
"Mau gue seret dengan paksa atau bangun sendiri?" tanya Vefe sambil bertolak pinggang.
"Brengs*k ... ngapain masih ingusan memerintah gue!" teriak salah satu dari penjambret sambil berdiri membersihkan celananya dari kotor.
"Elu belum tahu siapa gue, mau gue hajar?" Tantang Vefe dengan kesal.
"Gue kagak takut, majulah!"
"Hyaaat ... hup!"
"Aduuuuh ... sial!" Baru dua kali tendangan penjambret itu kembali tersungkur di tanah sambil memegangi rahangnya.
"Masih berani lu? bawa sini tas Ibu itu!" Vefe menarik tas yang di pegang penjambret yang satu lagi yang tidak menantang Vefe.
Ibu yang memiliki tas langsung berlari mendekati Vefe, "Terima kasih, Neng. Bawa sini tas Ibu!"
"Ini Bu, silahkan di periksa apakah masih komplit isinya?"
Banyak warga yang turun dari kendaraan mereka membantu Vefe. Dua penjambret tidak berani bergerak hanya duduk tertunduk. Mereka sudah di kepung oleh beberapa warga yang sedang melintas.
__ADS_1
Ibu itu langsung mendekati dua laki-laki yang masih terduduk di lantai sambil menoyor kepalanya, "Kalau kalian menginginkan isi tas Ibu tidak perlu menjambret ini aku berikan kepada kalian satu persatu!"
Isi dari tas Ibu adalah Al Qur'an kecil. Penjambret itu dengan terpaksa menerima Al Qur'an dengan tangan bergetar. Banyak yang terharu dengan peristiwa itu.
Yang tadinya para warga ingin menghajar dua penjambret. Mereka tidak berani lagi karena ada kitab suci yang di banggakan oleh seluruh umat islam. Bahkan banyak yang takbir karena semua orang mampu menahan diri dan tidak terjadi pengeroyokan masal.
Datang laki-laki yang memakai seragam dokter yang berlari mendekati kerumunan. Dokter itu melihat peristiwa dari kejauhan karena jalanan macet. Setelah mengenali sosok ibu yang yang di jambret dia berlari mendekatinya, "Ibu...!" teriaknya.
"Dino, kemari Nak!" panggil Ibu.
"Dokter Dino," panggil Vefe.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Ibu.
"Oooo ...." Ibu hanya membulatkan bibirnya sambil mendekati Vefe.
"Namanya siapa, Nak?"
"Nama saya Vefe, Bu."
__ADS_1
"Nak Vefe mau ke mana, apakah mau mampir ke rumah Ibu tidak jauh dari sini?"
"Terima kasih, Bu. Maaf Vefe harus segera pulang."
Vefe berpamitan pulang setelah polisi sudah mengamankan TKP. Jalan raya mulai lancar setelah penjambret di gelandang ke kantor polisi. Dokter Dino mengajak Ibu pulang sambil bercerita kepada Ibu.
Dokter Dino bercerita jika Khan meminta untuk merahasiakan tentang Vefe untuk sementara kepada siapapun. Termasuk merahasiakan kepada Bunda Fatia ataupun Ayah Jose.
Alasan Khan adalah disamping Khan belum yakin dengan hatinya. Khan juga belum terlaku dekat Vefe. Pertemuan mereka baru seumur jagung.
Bagi Khan akan lebih memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengenal lawan jenis. Jika dibanding dengan pemuda yang tidak mengalami trauma. Dia ingin semua berjalan dengan alami tanpa ada pemaksanaan atau acara perjodohan.
Dokter Dino sudah berjanji kepada Khan agar tidak bercerita kepada siapapun, "Ibu jangan bercerita kepada Bunda Fatia dulu ya!"
"Baiklah, lakukan yang yang terbaik. Ibu juga ingin adikmu Khan sembuh dari trauma."
Sampai di rumah Dokter Dino mengirim foto dan vedio aksi Vefe yang beredar di media sosial kepada Khan. Peristiwa itu menjadi tranding hari ini. Banyak warga yang memberikan pujian kepada Vefe dan Ibu yang membagikan kitab suci.
Khan langsung meneruskan foto dan vedio kepada Vefe. Dari kemarin Khan tidak memiliki alasan untuk mengirim pesan kepada Vefe. Sekarang ini ada alasan untuk mengucapkan selamat kepadanya.
__ADS_1
Foto dan vedio disertai dengan pesan tulisan, "Selamat ya, Ve. Aksi yang sangat menginspirasi banyak orang."
Hanya dalam hitungan detik Vefe membalas dengan emot tertawa dan emot menutup matanya. Dan kembali di balas oleh Khan, "Temani makan bakso yok, Mas lapar nich!"