
Bunda Fatia bercerita kepada Khan dan Asisten Satria. Jika nama Khansa Bashori hanya hasil mengarang saja. Nama yang melintas dipikirannya saat sedang menghubungi pihak gedung.
Bunda Fatia tidak memikirkan seandainya yang memiliki nama suatu saat nanti akan datang. Tidak memikirkan akibat atas nama yang di comotnya sembarangan. Dia hanya memikirkan cara membalas postingan Eno saja.
"Bagaimana jika orang memiliki nama itu datang, Bun?" tanya Khan.
"Tidak perlu dipikirkan sampai sejauh itu. Nama itu pasti tidak cuma satu."
Khan mengangguk mengerti, tetapi harus mengantisipasi kemungkinan dari reaksi Eno nanti, "Bunda menghubungi gedung menggunakan ponsel siapa?"
Bunda Fatia mengerti maksud dari pertanyaan Khan. Kemungkinan Eno nanti akan mencari tahu siapa yang telah merubah nama dan memposting nama yang sudah berubah.
"Tenang saja, Nak. Bunda tadi menggunakan ponsel Pak Bowo saat menghubungi gedung, tidak mungkin Eno tahu."
"Syukurlah kalau begitu, Khan berangkat ke kantor lagi sekarang. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Khan dan Asisten Satria kembali ke kantor. Bunda Fatia selalu memantau postingan yang dilakukannya. Ingin mengetahui reaksi dari Eno saat dia mengetahui.
Hanya dalam satu jam postingan yang ada di media sosial Eno sudah terhapus. Kemungkinan Eno saat ini sudah mengetahui. Hanya saja postingan dari pihak gedung dia tidak bisa menghapusnya.
__ADS_1
Siang hari saat istirahat makan siang, Khan pulang untuk makan bersama. Ada suara dering ponsel Bunda Fatia dari Eno. Sudah tiga kali Eno menghubungi tetapi tidak diangkat oleh Bunda Fatia.
"Bun, ponselnya berdering terus, mangapa tidak diangkat?"
"Biarkan saja, itu dari Eno."
"Ooo jangan diangkat kalau begitu."
"Apakah dia sudah tahu tentang postingan yang Bunda Lakukan?"
"Sudah ... Dia juga sudah menghapus postingan dia sendiri sekarang."
"Jangan dong, Nak. Nanti kalau Ayah menghubungi bagaimana?"
"Terserah Bunda saja deh."
Lebih dari sepuluh kali Eno menghubungi Bunda Fatia. Tidak satupun diangkat oleh Bunda Fatia. Membiarkan Eno kebingungan sendiri menghadapi cuitan dari media sosial.
Bunda Fatia tidak ingin membicarakan masalah dengan Eno melalui ponsel. Dia lebih memilih menunggu dia datang ke Jakarta. Eno hanya izin kerja tiga hari, seharusnya besok dia sudah ada di Jakarta lagi.
__ADS_1
Menunggu selama tiga hari Eno tidak datang ke Jakarta. Bunda Fatia harus kembali menyusul Ayah Jose ke kampung halaman yaitu USA. Masih ada yang harus diseleaikan pekerjaan yang ada di sana.
Khan juga tidak sempat mengunjungi panti asuhan dan Vefe saat ada Bunda Fatia di rumah. Mereka selalu menghabiskan watu berdua di rumah. Hanya sesekali mengirim pesan WA untuk bertanya kabar Vefe dan anggota panti asuhan.
Setelah selesai mengantar Bunda Fatia ke bandara. Khan berniat mengunjungi panti ashun. Dia memborong roti khas yang ada di bandara dalam jumlah besar. Untuk oleh-oleh seluruh penghuni panti asuhan.
Khan melajukan mobilnya dengan semangat ingin segera bertemu dengan Vefe. Dibantu oleh Asiten Satria membawa roti khusus dari bandara yang beraroma kopi. Langsung di sambut oleh anak-anak dengan gembira.
Sudah semua kebagian dan menikmati roti dengan gembira. Setelah mereka mengucapkan terima kasih. Khan hanya bertemu dan berbincang dengan Umi Maryam saja.
Netra Khan masih mencari dan menyapu seluruh ruangan. Dia berharap gadis yang ingin di temuinya keluar kamar. Hanya sayangnya yang di tunggu tidak juga menunjukkan batang hidungnya.
Umi Maryam tersenyum saat melihat Khan mencari Vefe, "Nak Khan mencari Vefe?"
"Iya Umi, di mana Vefe tidak terlihat?"
"Apakah dua hari yang lalu Vefe tidak berpamitan pada Nak Khan?"
"Tidak Umi, ke mana Ve?"
__ADS_1
"Vefe ke Surabaya selama lima hari."