempat bekerja!"


"Baik, Pak. Saya permisi."


"Satu lagi, jika ada kurir yang mengantar makanan untuk Tuan Khan terutama dari kafe yang sama, lain kali langsung kamu tolak, Bilang pada semua respsionis!"


"Siap ...."


Asisten Satria langsung keluar perusahaan menuju kafe Sanpar dengan membawa paper bag di tangan. Melajukan mobilnya seperti orang kesetanan. Semua terkena marah hanya gara-gara wanita pemilik kafe.


Memarkirkan mobilnya di sembarang tempat setelah sampai di kafe Sanpar. Ada tukang parkir yang berteriak tidak di hiraukan oleh Asisten Satria. Emosinya seolah-olah sudah mengeluarkan asap di kepalanya.


Mendorong pintu kafe dengan kasar. Tidak memperdulikan pelayan kafe yang menyambut dengan tersenyum dan menunduk sopan. Dia langsung berjalan menuju kantor milik owner kafe yang ada di samping dapur.


Kembali mendorong pintu kantor tanpa mengetuk pintu dan membuka dengan kasar. Ada Sania Parwati yang sedang duduk dan konsentrasi pada laptopnya. Dia tersentak kaget saat melihat Asisten Sartia masuk dengan wajah yang memerah menahan emosi.


"Satria ...!" teriak Sania Parwati.

__ADS_1


"Katakan, Apa maksud kamu mengirim ini untuk Tuan Khan?" tanya Asisten Satria sambil melemparkan papar bag di meja kerja Sania Parwati.


__ADS_2