Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 85. Terkontaminasi


__ADS_3

Vefe beganti baju gaun pengantin warna putih. Khan juga mengenakan stelan jas dengan warna senada. Keluar dari kamar di gandeng oleh Khan dengan mesra. Diikuti kurcaci-kurcaci dari belakang berjalan perlahan.


Bak seperti ada di negeri dongeng saat ini yang dirasakan oleh Vefe. Tidak menyangka bisa merasakan pesta pernikahan dengan tema yang unik. Seperti mimpi di siang bolong rasanya.


Tamu undangan hanya terbatas terdiri teman dekat, kolega dan petinggi perusahaan. Donatur resmi yaang selalu setia pada panti asuhan juga hadir saat ini. Semua ikut larut dalam kebahagiaan Vefe dan Khan.


Hanya sayangnya Elya tidak bisa hadir dan menyaksikan kebahagiaan Khan dan Vefe. Ada urusan yang tidak bisa ditinggal olehnya. Elya berjanji akan datang di pesta pernikahan yang ada di Surabaya nanti.


Pukul tiga sora acara telah selesai di gelar. Keluarga dan teman dekat satu persatu berpamitan pulang. Termasuk Bunda Fatia dan rombongan pulang ke rumah masing-masing.


Khan sedang duduk di pinggir tempat tidur milik Vefe. Memperhatikan kamar Feve yang berukuran kecil di tambah tempat tidur single bed. Kamar itu ukurannya setengah dari ukuran kamar mandi Khan.


Khan masih termenung saat Vefe keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap, "Mas ...!"


"Ya Sayang."


"Mandi sana, handuk sudah Ve siapkan di kamar mandi!"


"Ya Baiklah."


Khan masuk kamar mandi lebih tercengang lagi. Ukurannya kecil hanya ada shower dan kran saja di sana. Tidak ada bak hanya ada ember yang di letakkan di bawah kran.


Khan keluar dengan hanya melilitkan handuk dipinggangnya. Melenggang keluar kamar mandi mendekati Vefe yang sibuk merapikan baju milik Khan, "Ve ... Mana baju Mas?"


"Mau pakai yang mana, Mas?"


"Terserah saja."


Vefe masih menunduk tidak berani melihat Khan yang berdiri di depannya. Ve lebih memilih berpura-pura merapikan baju Khan yang ada di koper, "Ini silahkan, Mas!"


Khan menerima baju sambil memperhatikan Vefe yang tidak berani memandang dirinya. Dengan usil bukan bajunya tetapi tangan Ve yang di tarik. Yang awalnya duduk berjongkok Vefe berdiri berhadapan langsung dengannya.


"Eeee ...?"


Vefe langsung berada dalam pelukan Khan, "Mengapa dari tadi menunduk tidak mau melihat mas?"


"Cepat pakai baju, Mas. Nanti masuk angin!" Vefe mencoba lepas dalam pelukan Khan.


"Apakah boleh Mas latihan dan melakukan yang kemarin kita bahas?"

__ADS_1


"Pakai baju dulu dong, takut nanti handuknya lepas, bagaimana?"


Khan tergelak sambil melepaskan pelukannya, "Tidak apa-apa dong, sekalian nanti ...!" Khan tidak melanjutkan ucapannya tangan Vefe menutup mulut Khan agar tidak dilanjut ucapannya.


"Di larang mesum ini masih sore!"


Khan mengambil tangan Vefe dan mencium jemarinya berkali-kali. Otak Vefe mulai tertular karena sering digoda olehnya. Semakin membuat Khan bahagia melihat wajah Vefe yang bersemu merah karena malu.


"Tidak masalah masih sore, yang menting Mas bisa berlatih di situ!" tangan Khan menunjuk bibir vefe yang terlihat ranum berwarna merah muda.


"Pakai baju dulu cepetan!"


Khan memakai baju atasan saja dan tidak memakai celan yang sudah disediakan oeh Vefe, "Sudah selesai, cepat ke sini!" Khan langsung menarik Vefe kembali dalam pelukan.


Khan mencium bibir Vefe dengan lembut. Dia hanya mempraktekkan yang di lihat tutorial di media televisi taupun media sosial. Vefe hanya menikmati sentuhan Khan sambil memejamkan mata.


Vefe tidak membalas ciuman Khan. Dia tanpa sengaja memegang pinggang Khan yang masih memakai handuk di pinggang. Dengan otomatis handuk terlepas dan terjatuh di lantai.


Dengan usil Khan memanfaatkan siatuasi, "Eee ... Ve sudah tidak sabar ya?"


"jangan ngawur ya, Mas!" teriak Vefe.


"Mengapa menghadap ke sana, Sayang. Ve boleh lihat kok!"


"Tidak ... Cepat pakai celananya, Mas!"


Khan memakai celana dengan cepat, memajukan bandannya dan kembali memeuk dari belakang. Pikiran vefe sudah traveling dan membayangkan hal 21 plus lagi saat badan Khan menempel sempurna.


"Mas Khan mau ngapain?"


"Hayo ... Ve berpikir apa?" goda Khan lagi.


"Ve tidak berpikir apa-apa, awas Ve mau mengambil air putih di dapur!"


Ve berlari keluar kamar sambil menunduk. Khan duduk kembali di tempat tidur setelah pintu tertutup. Masih memandangi kamar Vefe yang kecil dan sederhana.


Kamar tidak ada AC, hanya ada kipas angin di pojok dekat kamar mandi. Ada meja dan dua kursi juga berukuran kecil. Lemari hanya satu pintu di samping kipas angin.


Ingin langsung berbulan madu, pesawat sedang berada di Manhatten untuk menjemput Elya dan keluarga besar. Tiga hari lagi pesta pernikahan akan di lakukan di Surabaya. Tidak ingin menyinggung perasaan Vefe padahal ingin bertanya akankah tidur di tempat tidur sekecil ini berdua.

__ADS_1


Khan meminta izin kepada Ayah Jose untuk berangkat ke Bali. Meminta mengirim helikopter yang saat ini ada di Hanggar Surabaya. Tidak memerlukan waktu yang lama dari Surabaya ke Jakarta.


Jalan tengah yang bijaksana malam ini tidak harus menginap di kamar Vefe. Dengan beralasan jarak dari Bali ke Surabaya tidak jauh. Hanya menyeberang selat Bali jika menempuh jalan darat.


Setelah mendapatkan izin dari Ayah Jose. Helikopter juga sudah dalam perjalanan Surabaya ke Jakarta. Khan keluar menyusul Vefe yang sedang mengoleskan balsem di kaki Umi Maryam.


"Kaki Umi kenapa?" tanya Khan ikut duduk di samping Vefe.


"Pegal sekali, Nak. Seharian Umi jalan menemui tamu."


"Panggil tukang urut saja, Umi."


"Tidak perlu, Nak. Nanti sembuh kalau dioleskan balsem."


Sambil mengurut kaki Umi Maryam, Khan meminta izin untuk berangkat ke Bali. Mengatakan sudah mendapatkan izin dari Ayah Jose. Dan beralasan sekelian akan langsung menuju Surabaya.


"Kita naik pesawat jam berapa Mas?" tanya Vefe setelah mendapatkan izin Umi Maryam.


"Kita tidak naik pesawat komersil, Sayang."


"Naik apa dong, Bukankah pesawat keluarga Mas Khan sedang menjembut Mbak Elya dan keluarga di Manhatten?"


"Naik helikopter perusahaan."


"Mas mempunyai helikopter juga?" tanya Vefe kaget dan dijawab dengan anggukan kepala.


Vefe masuk kamar setelah mengurut kaki Umi Maryam. Berniat mempersiapkan packing baju untuk berdua. Khan menyusul Vefe yang sedang berdiri di depan lemari.


"Ve mau ngapain?" tanya Khan memeluknya dari belakang.


"Mas ... Ve sedang packing, awas dulu!" Vefe mencoba melepaskan pelukannya.


"Tidak perlu membawa baju, Ve. Cukup membawa diri dan identitas lengkap saja."


Vefe mengeruskan keningnya memikirkan perkataan Khan. Di Bali selama tiga hari tetapi tidak boleh membawa baju. Pikiran Vefe ikut terkontaminasi dengan membayangkan harus tidak memakai baju selama di sana.


"Ve tidak mau kalau selama tiga hari tidak memakai baju di sana?"


"Eee mengapa Ve ketularan otak Mas?"

__ADS_1


__ADS_2