
Khan memandang wajah Vefe saat dia bertanya nada dering ponsel yang tidak diangkat. Foto wanita ganjen si Eno yang terlihat dalam pannggilan itu. Nomor ponsel yang tidak pernah di simpan di ponsel miliknya.
Tidak ingin membahas tentang wanita itu Khan memilih mengalihkan perhatian dengan mengajak mereka makan, "Tidak penting, Ve. Ayo kita makan dulu!"
Vefe mengangguk ragu dan berpikir di dalam hati. Kemungkinan yang menghubungi Khan adalah pacar atau mantan pacar. Ada satu yang menghubungi tadi sebelum wanita cantik itu yaitu dengan sebutan Bunda Fatia.
Vefe ingin memberitahukan kepada Khan jika ada satu panggilan masuk. Di urungkan olehnya karena tidak ingin terlihat ikut campur urusan pribadi. Rasanya akan janggal jika mengatakan membaca ponsel yang bukan milik sendiri.
"Ve ... Ayo makan!" Khan mengulang lagi karena melihat dia melamun.
"Iya Mas terima kasih."
Makan berempat dengan lahap tanpa suara. Hanya sesekali Khan melirik Vefe yang sedang menikmati makan sambil menunduk. Terlihat Vefe makan tidak berselera sambil melamun.
Sampai ada nasi menempel di bibir Vefe tidak terasa. Tangan Khan lansung mengusap bibir Vefe dengan lembut, "Maaf Ve, ada nasi menempel di bibir."
Vefe hanya tersenyum malu sambil salah tingkah. Baru pertama kali laki-laki menyentuh bibirnya. Rasanya sangat aneh seperti merasakan getarann kecil di hati.
__ADS_1
Vefe melanjutkan makannya tanpa kata. Tidak berani melirik Khan karena sesekali dia selalu curi pandang. Tidak ingin beradu pandang agar tidak salah tingkah.
Sampai menu nasi habis yang ada di piring. Mencuci tangan dan minum air mineral. Khan trerus saja mencuri pandang. Seolah ada magnet di wajah Vefe matanya selalu fokus pada Vefe.
Gadis manis itu memiliki daya tarik tersendiri bagi Khan. Pasalnya selain tidak membuatnya berkeringat dingin. Kemandirian dan keteguhan hatinya seolah selalu menariknya untuk dekat.
Hampir menjelang senja mereka bermain di Water Park Kenjeran. Menghabiskan waktu bercanda sambil mengelilingi area tempat wisata yang ramai pengnjung. Mendampingi dan melihat Gi dan Ji yang bermain dengan riang.
Khan mengantar Vefe dan dua adiknya setelah senja hampir berakhir. Turun dari mobil berjalan beringan sampai di depan penginapan, "Mas mau pulang ke Jakarta satu jam lagi, Ve mau titip apa buat Umi?"
Khan ingin mengusulkan membelikan sesuatu atas nama Vefe. Di urungkan niatannya. Takut menyinggung perasaan dan hati. Lebih baik membelikan atas nama sendiri saja.
"Umi sukanya apa, biar Mas aja yang membelikan oleh-oleh untuk beliau?"
"Di Surabaya sini apa yang terkenal, Mas?"
"Banyak sih, ada kue lapis Surabaya, bandeng asap, almon crispy, belut crispy. Getuk pisang dan masih banyak lagi."
__ADS_1
"Umi sangat suka bandeng, mungkin cocok tuh di belikan bandeng asap."
"Ve pingin apa?"
"Belut crispy iru rasanya sperti apa, Mas. Enak tidak?"
"Rasanya sepeti usus crispy gitu tetapi lebih gurih rasa ikan, Ve mau?"
"Boleh juga, Eee tidak usah Mas. Lebih baik belikan kue lapis Surabaya saja untuk adik-adik!"
"Baiklah sampai ketemu hari Minggu besok, Mas pamit ya!"
Vefe mengulurkan tangan mencium punggung tangan Khan, diikuti Gi dan Ji. Khan jad terpaku karena Vefe mencium tangan seperti seorang istri yang akan mengatar suaminya berangkat kerja.
Bibir Khan mengembang membayangkan saat Bunda Fatia sedang mencium punggung tangan Ayah Jose saat akan berangkat kerja. Ke dua orang tuanya itu terlihat romantis dan mesra dalam momen setiap pagi. Bahkan terkadang Ayah Jose mencium kening Bunda Fatia dengan mesra.
Tanpa sadar Khan memajukan bandannya ingin mencium kening Vefe. Vefe langsung mundur dua langkah dan bertanya, "Mas ... Mau ngapain?"
__ADS_1