Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 227. Gagal Lagi


__ADS_3

Kodarullah dan alam tidak mengizinkan Umi Maryam bertemu dengan Kakek Raharjanto. Sepuluh menit Pak Gun mengantar Umi Maryam pulang. Khan dan Kakek Raharjanto memasuki gerbang rumah.


Kebetulan seluruh keluarga selesai makan siang. Vefe juga masih duduk di kursi meja makan bersama baby Aaron. Batita itu mulai mengenal makanan dan buah-buahan yang lembut dan manis.


Baby Aaron sedang menikmati mangga yang di potong kecil-kecil. Belajar memakai garpu untuk menikmati buah mangga. Terkadang dia marah dan emosi saat mangga tidak bisa di tusuk dengan garpu.


Suara celotehan saat dia marah terkadang membuat Vefe tergelak, "Sabar dong, Nak. Begini lo caranya!"


Suara baby Aaron berhenti saat ada suara mobil masuk halaman rumah, "Ha ... Pi?"


"Waaah putra Mami pintar ya, itu suara mobil Papi."


Baby Aaron tepuk tangan kegirangan Khan datang, "Ayo kita jemput Papi!"


Vefe menggendong baby Aaron menuju luar rumah. Melihat Kakek Raharjanto berjalan terburu-buru dengan wajah khawatir. Tanpa tersenyum ataupun menyapa cucu dan cicictnya.


"Kakek ... ada apa?"


"Kakek mau mencari Umi Maryam dari pagi dia tidak diketahui di mana rimbanya."


Vefe mengerutkan keningnya dan bergumam dalam hati. Berarti tidak bertemu Umi Maryam di panti asuhan. Karena Umi Maryam baru saja keluar rumah sepuluh menit yang lalu.


"Tunggu ... Kakek ... Papi?"


Vefe tida melanjutkan ucapannya karena baby Aaron sudah merentangkan tangannya ingin di gendong oleh Khan. Khan langsung menyambut putranya sambil mencium pipi berkali-kali. Sambil melirik Vefe yang terlihat bingung.


"Kakek tidak bertemu dengan Umi, katanya mau menyusul di rumah sakit," kata Khan sambil terus mencium pipi baby Aaron.


"Umi baru saja pulang sepuluh menit yang lalu dari sini, Kek."


"Yang betul, Nak?" tanya Kakek Raharjanto.


"Apa ...!" teriak Khan sambil diikuti oleh gelak tawa baby Aaron.


"Ayo Kakek masuk dulu, nanti Ve ceritakan!"


"Tunggu Mami, Papi harus ke kantor lagi, ada tamu penting yang sedang menunggu Papi."


"Tidak makan dulu, Pi?"


"Tadi sudah makan di restoran saat meeting."


Baby Aaron berpindah tangan dalam gendongan Vefe. Masuk rumah setelah Khan berangkat ke kantor. Mengajak kakek yang berjalan dengan gontai masuk rumah.

__ADS_1


"Bibi, tolong buatkan kopi buat Kakek!" perintah Vefe.


"Ya sebentar, Nyonya!"


Sambil menikmati kopi, Kakek Raharjanto mendengarkan cerita Vefe. Dengan alasan yang tepat dan tidak adanya waktu bercerita. Kakek Raharjanto hanya mengambil napas panjang menanggapi cerita Vefe.


"Jadi bagaimana, Kek?"


"Kakek capek dan mengantuk."


"Baiklah Kakek istirahat saja di kamar."


"Iya terima kasih."


Sampai sore hari, kakek beristirahat di kamar. Saat Khan sudah pulang dari kantor belum juga keluar dari kamar. Mobil masih di parkir seperti tadi pagi tidak berubah.


"Kakek masih di sini, Mi?"


"Iya katanya tadi capek, istirahat dari tadi siang."


"Dibangunkan dong, Mi. Ini sudah sore!"


Belum sempat Vefe berbalik badan menuju kamar tamu yang di tempati Kakek Raharjanto. Pintu terbuka dan kakek ke luar kamar dalam keadaan segar, "Kakek sudah bangun, sudah mandi dan sholat juga."


"Kakek mau ke mana sekarang?" tanya Khan.


"Kakek mau ke panti asuhan sendiri saja sekarang."


"Sekarang ... Kek?"


"Hhmm ...!"


Vefe bingung harus berkata apa. Tidak mungkin melarang kakeknya untuk ke panti asuhan. Dari tadi siang tidak sempat menghubungi Umi Maryam karena ketiduran saat menemani baby Aaron tidur siang.


Walaupun tidak menghubungi Umi Maryam. Namun pasti Umi Maryam sudah tahu dari cerita Bibi Kudri atau anak panti. Pasti sudah bisa menebak Kakek Raharjanto akan menuju ke sana cepat atau lambat.


Baru melangkah sampai depan pintu, Ada suara dering ponsel milik Kakek Raharjanto. Menekan tombol hijau dan loud speaker karena dari ibu kandung Vefe.


"Ya Nak Astrid, ada apa?"


"Tadi Astrid menghubungi Dik Dar, katanya Ayah ada di rumah Ve. Jangan pulang dulu Astrid ingin bertemu dengan Ayah. Kami dalam perjalanan ke sana!"


"Ya baiklah, Nak."

__ADS_1


Dengan gontai Kakek duduk di sofa ruang tamu. Gagal dan gagal lagi untuk kesekian kalinya. Tidak bisa bertemu dengan pengasuh panti asuhan Bunda.


Vefe bingung harus bersikap, ingin tertawa tetapi takut dosa. Tidak tertawa namun dari tadi pagi selalu beruntung karena persoalan kakek dan ibu angkat.


Khan langsung mengajak rambut istrinya. Sangat tahu apa yang dipikirkan oleh Vefe. Tidak berani tersenyum juga melihat kakek yang wajahnya terlihat ditekuk.


Mommy Astrid tiba di rumah, saat Khan sedang mandi dan berganti baju. Hanya Kakek Raharjanto dan Bunda Fatia yang menyambut kedatangan Mommy Astrid dan Daddy Kim Oen.


Mereka berbincang di ruang tamu sambil bercerita. Kedatangan kedua orang tua Vefe ke Jakarta karena sebentar lagi baby Aaron akan berumur satu tahun. Tidak ingin melewatkan momen penting cucunya.


Mommy Astrid ingin menebus kesalahan masa lalu. Ingin selalu ada di sisi Vefe saat putrinya merayakan ulang tahun putra semata wayang.


Mommy Astrid meminta Kakek Raharjanto untuk tidak pulang terlebih dahulu. Karena disamping merindukan nasihatnya. Mommy Astrid akan mengundang seluruh keluarga untuk pergi ke Korea. Ada acara pernikahan keponakan dari Daddy Kim Oen.


Putri dari adiknya Daddy Kim Oen menikah dengan laki-laki keturunan Indonesia yang tinggal di Amerika. Namun akan menikah di Korea karena orang tua pengantin wanita tinggal di Korea. Rencana akan berangkat ke Korea setelah ulang tahun baby Aaron.


Vefe dan Khan bergabung dengan mereka setelah meraih dan mencium punggung tangan kedua orang tua bergantian. Mendengarkan cerita dan tujuan Mommy Astrid datang ke Indonesia.


Waktu akan berangkat ke Korea tidak masalah. Karena setelah baby Aaron merayakan ulang tahun. Setelah akad nikah Eno dan sidang pertama Toni Prawira.


Yang Vefe hawatirkan adalah Mpok Ria. Keadaan kandungan yang lemah tidak mungkin dia bisa ikut berangkat. Tidak mungkin tega jika meninggalkan ibu angkatnya yang disabilitas sendirian.


Beda lagi dengan pikiran Kakek Raharjanto. Berharap Umi Maryam juga ikut rombongan ke Korea. Bisa melihat sewaktu-waktu jika dalam satu rombongan.


"Siapa saja yang akan diajak ke sana?" tanya Kakek Raharjanto.


"Semua dong, Yah. Keluarga Ayah, Keluarga Bunda dan Keluarga Pak Gun.


"Apakah panti asuhan tidak diundang?"


Vefe tersenyum sambil melirik Khan. Tahu betul apa yang dimaksud dengan pertanyaan Kakek Raharjanto. Hanya saja tidak berani berterus terang.


Mommy Astrid menepuk dahinya setalah mendengar pertanyaan Kakek Raharjanto. Dalam perjalanan tadi setelah menghubungi Kakek Raharjanto. Mommy Astrid juga menghubungi Umi Maryam.


Mommy Astrid meminta Umi Maryam untuk datang ke rumah Khan. Karena disamping sangat merindukan dia. Juga ingin mengundang ke Korea bersama keluarga yang lain.


"Oya ... mana Umi ya, tadi Mommy sudah menghubungi Umi untuk datang ke sini?" tanya Mommy Astrid dan diikuti senyum mengembang Kakek Raharjanto.


BERSAMBUNG


ayo mampir di novel teman author yang rekomen banget ini, ada di novel toon juga kok, terima kasih


__ADS_1


__ADS_2