
Sambil tersenyum devil, Khan mendekati Bahar yang masih terpana. Mata laki-laki yang selalu melirik Vefe itu langsung beralih ke luar saat Khan datang. Salah tingkah seolah seorang pencuri yang tertangkap basah.
"Ada apa, Mas?" tanya Bahar gugup.
"Hari ini tangan Mas Khan gatal pingin menghajar seseorang," jawab Khan berbisik sambil duduk di samping Bahar.
"Siapa yang ingin Mas Khan hajar?"
"Banyak, terutama orang yang suka melirik istri orang."
Bahar semakin salah tingkah sambil nyengir kuda. Ingin menghindar dan berdiri, tetapi Khan langsung merangkul pundak Bahar, "Mas Khan bisa saja, Bahar tidak bermaksud apa-apa hanya melirik doang kok."
"Kamu tahu siapa yang kamu lirik? sekali lagi kamu melakukan itu kamu tinggal pilih di kirim ke rumah sakit atau sekalian menyusul abang ipar kamu ke pemakaman," ancam Khan di telinga Bahar.
"Maaf Bahar janji ...?"
"Tidak perlu janji segala, mata di jaga dan jangan ulangi lagi, mengerti?" Khan menepuk pundak Bahar berkali-kali.
Khan dan Vefe berpamitan dengan seluruh keluarga setelah menggendong bayi Kak Mursida yang belum diberi nama. Ke luar rumah sambil tersenyum devil melihat Bahar yang terlihat bingung dan menunduk. Berjalan bergandengan tangan sengaja menunjukkan kemesraan.
"Papi ngomong apa kok Bahar terlihat ketakutan begitu?" tanya Vefe sambil berjalan menuju rumah Wahono.
"Papi hanya ngomong akan mengirim dia menyusul abang iparnya Aan."
"Ya Allah ya Rob, sampai segitunya sih, Pi. cukup diberikan peringatan saja seharusnya!"
"Dia itu seperti otak udang, mikir belakangan aksinya duluan, kalau tidak diberikan ketegasan semakin berani."
"Terserah Papi saja deh."
__ADS_1
Khan tersenyum sambil terus menggandeng Vefe dengan mesra. Berjalan menuju mobil yang di parkir di depan rumah Wahono. Delang dengan hati yang puas berhasil membuat Bahar akan berpikir dua kali jika melirik Vefe lagi.
Satu hari, satu minggu dan sekarang sudah berjalan hampir tiga bulan. Kak Mursida masih belum bisa mandiri. Sering heboh memanggil keluarga dan sahabat jika galau dan panik.
Terutama memanggil Vefe dan Khan saat membutuhkan sesuatu. Umur yang sudah tidak muda lagi tidak menjamin kedewasaan seseorang. Seperti Kak Mursida saat ini, dia selalu membuat panik keluarga dan sahabat disetiap saat.
Pada awalnya keluarga dan sahabat maklum dan dengan ikhlas membantu. Karena seseorang yang kehilangan pasti akan memerlukan dukungan baik moril ataupun mental. Namun, lama-kelamaan seolah candu diperhatikan.
Terkadang Kak Mursida tidak mengenal waktu saat menghubungi Vefe. Meminta ini dan itu tanpa pertimbangan. Sehingga seolah mulai memberatkan dan dilakukan dengan hati yang kurang ikhlas.
Pukul sebelas malam, Kak Mursida mengirim pesan WA kepada Vefe. Meminta bantuan untuk membelikan popok untuk putrinya yang diberi nama Andara Mutia. Sudah kehabisan popok dari siang tidak ada yang berkunjung.
"Pi, ini Kak Mur minta tolong untuk membelikan popok."
"Ini sudah jam sebelas, belikan besok saja, Mi."
"Belikan lewat online saja, Pi. Jadi enak tinggal bayar saja!"
Khan melakukan transaksi melalui aplikasi online. Dengan membeli popok dalam jumlah banyak. Agar Kak Mursida tidak sering meminta tolong tanpa melihat waktu.
Setelah dua jam berlalu, Kak Mursida kembali mengirim pesan Vefe, "Kak Mursida berharap kalian datang sambil membeli popok, ternyata hanya popoknya saja yang datang." Ditambah emot menangis.
Khan dan Vefe selesai melakukan ritual beraksi saat pesan masuk di ponsel Vefe. Khan yang membaca sambil mulutnya komat-kamit karena kesal, "Apa sih ini si pasangan Baut, bikin otak eror saja, tidak lihat apa sekarang sudah jam berapa?" gerutu Khan.
"Tidak usah ngomel, bilang saja sedang istirahat." Vefe mengambil ponsel yang dipegang Khan.
"Papi belum beristirahat, Mami. Papi masih bekerja keras ini."
Vefe tergelak mendengar jawaban Khan yang nyeleneh. Bergegas menjawab pesan dari Kak Mur walaupun waktu sudah menunjukkan lebih dari tengah malam, "Maaf ya, Kak. Ve tidak berani ke sana sendirian. Mas Khan masih lembur," tulis pesan Vefe sambil tersenyum devil.
__ADS_1
"Kok kirim pesan sambil tersenyum begitu, Mi?"
"Papi baca sendiri saja, Awas Mami mau tidur!" Vefe menyerahkan ponsel kepada Khan dan menarik selimut untuk menyelimuti diri yang masih polos.
Setelah Khan membaca sekilas tulisan pesan WA kepada Kak Mursida. Khan langsung menahan selimut yang sedang di tarik Vefe, "Eeee mana bisa lembur sendirian!" teriak Khan sambil melempar selimut ke tempat semua.
"Papi, maksud Mami bukan lembur tambah ronde kedua!" Vefe ikut berteriak sambil tergelak.
"Lembur apa dong jadinya, memang ada lembur ke kantor jam segini, Mami harus tanggung jawab."
Pesan balasan dari Kak Mursida masuk berkali-kali tidak dihiraukan lagi. Pemilik ponsel sedang benar-benar lembur beraksi tanpa henti. Dilirik pun tidak pesan yang masuk, dibiarkan menganggap pemilik ponsel sedang terlelap.
Tiga bulan berlalu tanpa terasa, Wahono dan Dewi, Khan dan Vefe, Asisten Satria dan Nina masih sering membantu Kak Mursida jika memerlukan bantuan. Hanya sayangnya Kak Mursida semakin hari sering datang ke rumah Khan dan Vefe. Seolah Kak Mursida ingin baby Ara dekat dengan Khan.
Jika datang bertamu tanpa mengenal waktu. Terkadang pagi sebelum Khan berangkat kerja sudah datang. Terkadang sore hari saatnya orang pulang dari kantor. Bahkan saatnya orang akan beristirahat malam Kak Mursida datang bersama baby Ara dengan alasan kesepian di rumah.
Awalnya Vefe tidak curiga setiap Kak Mursida berkunjung bersama baby Ara. Vefe baru menyadari ada maksud tertentu saat Khan dan Asisten Satria ke Sulawesi selama dua hari. Tidak ada angin dan tidak ada hujan Kak Mursida marah dan emosi hanya karena pergi keluar kota tanpa berpamitan pada baby Ara.
Menghubungi Khan berkali-kali sambil terus marah dan emosi. Kebetulan ponsel Khan tidak aktif saat Kak Mursida menghubungi. Menghubungi Asisten Satria pun juga tidak bisa, membuat Kak Mursida semakin emosi.
"Apa sih yang dikerjakan di sana, mengapa ponselnya mati semua?" tanya Kak Mursida kepada Vefe dengan wajah yang memerah karena marah.
"Mas Khan sedang meeting, Kak. Ada apa Kak Mur menghubungi suami Ve?"
"Suami kamu itu kalau mau keluar kota harus memberi kabar, nyelonong saja tanpa pamit," omel Kak Mursida.
Vefe mengerutkan keningnya bingung mendengar Kak Mursida yang marah-marah. Tidak mungkin pamit kepada orang lain jika akan keluar kota. Yang terpenting sudah pamit kepada istri dan putranya sendiri, seperti dikasih hati, tetapi minta jantung.
"Apa maksud Kak Mur? Mas Khan sudah pamit sama Ve dan Aaron tadi pagi."
__ADS_1
"Mengapa tidak pamit sama baby Ara dan Kak Mur juga?"
"Lo apa hubungannya Mas Khan harus pamit sama Kak Mur?"