
Dari awal merencanakan ulang tahuan sampai sudah reservasi villa. Khan sama sekali tidak terpikirkan rencana mengabari Bunda Fatia Dan Ayah Jose. Karena beliau masih ada di negara asal Ayah Jose yaitu Manhatten, New York.
"Ayah dan Bunda sekarang masih ada di Manhatten, New York, Ve. Mas tidak tahu kapan beliau pulang ke Indonesia."
"Ooo, menurut Ve, pasti akan sangat bahagia jika keluarga berkumpul. Ve hanya bisa membayangkan punya orang tua saja sangat bahagia lo, Mas."
Khan hanya tersenyum sambil berpikir, sekarang ini seperti dilema. Ingin sekali mengenalkan ke dua orang tua kepadaVefe. Ingin meminta mereka menyayangi Vefe seperti putrinya sendiri agar Vefe bisa merasakan memiliki orang tua.
Konsekuensinya pasti akan sangat fatal jika Khan langsung memperkenalkan Vefe kepada orang tua. Pasi Bunda Fatia langsung akan melamar Vefe tanpa ada kompromi. Niat Khan dari awal ingin mengalami masa muda seperti pemuda yang lain.
Mengalami pendekatan secara alami seperti saat ini. Ingin menyatakan cinta dan berpacaran seperti anak muda pada umumnya. Ingin merasan berkencan dan berpacaran.
Selain ingin semua alami dan berjalan perlahan. Khan juga belum berani dan belum ada kesempatan untuk menyatakan cinta. Masih belum bisa mendapatkan waktu yang tepat untuk menyatakan isi hati.
"Semoga suatu saat nanti, Ve mendapatkan kasih sayang dari ke dua orang tua," jawab Khan.
"Tidak mungkin, Mas. Ve saja tidak tahu siapa ke dua orang tua yang melahirkan Ve, kok."
"Eee mengapa tidak mungkin, suatu saat nanti Ve pasti akan memiliki mertua, itu juga orang tua lo."
__ADS_1
"Betul juga, ya." Vefe mengangguk dan tersenyum simpul.
"Semoga kedua orang tua itu Ayah Jose dan Bunda Fatia." Sayangnya Khan mengatakan dalam hati dan tidak di dengar oleh Vefe.
Tanpa terasa mobil sudah sampai di depan panti asuhan Bunda. Karena waktu sudah senja Khan tidak bisa mampir, "Mas tidak mampir ya, Ve. Salam buat Umi Maryam dan Mpok Ria."
"Ya nanti Ve sampaikan, terima kasih, Mas. Assalamualaikum."
"Walaikum salam."
Sampai di rumah Pak Gun menyambut Khan dengan segelas coklat hangat di depan pintu. Biasanya akan ada yang membuat marah dan emosi, "Ada apa Pak Gun?" tanya Khan sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.
Khan langsung minum satu gelas cokelat hangat tanpa sisa. Netranya memandangi area ruang tamu, ruang keluarga dan sekelilingnya. Tidak ada yang mencurigagan dan tidak ada seorangpun yang bisa membuat marah.
"Ada apa, Pak?" tanya Khan lagi.
"Tadi Nyonya Bunda telepon ke sini, menghubungi ponsel Tuan tidak aktif." Pak Gun bercerita sambil mengikuti Khan berjalan menuju lantai atas.
Khan langsung mengambil ponsel yang ada di kantong celana. Ponsel kemungkinan baterai habis karena belum sempat mengisi daya tadi sinag, "Baterai ponsel habis, Pak. Ada apa Bunda telepon?"
__ADS_1
"Hari Sabtu besok Tuan di minta ke Manhetten, pesawat sekarang sudah menuju ke Jakarta hari ini."
"Apakah ada acara penting di sana, Pak?"
Pak Gun berhenti melangkah, lebih memilih mengambil napas panjang. Bingung sendiri saat ini karena jika di ceritakan pada anak asuh sekaligus tuannya pasti akan marah besar. Jika tidak di katakan akan berdosa besar sebab sebuah amanah harus di sampaikan.
"Pak Gun, mengapa malah berhenti dan diam?"
"Tadi Nyonya Bunda berpesan, Tuan harus ke sana." Pak Gun mengulangi lagi perintah Bunda Fatia.
"Iya tahu suruh ke sana, ada acara penting apa?"
"Nyonya Bunda akan menjodohkan Anda dengan seorang gadis bercadar putri dari teman kolega Tuan Jose."
"Aduuuuh Bunda!" teriak Khan kesal.
BERSAMBUNG
jangan lupa mampir di sebelah ya Shobat
__ADS_1