Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 96. Jelalatan


__ADS_3

Vefe harus memakai jaket tebal, kaos kaki, sarung tangan dan topi sebelum keluar villa. Duduk di depan villa yang menghadap ke pantai langsung. Udara dingin tidak menyurutkan Vefe untuk menikmati indahnya malam berdua.


Dalam keheningan sepi di pinggir pantai, Vefe duduk bersandar dalam dekapan Khan. Pikirannya banyak berucap syukur tiada henti. Kebahagiaan dalam hidup semakin sempurna setelah orang yang di anggap ibu sekarang mendapatkan kebahagiaan.


Tanpa terasa hampir setengah jam duduk di depan villa. Udara semakin dingin hampir menusuk tulang, "Ayo Mas kita masuk!" ajak Vefe.


"Sudah puas melihat lautnya?"


"Dingin Mas, besok lagi saja."


"Tidak jalan-jalan dulu?"


"Besok pagi saja, Mas. Kita olah raga."


"Baik ... Ayo kita masuk!"


Baru masuk halaman rumah, di tunggu security di depan pintu villa. Ada sekelebatan orang yang melintas dari samping villa, "Siapa itu?" teriak Khan.


"Ada apa, Tuan?" tanya security ikut waspada.


Ada orang yang melintas berlari di samping villa!" Khan kembali berteriak."


Security berlari melewati samping villa berlari mengejar orang yang di maksud Khan. Sampai di belakang villa dekat kolam renang ada dua orang yang mengendap-endap. Tanpa di duga salah satu dari orang itu di tendang oleh sosok wanita yang berlindung di balik pohon.


"Byuuuur ....aaaah!" teriakknya.


Khan dan Vefe ikut menyusul berlari ke villa bagian belakang. Mendengar ada seseorang terjebur ke kolam renang. Saat security dan Khan serta Vefe tiba di dekat kolam renang ada laki-laki yang dihajar oleh seorang wanita.


Laki-laki asing itu di hajar habis-habisan dan babak belur. Orang yang satu lagi sedang berusaha naik dari kolam renang. Dari tendangan dan bogem mentah dilayangkan pada laki-laki yang mencoba menyusup ke villa


Lampu taman yang temaram tidak telihat siapa yang bertarung dan siapa tamu yang tidak di undang. Mereka terus bertarung tanpa henti. Saat Khan dan Vefe datang, bersamaan lampu temaram di ganti menjadi terang oleh security.


Wajah mereka terlihat dengan jelas satu persatu. Yang berada di kolam renang belum sempat naik adalah seorang perempuan. Sedangkan laki-laki asing itu di hajar oleh Bunda Fatia.


"Bunda ...!" teriak Khan dan Vefe bersamaan.


"Kamu mau memberika kejutan padaku, tetapi aku yang membuatmu terkejut terlebih dahulu, ha ha ha." Bunda Fatia tertawa terbahak-bahak membantu wanita yang ada di pinggir kolam renang naik.


"Kamu memang raja tega, Fat." Wanita itu menerima uluran tangan bunda Fatia untuk naik ke pinggir kolam.

__ADS_1


"Kamu memang masih hebat dan kuat seperti dulu." Laki-laki yang tadi dihajar oleh Bunda Fatia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bunda Fatia.


Siapa mereka, Bun?" tanya Khan.


"Perkenalkan mereka pasangan suami istri Pak Misbah dan istrinya Maya, teman Bunda satu perguruan yang tinggal di Kalimantan." Bunda Fatia memerkenalkan teman satu perguruan saat dulu masih kuliah di Surabaya.


Vefe mengerutkan keningnya ada tamu datang tengah malam dan mengendap-endap seperti pencuri, "Mengapa bertemu jam segini, Bun?"


"Kami naik pesawat terakhir dari Kalimantan, niatnya ingin bercanda Eee jadi apes." Pak Misbah menjawab pertanyaan Vefe.


"Perkenalkan dia menantuku namanya Vefe, sekarang sedang hamil dua bulan."


Tamu diajak masuk villa berganti baju dan beristirahat. Pagi harinya Pak Gun dan Mbok Ria ikut berlari pagi Khan dan Vefe. Mereka menyusuri pantai sambil menunggu matahari terbit.


Warna jingga kemerahan yang terlihat dari balik mega. Membuat dua pasangan semakin bersemangat untuk menikmati udara segar dan hangatnya cahaya matahari.


Datang pemuda memakai tas punggung dari kejauhan. Berjalan tergesa-gesa sambil melihat sekeliling dengan bingung. Seolah kebingungan mencari alamat yang tidak kunjung bertemu.


"Permisi ...!"


"Ya ada yang bisa di bantu?" tanya Pak Gun.


"Saya tahu, kamu sedang mencari siapa?" tanya Pak Gun.


"Masud Anda, Pak?"


"Apakah amu mencari Pak Misbah?"


"Benar sekali, Pak. Saya putra beliau."


Khan dan Vefe hanya memandangi pemuda yang terlihat kebingungan. Hanya sayangnya pemuda itu sorot matanya terlihat nakal. Dia memandangi Vefe dan tebar pesona seolah dia yang paling tampan.


Vefe langsung menggandeng lengan Khan sambil berlindung di balik punggungya. Khan langsung menatap wajah pemuda itu dengan tajam. Rasa cemburu dan kesal terlihat dari sorot mata Khan.


"Kamu cari sendiri Villanya nomor 15, kami akan melanjutkan berolahraga!" perintah Khan langsung meninggalkan tempat berjalan dengan langkah panjang.


Pak Gun tersenyum melihat Khan yang terlihat kesal. Langsung menggandeng Mpok Ria menyusul langkah Khan berjalan menjauhi pemuda yang masih berdiri.


Dalam setengah jam, Khan dan rombongan pulang ke villa. Melihat Bunda Fatia dan keluarga Pak Misbah sedang sarapan pagi bersama, "Khan sini ikut sarapan!"

__ADS_1


Khan kembali menatap pemudsa yang dari tadi selalu memperhatikan Vefe. Ingin rasanya mencolok matanya yang terlihat jelalatan, "Khan mandi dulu saja, Bun." Khan menarik tangan Vefe menuju kamarnya.


"Ya sudah sana Mandi!"


Pak Gun juga berpamitan untuk ke kamar bersama Mpok Ria. Dengan Mpok Ria pemuda itu memandang dengan biasa saja. Hanya melihat Vefe saja dia terlihat jelalatan.


Di dalam kamar Khan ngomel-ngomel dan uring-uringan sendiri. Kesal dengan putra dari sahabat ibunya. Vefe hanya tersenyum karena suaminya yang cemburu tanpa alasan.


"Jangan sewot begitu, Mas.Ve tidak ngapa-ngapain kok."


"Mas ingin mencolok mata anak itu, kesel banget!"


"Ve tidak bersalah, Mas. Mengapa marah-marah begitu?"


"Mas tidak marah sama Ve. Mas kesal sama pemuda itu."


"Sudahlah ayo mandi saja!"


Khan tersenyum devil sambil mengedipkan matanya, "Kita mandi bareng ya, Mas ingin berburu di sana?"


"Eee pagi-pagi berburu, sarapan saja belum," jawab Vefe sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tenang saja, Sayang. Vefe tidak perlu ikut mengejar, Cukup Mas yang bekerja keras dan Ve yang akan menikmati nikmatnya perburuan Mas."


"Ayo sudah ... Jangan banyak ngomong, Ve mau cepat mandi!'


"Mau cepat mandi atau cepat di buru sama Mas?"


"tahu aah ...!"


Pagi ini dengan hati-hati Khan berburu, mengingat Vefe yang sedang mengandung buah hati. Yang terpenting ke duanya sampai puncak nirwana berdua. Harus tetap menjaga Vefe tidak terlalu capek perburuan tetap bisa di lakukan.


Selesai berburu dan membersikan diri juga berdua. Vefe lebih memilih beristirahat sambil menonton televisi di kamar. Tidak ingin keluar kamar karena akan membuat suaminya cemburu saat bertemu dengan pemuda putra dari teman Bunda Fatia.


"Mas ... Ve sarapan di kamar saja ya."


"Bagus ... Mas setuju, di sini saja Mas ambilkan sarapan untuk Ve."


Khan keluar kamar menuju ruang makan. Sudah tidak ada lagi keluarga Pak Misbah di sana. Suaranya terdengar mereka sedang berbincang di ruang keluarga.

__ADS_1


Saat Khan ingin memerintahkan koki untuk mengantar sarapan ke kamar, Pemuda itu mendekati Khan dan beertanya, "Tuan, di mana adik cantik yang tadi bersama Anda?"


__ADS_2