
Sambil pura-pura lupa Bunda Fatia menjawab pertanyaan Khan, "Eee maaf, Nak. Seharusnya yang itu untuk Ayah."
Khan masih bingung dengan sikap Bunda Fatia. Seharusnya bunda tahu jika Ayah juga tidak pernah makan ikan asin karena memang Bunda Fatia tidak pernah masak ikan asin.
"Ayah doyan ikan asin?" tanya Khan masih belum menyadari.
"Tidak ... Ayah sukannya Bunda saja, tidak ada yang lain," jawab Ayah Jose sekenanya sambil tersnyum.
Khan langsung mengembalikan ikan asin di piring. Mengambil ikan gurami goreng dan sambal terasi. Dia langsung melahap menu makan yang ada di depannya.
Khan masih belum menyadari yang di lakukan Bunda Fatia. Dia masih santai menikmati makanan sambil teringat dengan kekasih hati. Terkadang makan sambil tersenyum sendiri tanpa disadari.
"Khan ...." Bunda memandang Khan dengan lekat.
"Ya Bunda ada apa?"
"kapan ceritanya Bunda sudah tidak sabar?"
Khan mengerucutkan bibirnya, nasi di piring belum habis semua. Dia masih menikmati ikan gurami salah satu ikan kesukaannya, "Tunggu dong, Bun. Seharusnya Bunda dan Ayah memberikan hadiah dulu buat Khan."
"Bunda sudah mempersiapkan hadiah buat Khan, tetapi nanti setelah Bunda mendengar cerita dulu."
Khan jadi teringat kado yang diberikan oleh Vefe tadi. Sampai sekarang belum sempat membukanya. Kado masih diletakkan didalam tas kerja yang masih ada di dalam mobil.
"Tunggu sebentar, Bun. Ada yang ketinggalan di mobil!" teriak Khan sambil meninggalkan meja makan.
"Khan ... Ikannya belum habis!" teriak Bunda sambil melihat Khan berlari menuju garasi.
Khan kembali lagi duduk di meja makan melanjutkan makan ikan. Ayah Jose dan Bunda Fatia sudah selesai makan. Mereka dengan sabar menunggu Khan menyelesaikan makan Ikan gurami.
"Sudah selesai makan cepat cerita Khan, kasihan Bunda menunggu dari tadi!" perintah Ayah Jose.
"Baiklah, Khan sekarang sudah punya kekasih, Bunda jangan menjodohkan lagi dengan siapapun. Tolong batalkan perjodohan dan jangan hubungkan lagi Khan terutama dengan Eno dan Sania."
"Tunggu dulu, Nak. Ceritanya jangan langsung memiliki kekasih, ceritanya dari pertemuan pertama dong!" Bunda Fatia memotong cerita Khan.
__ADS_1
"Baiklah ...!"
Khan bercerita pertemuan pertama dengan Vefe di jalan tol menghadapi perampok. Sampai bercerita tentang panti asuhan. Perjuangan mendekati sampai ke Surabaya.
Khan bercerita terus terang jika kekasihnya adalah gadis yatim piatu. Gadis yang di buang oleh orang tuanya di depan kontrakan milik panti asuhan. Hidup hanya sebatang kara menganggap Umi Maryam dan Mpok Ria sebagai pengganti orang tua.
Belum selesai Khan bercerita ponsel Ayah Jose berdering kencang. Dengan terpaksa Ayah Jose mengangkat panggilan ponselnya. Khan berhenti bercerita dan menunggu Ayah selesai menerima panggilan ponsel.
Tanpa di duga Ayah Jose mendapat laporan dari asistennya yaitu Asisten Ardi. Ada masalah perusahaan yang harus diselesaikan sekarang juga. Dengan terpaksa Ayah Jose dan Bunda Fatia harus kembali ke Manhatten sekarang juga.
Awalnya Bunda Fatia ingin bertemu denga Vefe mumpung masih di Jakarta. Semua rencana gagal total karena pekerjaan. Setelah selesai makan malam Khan mengantarkan Ayah Jose dan Bunda Fatia ke Bandara Internasional Sukarni Hatta.
Dalam perjalanan ke bandara Khan melanjutkan cerita. Bunda juga tidak sempat memberikan secara langsung hadiah yang sudah di janjikan. Hadiah itu di letakkan di lemari kamar Bunda Fatia.
Setelah pulang dari bandara Khan baru sempat membuka kado dari Vefe. Ukurannya kecil dan terbungkus kado berwarna biru dan merah. Saat membuka kado rasa hati berdebar kencang.
Isinya sederhana tetapi sangat membuat hati Khan bahagia. Gantungan kunci dari rajut berbentuk hati. Berwaran biru dan merah seperti bungkusnya.
Gantungan hasil karya sendiri, ini diketahui karena setelah membaca tulisan yang ada di dalam kotak kado.Tulisan sederhana tetapi langsung terpatri dalam hati. Tulisan itu berbunyi 'Dibuat dengan sepenuh hati di hari spesial.'
Ada tulisan di bawah foto 'Ini selalu di hati' di tambah emot gambar hati berwarna merah. Vefe langsung menjawab dengan emot juga wajah tersenyum. Tanpa pikir panjang Khan kembali mengirim dengan lambang jari telunjuk dan jempol di silangkan lambang sarang heo.
Setelah Vefe berpamitan akan membantu anak panti yang masih balita untuk tidur. Khan membuka kado dari Bunda Fatia. Khan mengambil paper bag besar dan dibawanya ke kamar sendiri.
Ada setelan jas berwana hitam dan gaun panjang tanpa lengan dengan warna putih. Gaun model sederhana tetapi terlihat elegan dan mewah. Gaun rancangan desainer terkenal ibu kota.
Khan tersenyum melihat hadiah yang diberikan oleh Bunda Fatia. Ini sangat diperlukan untuk rencana dan ingin mewujudkan impian selanjutnya. Setelah memiliki kekasih, berpacaran, wisata berdua saatnya candlelight dinner.
Di rencanakan hari Sabtu malam Minggu besok. Khan langsung reserversi restoran sendiri tanpa meminta bantuan Asisten Satria. Dikerjakan sendiri agar semua agar lebih romantis.
Awalnya Khan berencana akan langsung memberikan gaun itu kepada Vefe. Saat Asisten Satria mengetahui dia langsung melarang dan memberikan saran, "Jangan langsung di berikan kepada Nona Vefe, Tuan. Kemungkinan dia akan menolak, akan terkesan menganggap dia wanita matre karena baru jadian satu minggu Anda sudah memberikan gaun yang mahal."
"Jadi harus bagaimana?"
"Lebih baik, Nina saja yang mengajak dia ke salon, berdandan di sana pasti dia tidak menolak."
__ADS_1
"Ide bagus, sebaiknya istrimu yang menjemput dia di tempat kerjanya dan jangan lupa ajak sekalian Erina untuk melakukan perawatan!"
"Berarti tiga orang yang melakukan perawatan ya?" Asisten Satria menjawab sambil tersenyum devil.
"Eee mengapa malah memanfaatkan kesempatan?"
"Sekali-kali tidak apalah, Tuan. Saya juga ingin memanjakan istri walaupun menggunakan uang Anda."
"terserah kamu saja, yang penting acara berjalan sukses, karena ini acara terpenting pertama."
Siap ...."
Rencana Asisten Satria berjalan lancar. Nina brhasil mengunjungi Vefe dan Erina di markas Verin Olshop. Nina mengajak mereka melakukan perawatan di rumah kecantikan.
Sehari sebelumnya, Khan sudah mengatakan akan mengajak Vefe makan malam di restoran. Vefe meminta izin kepada Umi Maryam dan Mpok Ria. Khan juga sudah mengantongi izin dari ke dua orang yang sudah Vefe anggap sebagai orang tua.
Rangakian perawatan di lakukan di salon dari siang. Bagi Vefe dan Erina yang baru pertama kali melakukan perawatan mereka selalu antusias. Tahapan demi tahapan di lakukan dengan lancar.
Dari perawatan wajah, rambut tubuh bahkan kuku. Ke tiganya melakukan perawatan yang sama. Hanya yang berbeda adalah Ve harus berganti baju setelah selesai perawatan.
"Untuk yang ini, Erin jangan iri, ya. Vefe harus berganti gaun ini. Sebentar lagi sang pujaan hati akan menjemput untuk makan malam."
"Tentulah, Mbak. Diajak perawatan saja Erin sangat senang."
Vefe keluar dari ruang ganti dengan mengenakan gaun hadiah dari Bunda Fatia, "Waaah ...Ve kamu cantik sekali!" teriak Erina.
Bersamaan Khan datang menjemput Vefe dan dia terpana melihat penampilannya, "Ve ...?"
Alhakhan Jose Pornomo
Vena Fatmala
__ADS_1