Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 95. Pernikahan Pak Gun


__ADS_3

Mbok Ria tersenyum melihat tanda cinta yang di lambangkan dengan jari jempol dan telunjuk yang menyilang. Baru pertama mendapatkan ucapan cinta di depan banyak orang. Bisa menerima apa adanya dirinya itu poin yang sangat istimewa baginya.


Mpok Ria langsung mengangguk dan mengatakan "Aku terima lamaran kamu." Dengan bahasa isyarat.


"Alhamdulillah ...." Vefe dan Umi Maryam diikuti semua yang hadir.


Mpok Ria mengajukan syarat hanya akan mengadakan akad nikah. Syukuran dengan mengundang keluarga saja. Tidak ingin mengadakan pesta pernikahan.


Semua syarat di setujui oleh Pak Gun. Akan mengadakan akad nikah di panti asuhan. Dilanjutkan dengan syukuran dan berkumpul di panti asuhan juga. Akan diadakan satu minggu lagi setelah administrasi di lengkapi.


Pulang dari panti asuhan, Khan mengajak Vefe belanja ke mall untuk membeli susu ibu hamil. Berjalan bergandengan tangan saat masuk mall. Khan mendorong troli dengan tangan satu dan satu lagi menggenggam tangan Vefe.


Yang tujuan awal ingin membeli susu hamil. Vefe memilih berjalan di area snack makanan ringan. Vefe memilih snack berbahan kentang dan singkong. Setiap rasa hanya mengambil satu bungkus saja.


"Mengapa cuma satu bungkus, Sayang?"


"Ve terbiasa membeli cuma satu saj sih, nanti kalau sudah habis beli lagi." Vefe lupa isi ATM, teringat dulu jika belanja harus seirit mungkin.


"Ooo iya, Ve lupa isi tabungan ada banyak," jawab Vefe sambil tersenyum.


"Pilih yang banyak, kalau perlu sekalian swalayannya juga boleh."


"Tidak bisa dong, Mas. Swalayan tidak cukup di masukkan troli," jawab Vefe sekenanya.


Khan terkekeh sambil merangkul pundak Vefe. Kembali memilih makanan ringan. Belum sampai di area stand susu, troli sudah penuh dengan makanan ringan. Khan mengambil lima bungkus setiap snack yang di pilih oleh Vefe.


"Mas, mengapa banyak betul?"


"Mas juga mau dong, Sayang. Tidak cuma Ve aja yang ingin makan," jawab Khan asal.


"'Ooooo ...!"


Melewati restoran es krim dengan berbagai rasa. Vefe seolah menelan ludah dengan kasar. Air liurnya seolah ingin menetes.


Vefe menghentikan langkahnya membaca satu persatu berbagai macam es krim yang menggiurkan. Khan tersenyum melihat Vefe yang seperti anak kecil menelan ludah, "Ve mau rasa apa?"


"Boleh milih dua rasa, Mas?"


"Sepuluh rasa juga boleh."

__ADS_1


"Tidak dua saja, rasa vanilla dan greentea."


"Vefe duduk sini ya, Mas antri sebentar!"


Vefe duduk di dekat pintu sambil bermain ponsel menunggu Khan mengantri es krim. Menunduk konsentrasi tanpa melihat sekeling. Banyak orang lalu lalang melewati Vefe duduk.


Tanpa di sadari ada pemuda tanggung langsung merebut ponsel Vefe dengan cepat, "Eee ...!" teriak Vefe.


Secepat kilat menarik ponsel dan ingin berlari meninggalkan tempat. Dengan spontan Vefe mensleding kaki pemuda tu sampai terjengkang, "Hyaaat ...hup!" gerakan Vefe membuka kaki melakukan split.


"Auuw ...!" teriak pemuda itu mengusap kakinya yang tertendang kaki Vefe.


Khan yang baru sampai di depan gerai es krim, langsung berlari mendekati Vefe, "Sayang ...!" teriak Khan dengan keras.


Khan langsung mendekati pemuda itu dan langsung menamparnya berkali-kali, "Kalau terjadi apa-apa dengan kandungan istriku, aku tuntut kamu!"


Pemuda itu meringis kesakitan kakinya sakit sekarang pipinya perih.Salah sasaran menjambret seorang guru silat. Bukannya untung, tetapi buntung tertangkap.


"Ve tidak apa-apa?" tanya Khan sambil mengelus perutnya.


"Ve tidak apa-apa, Mas."


Datang security untuk mengamankan pemuda yang berusaha mencopet ponsel Vefe. Untungnya ponsel masih selamat dan tidak terjadi kerusakan. Hanya retak dan pecah paperglass nya saja.


Vefe hanya nyengir kuda, tendangan kaki hanya reflek. Tidak berniat untuk bertarung. Lupa kalau sekarang berbadan dua.


"Ve hanya reflek, Mas."


"Ayo duduk lagi, Mas mau ambil es krimnya!"


Selesai makan es krim berdua. Khan membeli susu ibu hamil dan langsung mengajak pulang. Tidak ingin terjadi sesuatu pada kandungan istrinya. Meminta Vefe untuk beristirahat dan dilarang melakukan aktifitas apapun.


"Ayo istirahat, Sayang. Jangan melakukan apapun!"


"Ve tidak apa-apa, Mas."


"Iya Mas tahu, Mas tidak ingin terjadi sesuatu pada Ve dan bayi kita."


Vefe mengangguk dan beristirahat di ruang keluarga. Duduk di sofa panjang sambil menikmati snack. Melihat berita televisi. Khan datang membawa satu gelas susu hamil rasa vanilla.

__ADS_1


"Sayang ini silahkan minum dulu!"


"Yang baut susu ini Mas Khan atau Pak Gun?"


"Mas sendiri yang buat, tetapi diajari oleh Pak Gun."


Khan membantu vefe meminum susu hamil rasa vanilla sampai tandas tak tersisa, "Terima kasih, Mas."


"Sama-sama."


Waktu berlalu dengan cepat, satu minggu telah berlalu. Malam minggu adalah hari yang di tunggu oleh Pak Gun dan Mpok Ria. Akad nikah akan di gelar di panti asuhan denga konsep yang sederhana.


Acara di gelar dengan sederhana sesuai dengan yang diinginkan mempelai wanita. Mas kawin berupa perangkat alat solat dan perhiasan sebesar sepuluh gram. Semua berjalan lancar sampai acara inti selesai.


Setelah akad nikah selesai dilanjutkan dengan makan malam bersama. Bersama keluarga besar anak panti asuhan. Teman dekat, pegawai rumah Khan dan tamu undangan.


Bunda Fatia menawarkan Pak Gun dan Mpok Ria untuk berbulan madu, tetapi Mbok Ria menolaknya. Kekhawatiran Pak Gun untuk meninggalkan Khan apalagi Vefe sedang hamil. Hanya itu alasan Pak Gun dan Mpok memilih tidak berbulan madu.


Vefe mengerutkan keningnya saat mendengar alasan Pak Gun Karena dirinya. Mempunyai jalan tengah agar Pak Gun dan Mpok Ria bisa bulan madu. Saat mereka sedang membicarakan bulan madu, Vefe langsung berbisik di telinga Khan, "Mas, Ve pingin bermain ke pantai Kuta?"


"Ve ngidam ingin ke pantai Kuta, Sayang?"


Vefe mengangguk sambil mengusap perutnya dan bergumam dalam hati. Meminta maaf kepada jabang bayi yang masih di dalam perut. Termaksa memakai namanya untuk bisa Menemani Mpok Ria ke sana.


"Pak Gun ... Mpok Ria bersiaplah, malam ini juga kita berangkat ke Bali!"


"Anda juga akan berangkat ke sana, Tuan?" tanya Pak Gun.


"Iya ... Ve ingin bermain di pantai."


Mpok Ria bertanya apakah kandungan Vefe akan aman jika melakukan perjalanan jauh. Khan yang menjawab akan menghubungi dokter terlebih dahulu sebelum berangkat. Akan langsung minta izin melakukan perjalanan ke Bali.


"Bunda dan Umi Maryam akan ikut juga," kata Bunda Fatia.


Malam ini juga mereka berenam berangkat Bali menggunakan pesawat pribadi. Hampir tengah malam mereka sampai di Bandara Internasional Ngurah Rai. Dan langsung menuju villa untuk beristirahat.


Vefe sampai di villa tidak merasa mengantuk karena selama perjalanan dia tidur. Malam ini juga ingin berjalan-jalan di pantai depan villa, "Apakah Mas sudah mengantuk?"


"Sedikit sih, Ve mau apa?"

__ADS_1


"Ve ingin duduk di pinggir pantai sekarang."


"Tengah malam begini?"


__ADS_2