
"Umi jangan khawatir, nanti Ve yang bicara dari hati ke hati sama kakek."
"Janji ya, Umi tidak mau dia sampai salah faham, tidak mau juga dia sering menemui Umi."
"Iya Ve janji, sebaiknya Umi pura-pura tidak tahu aja, ayo keluar!"
"Baik ...."
Umi Maryam keluar kamar bersama Vefe bergabung dengan tamu yang sedang bercanda dengan baby Aaron. Berbincang dan bercanda seperti biasa layaknya keluarga. Di tambah Mpok Ria dan Pak Gun bergabung duduk di ruang tamu.
Mpok Ria mengajak pulang setelah hampir senja. Vefe juga ikut pulang bersama namun Kakek Raharjanto belum juga berniat untuk pulang. Umi Maryam memberikan kode kepada Vefe agar kakeknya ikut pulang.
Vefe tersenyum sambil mengangguk dan melirik kakek, "Kakek mau pulang bareng Ve?"
"Kakek bawa mobil sendiri, Nak."
"Tidak apa-apa ... atau Kakek mau mampi ke rumah Ve?"
"Tidak ... Kakek masih ingin main di sini."
"Ya sudah kalau begitu, Kakek di sini saja." Vefe mengedipkan mata kepada Umi Maryam.
Umi Maryam melotot ke arah Vefe sambil mulutnya komat-kamit. Seolah Vefe sengaja membiarkan kakeknya tinggal lebih lama di panti asuhan. Tidak memahami maksud Vefe mengedipkan mata.
"Ayo cepat ganti baju, Umi. Katanya minta antar mengambil baju jahitan!"
"Oya ... Umi sampai lupa. Tunggu Umi ganti baju!"
Umi Maryam mengacungkan jempol sambil berlari menuju kamar. Wajahnya berseri-seri walaupun Vefe berbohong. Demi kebaikan tidak apa yang terpenting tidak emosi lagi.
Vefe duduk kembali di samping Kakek Raharjanto. Melihat wajah kakek yang sedikit kaget, tetapi mencoba disembunyikan. Mencoba tersenyum sambil duduk bersandar di kursi.
"Bagaimana kabar Tante prapti, Tante Darwati dan keluarga, kek?"
"Alhamdulillah baik ... Prapti sekarang santai karena ibu-ibu sosialita sekarang sudah dibubarkan."
"Lo kok bubar, kenapa?"
"Arisan dan koperasi yang dibubarkan, tetapi ngumpul dan ngerumpinya tetap."
Khan dan yang lain sudah menunggu di mobil. Vefe masih menunggu Umi Maryam dan masih berbincang dengan kakeknya. Saat Umi Maryam keluar kamar, Kakek Raharjanto langsung berdiri menyambutnya, "Apa boleh saya yang mengantar, Umi?"
"Tidak terima kasih, tidak hanya satu tempat tujuannya."
"Baiklah ... saya pamit duluan kalau begitu."
"Iya silahkan. terima kasih," jawab Umi Maryam sambil membungkukkan badan.
"Nak Ve, Kakek pulang dulu."
"Iya Kek ... terima kasih."
__ADS_1
Umi Maryam melempar tasnya ke sofa saat Kakek Raharjanto ke luar dari pintu. Vefe berdiri menunggu kakeknya masuk mobil dan perlahan meninggalkan halaman panti asuhan. Vefe langsung meraih punggung tangan Umi Maryam untuk berpamitan.
"Ve pulang dulu, Umi. Assalamualaikum."
"Walaikum salam, hati-hati ya ... Nak."
Khan yang melihat Umi tidak jadi berangkat heran. Dari tadi menunggu, tetapi sekarang tidak jadi berangkat, "Umi ... tidak jadi ambil baju, ayo Khan antar?" tanya Khan dari dalam mobil duduk di kursi kemudi.
"Tidak jadi, Nak. Terima kasih."
Vefe masuk mobil duduk disamping Khan sambil tersenyum sendiri. Khan memandang Vefe sambil mengerutkan keningnya, "Mami kok tersenyum sendiri gitu, ingat sama ronde kedua ya?"
"Idih ... Papi modus saja jelas kagak dong, ronde kedua masih ditunda sampai waktu yang belum ditentukan."
"Jadi apa yang membuat Mami tersenyum begitu?"
"Kakek." Vefe langsung tertawa terbahak-bahak teringat cerita Umi Maryam.
"Cerita dong, Mami. jangan tertawa sendiri gitu!"
Sepanjang jalan dari panti asuhan sampai rumah Vefe bercerita tentang Kakek Raharjanto. Khan juga ikut tertawa setelah mendengar kakeknya yang sedang PDKT. Tanpa terasa mereka sampai di rumah dengan selamat.
Tanpa diduga Kakek Raharjanto sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Khan. Vefe kaget dan bingung melihat Kakek Raharjanto sedang berbincang dengan Ayah Jose. Tidak ada Bunda Fatia ataupun baby Aaron bersama mereka.
"Papi ... bagaimana ini, apa jawaban Mami kalau ditanya sama kakek?"
"Mami bohong sih, sekarang bingung mau mengarang bohong selanjutnya, 'kan?"
"Nanti Papi yang jawab, Mami diam saja."
Bergegas Khan turun dari mobil dan membuka pintu untuk Vefe, "Ayo turun, Mi!"
Khan menggandeng mesra Vefe berjalan mendekati kakek dan ayahnya, "Kakek dari panti asuhan langsung ke sini?"
"Iya ... Kakek masih kangen sama Aaron. Lho mana Umi Maryam?"
"Tadi Umi Maryam tidak jadi berangkat, jadi Khan langsung pulang."
"Ooo ...."
Khan mengedipkan matanya pada Vefe. Jawaban tidak harus berbohong karena memang Umi Maryam tidak jadi berangkat. Kakek pun tidak bertanya lebih lanjut tentang Umi Maryam.
Vefe mengangguk sambil tersenyum. Berjalan masuk rumah sambil termenung tentang kebohongan yang dibuat. Ternyata jika berbohong satu kali selanjutnya harus mempersiapkan kebohongan selanjutnya.
Masih berpikir cara mengatakan yang sebenarnya kepada kakek. Tidak ingin menyakiti hati kakek dan tidak ingin mengecewakan Umi Maryam.
"Papi ...!"
"Hhmm ...?"
"Apa solusinya agar Kakek Raharjanto tidak sering berkunjung ke panti asuhan?"
__ADS_1
"Cerita saja terus terang."
"Eee jangan dong, nanti Kakek patah hati!"
"Mami mau solusi yang top markotop?"
"Mau banget, apa itu?"
"Wani piro?"
Vefe mendorong lengan Khan perlahan, "Tega banget sih, Pi."
Khan tergelak dan memeluk pinggang Vefe dengan mesra, "Ini masalahnya sangat berat, Papi harus mendapatkan imbalan yang sesuai."
"Jangan hitung-hitungan dong sama istri sendiri!"
Sampai depan kamar ada suara baby Aaron yang menangis setelah bangun tidur. Masih dalam gendongan Bunda Fatia. Vefe langsung berlari mendekati putranya dan menggendongnya, "Sayang ... bagun tidur ya?"
Celotehan baby Aaron yang seolah laporan dan mengadu kepada Vefe membuat ibu satu anak tersenyum bahagia. Walaupun tidak semua celotehan dimengerti. Namun jawaban yang dilakukan membuat baby Aaron terdiam dan tidak menangis lagi.
"Mandi dulu ya!"
"Sana mandi dulu, nanti main lagi ... muaaaah." Bunda Fatia mencium pipi baby Aaron.
"Ya ... Oma, Aaron mandi dulu," jawab Vefe menirukan suara anak kecil mewakili putrannya.
Vefe menggendong baby Aaron masuk kamar. Khan melangkah ingin menyusul istri dan putranya. Ada suara panggilan dari ruang keluarga dengan keras, "Khan ...!" teriak Ayah Jose.
"Ya ...."
Khan tidak jadi masuk kamar, mencium pipi baby Aaron dan Vefe secara bergantian, "Papi ke bawah dulu ... muaah muaah!"
"Iya Papi."
Khan turun dengan berjalan setengah berlari menuruni tangga. Menuju ruang keluarga yang ada Ayah Jose dan Kakek Raharjanto. Langsung duduk di samping ayahnya, "Ada apa, Yah?"
"Kakek ingin bertanya."
Khan langsung memandang Kakek Raharjanto sambil mengingat cerita Vefe. Bisa menabak kemungkinan Kakek Raharjanto akan bertanya tentang Umi Maryam. Permintaan istrinya tadi masih bingung mencari solusinya. Apa jadinya jika kakek juga minta pertimbangan tentang puber ketiga.
"Bertanya apa, Kek?"
Kakek Raharjanto mengambil napas panjang dan menghembuskan perlahan. Baru membuka mulut untuk bertanya ada suara salam dari luar, Assalamualaikum ...."
"Walaikum salam."
BERSAMBUNG
mampir yok di novel teman author yang rekomen banget ini, ada di novel toon juga kok, terima kasih.
__ADS_1