Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 187. Dulu Tanpa Restu


__ADS_3

Tante Darwati Raharjanto kembali mengambil napas panjang saat ditanya oleh Bunda Fatia. Pertanyaan tentang kunjungannya sepengetahuan ayah atau keluarga. Seolah mulutnya tidak bisa diajak membuka untuk berterus terang.


Teringat kemarin saat keluar dari restoran bersamaan datang mobil mewah yang masuk area pintu utama rstoran. Keluarga sengaja ingin mengetahui milik mobil itu. Sehingga mereka hanya bisa menunggu di parkiran dan berdiam di dalam mobil.


Mengetahui jika wanita yang mirip ibu kandung adalah keponakan sendiri. Kedua putri ketua anggota dewan mencoba mencari tahu informasi sebanyak-banyaknya di media sosial. Dan berusaha mengajak ayahnya untuk memaafkan mantan kekasih Almarhum kakaknya.


Hanya sayangnya sampai saat ini berkunjung ke rumah keponakan. Sang ayah masih tidak memberikan jawaban. Masih diam dan tidak mau mendengar pendapat kedua putrinya.


Walaupun sang ayah tidak memberikan jawaban yang pasti. Tante Darwati Raharjanto tetap berpamitan sebelum berangkat mengunjungi kantor Khan. Setidaknya berangkat tidak secara sembunyi-sembunyi.


"Mengapa melamun, apakah Ayah Anda tahu Anda ke sini?" tanya Bunda Fatia mengulangi pertanyaannya lagi.


"Ayah tahu saya ke sini."


"Apakah beliau memberikan izin Anda ke sini?"


"Ayah orangnya sangat keras, beliau tidak menjawab saat saya berpamitan ke sini, namun tidak juga melarang."


"Apakah saya boleh tahu mengapa ayah Anda bersikap seperti kemarin?"


"Dulu saat Mas Igun masih berpacaran dengan Mbak Astrid, keluarga kami hanya orang biasa, sedangkan keluarga Mbak Astrid pengusaha terkenal."


"Maksudnya?"

__ADS_1


Tante Darwati Raharjanto bercerita sekilas tentang masa lalu. Tentang orang tua Mommy Astrid yang tidak merestui hubungan itu. Hanya karena status sosial dan derajat yang berbeda.


Ayahnya merasa sakit hati, apalagi putranya meninggal saat bersama sang kekasih. Kecelakaan yang hanya merenggut satu nyawa. Sedangkan Mommy Astrid selamat dan tidak cedera sedikitpun.


Menjadi keluarga yang di remehkan ketika dulu membuat ketua anggota dewan sangat membenci Mommy Astrid. Walaupun berkali-kali calon kakak ipar meminta maaf. Namun sampai sekarang tidak juga memaafkan kesalahan masa lalu.


Di tambah lagi setelah putra satu-satunya meninggal dunia. Ibu Hartanti juga di panggil yang maha kuasa dua tahun setelah peristiwa itu. Almarhumah ibu sakit sebelum meninggal karena tidak bisa menerima kenyataan jika putranya berpulang karena kecalakaan.


Kakek kandung dari Vefe harus berjuang seorang diri membesarkan dua putrinya tanpa seorang ibu. Membangun bisnis dan ikut salah satu partai besar yang membesarkan namanya. Berjuang sampai berhasil seperti sekarang ini jatuh bangun tanpa lelah.


"Maafkan saya, tidak seharusnya saya curhat kepada Anda," kata Tante Darwati Raharjanto setelah selesai bercerita.


Bunda Fatia tersenyum dan mengangguk mulai memahami permasalahan yang sebenarnya. Seharusnya kemarahan ketua anggota dewan itu salah sasaran. Kemarahan itu tidak untuk Mommy Astrid atau Vefe karena takdir dari Ilahi Robbi.


Menurut Bunda Fatia yang salah orang tua dari Mommy Astrid. Putrinya juga korban dari keegoisan orang tua, "Boleh saya berpendapat?"


"Ayah Anda salah jika membenci Mommy Astrid, karena beliau juga korban."


"Betul juga, nanti saya akan bilang kepada Ayah seperti kata Anda, terima kasih."


"Sama-sama, sekarang Anda ingin bertemu dengan siapa terlebih dahulu.'"


"Kalau boleh saya ingin bertemu dengan Mbak Astrid terlebih dahulu."

__ADS_1


"Baiklah ... Ayo ikut saya!"


Bunda Fatia mengajak tamunya masuk ke pintu utama. Bergabung dengan tamu yang ada di ruang tamu. Masih ada tamu yang berbincang komplit di sana.


"Mom, masih ingat dengan dia?" tanya Bunda Fatia kepada Mommy Astrid.


"Tentu saja, apakah Bunda memaksa dia ke sini?" tanya Mommy Astrid.


Sambil tersenyum Tante Darwati Raharjanto menggelengkan kepala, "Tidak ... Mbak. Saya ke sini atas kemauan sediri."


"Anda ingin bertemu siapa?" tanya Mommy Astrid.


"Saya ingin bertemu dengan Anda dan putri Anda."


"Sebaiknya Mommy dan Jeng Darwati berbincang dari hati ke hati berdua," saran Bunda Fatia.


Banyak yang ingin di tanyakan Mommy Astrid kepada keluarga sang mantan kekasih. Kebetulan ada kesempatan apalagi dia datang dengan kemauan sendiri, "Baik ... Ayo kita ke teras samping rumah saja!"


"Baik ...."


"Katakan mengapa Anda berubah pikiran dan mau datang ke sini?" tanya Mommy Astrid setelah duduk saling berhadapan di kursi teras rumah.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Yuk mampir di sebelah punya author juga lo



__ADS_2