Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 141. Lahir


__ADS_3

Mobil belum berhenti sempurna di depan UGD rumah sakit. Khan langsung turun dan menggendong bridal Vefe dengan cepat. Kepalanya sendiri sampai terbentur pintu mobil bagian atas, "Aduh pintu ini tidak elit banget sih!" teriak Khan tidak bisa mengusap kepalanya sendiri.


Vefe yang meringis menahan sakit bisa tersenyum mendengar Khan yang menggerutu, "Mas ini aneh banget."


Branker tempat tidur datang dari dalam ruang UGD. Vefe langsung dibaringkan dan masuk ruang UGD. Untungnya diperiksa oleh seorang bidan wanita yang kebetulan masih stan bye di ruang UGD.


Vefe langsung dipindahkan di ruang bersalin. Setelah bidan mengatakan jika Vefe sudah pembukan tujuh. Kemungkinan tidak kurang dari satu jam bayi akan lahir.


Dalam ruang bersalin Khan mulai berulah dan panik kembali saat Vefe semakin sering mengalami kontraksi. Dia selalu ikut mengambil napas panjang saat Vefe melakukannya. Mulutnya tidak berhenti berbicara tanpa henti.


Vefe semakin kesal saat Khan tidak bisa diam, "Mas, berhenti panik dan bingung, jangan berkomentar juga!"


"Mas tidak tahan melihat Ve seperti ini, dioperasi saja ya, Sayang?"


"Telat ... Kalau mau diopersi harusnya tadi sebelum peceh ketiban," gerutu Bunda Fatia ikut kesal.


"Tidak perlu, Mas. Ini sebentar lagi dia mau lahir."


Kurang dari satu jam, Dokter Ega datang dan kembali memeriksa Vefe. Melihat sampai pembukaan berapa saat ini, "Baiklah rileks saja, saya melihat kembali apakah sudah siap melahirkan atau belum?"


"Cepetan sedikit, Dok. Saya tidak tahan melihat dia kesakitan!"


Dokter Ega tersenyum sambil mengangguk, "Sabar ya, Tuan. Perjuangan seorang ibu melahirkan sakitnya ibarat semua tulang rusuk yang dipatahkan bersamaan."


"Sesakit itu, Dok?"


"Ya benar sekali, tetapi setelah bayi lahir akan berbanding lurus dengan kebahagiaan yang akan diterima."

__ADS_1


"Oooo ...."


"Ok ini sudah pembukaan lengkap saatnya si baby lahir, Suster tolong persiapkan semua!"


"Baik, Dok."


"Tuan ... Anda yakin akan mendampingi istri Anda di sini?"


"Sangat yakin, Dok."


"Ok kalau begitu, mohon maaf untuk Bunda menunggu di luar saja!"


"Baik, Dok. Khan mulutnya di kunci jangan nyerocos kayak bebek."


Khan tersenyum devil diikuti oleh yang lain, "Iya Bun, sudah Khan kunci," jawab Khan dengan memberikan kode tangan seperti gerakan mengunci pintu.


"Siap ...."


Khan mengangguk dan naik di brankar tempat tidur diatas kepala Vefe. Kaki di buka agar Vefe nyaman dalam pangkuan. Tersenyum sambil mengusap pipi Vefe berkali-kali.


Hanya sesaat saja Khan bisa mengunci mulutnya. Saat Vede mengalami kontraksi secara terus-menerus. Khan juga ikut bingung dan panik kembali sambil mulutnya selalu berkomentar.


"Dok Ve seperti ingin buang air besar!" teriak Vefe.


"Eee jangan di sini, Sayang!" Khan juga berteriak.


Dokter Ega tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Itu tandanya beby siap keluar, ambil napas panjang dan mengejanlah sekuat tenaga, mengerti?"

__ADS_1


"Mengerti, Dok." Sayangnya yang menjawab Khan bukan Vefe.


"Aaaaaaargh!" teriak Vefe.


"Tunggu ...!" teriak Dokter karena Vefe mengejan tanpa mengambil napas panjang.


"Ada apa, Dok?" tanya Khan lagi.


Sambil bernapas tersengal-sengal Vefe kesal dengan Khan yang panik sambil menggeplak dahi Khan, "Mas ... mulutnya di kunci dulu, Ve kesel dengarnya!"


"Iya maaf, Sayang."


"Ini mulai terasa lagi, Dok!" teriak Vefe.


"Ambil napas panjang ... ya bagus terus sekarang dorong!"


"Aaaaaaargh uf ... uf ... istirahat dulu, Dok." Vefe belum berhasil mengeluarkan tenaga sekuat mungkin.


Mulut Khan memang di kunci, tetapi dia mengikuti setiap gerakan yang dilakukan Vefe. Mulai dari mengambil napas panjang dan menghembuskan perlahan. Sampai dia berusaha mengejan sekuat tenaga dia selalu menirukan.


"Dok ... ayo!" teriak Vefe lagi.


"Ambil napas panjang dulu ... yak bagus. Ok dorong sekarang!"


"Bismillah hirrohman nirrohim ... Aaaaaaargh!"


"Oek ... oek ...oek!" suara tangisan bayi menggelegar di seluruh ruang bersalin

__ADS_1


"Alhamdulillah !"


__ADS_2