
Malam ini Asisten Satria langsung pulang ke Jakarta setelah pulang dari jalan-jalan di Tugu Pahlawan. Dia pulang menggunakan helikopter. Karena rencana Minggu sore Khan akan pulang naik pesawat komersil bersama Vefe.
Pukul sepuluh pagi Kafe milik Sania Parwati mulai banyak kedatangan tamu undangan dan para pelanggan baru. Rencananya akan potong pita pukul dua belas siang. Dia berharap akan potong pita berdua dengan Khan.
Asisten Satria datang bersama Nina istrinya, Brio dan Brina. Mereka datang sepuluh menit sebelum pemotongan pita. Saat Keluarga Satria datang Sania langsung menyambutnya dengan senyum mengembang.
"Terima kasih sudah datang, Satria. Di mana Mas Khan?" tanya Sania Parwati.
"Jangan mengharap Tuan Khan datang, aku datang tidak mewakili Tuan tetapi aku datang karena undangan kamu."
Sania Parwati terlihat kecewa dan bersedih. Wajahnya di tekuk dan cemberut, "Apakah sekarang Mas Khan ada di rumah?"
"Tuan Khan pulang ke Surabaya dari kemarin."
"Apakah Mas Khan sekarang bersama si Eno?"
"Tidak ... Eno saat ini sedang tugas di Sulawesi."
"Terima kasih, silahkan masuk!"
__ADS_1
Sania Pratiwi terpaku dan melamun berdiri di depan pintu masuk. Menyambut para tamu tetapi pikirannya berada jauh di Surabaya. Padahal berharab Khan datang memotong pita berdua sebagai sepasang kekasih.
Semua rencana Sania Parwati gagal sudah. Harapan dan doanya kini pupus sudah. Dengan terpaksa semua acara di lalui bersama tamu undangan karyawan dan pelanggan barunya.
Saat akan pemotongan pita datang laki-laki gagah yang menjadi perhatian banyak pengunjung. Dia langsung duduk di samping Asisten Satria dan keluarga. Dia selalu memperhatikan gerak-gerik Sania Parwati saat pemotongan pita.
Pita di potong disertai tepuk tangan gemuruh dari tamu undangan dan para pelanggan baru. Sania Parwati memberikan sambutan sekilas. Dia juga mempersilahkan para tamu unuk menukarkan voucher yang mereka pegang.
Ada juga makanan gratis yang di sediakan hari ini khusus untuk para pengunjung yang datang tanpa memiliki voucher. Dengan syarat satu pengunjung satu menu. Jika mereka sudah mendapatkan menu akan mendapat stempel kecil di tangan.
Stempel di pegang oleh Sania Parwati sebagai owner. Sambil memberikan tanda dia mengucapkan selamat datang dan terima kasih. Wajahnya terlihat ramah tetapi hatinya sangat sedih.
"Anda belum mengambil menu gratis mengapa sudah meminta stempel?" tanya Sania Parwati.
"Aku bukan minta stempel di tangan tetapi minta stempel di sini!" Doni Prawira menunjuk dada.
"And bisa aja, silahkan mengambil menu gratis terlebih dahulu!" Sania Pratiwi menunjuk menu yang sudah di tata rapi di samping kasir.
"Apakah boleh aku minta Anda yang mengambilkan menu itu?"
__ADS_1
"Ooo tentu mari!"
Doni Prawira mengikuti langkah Sania Parwati mendekati menu gratis. Mengambil satu paket dan langsung diserahkan padanya, "Ini silahkan menikmati!"
"Terima kasih, aku Doni." Doni Prawira pengulurkan tangan untuk di berikan stempel.
Sania Parwati langsung memberikan tanda stempel di tangan Doni. Dia tidak menyebutkan namanya. Lebih memilih mengangguk dan tersenyum.
Kembali Doni Prawira menyebut namanya sendiri, Aku Doni, dan nama Anda?"
"Sania." Dengan terpaksa Sania Parwati menyebutkan namanya.
Sementara di stadion tempat Gi dan Ji bertanding. Vefe menunggu Khan dengan gelisah. Tadi malam saat berpisah Khan mengatakan akan datang pukul sepuluh pagi.
Saat ini sudah hampir pukul sebelas siang. Netra Vefe selalu melirik tribun penonton. Berharap orang yang berjanji akan datang untuk mendukung duduk di sana.
Gi dan Ji sebentar lagi akan bertanding dalam kategori yang berbeda. Ke duanya sama-sama masuk di babak final. Mereka sudah bersiap-siap dan sudah dengan percaya diri untuk menang.
"Gi ... Ji ayo semangat!" suara teriakan dari tribun penonton membuat Vefe tersenyum.
__ADS_1