Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 199. Usulan Khan


__ADS_3

Kakek Raharjanto terdiam dan termenung saat diminta Vefe bertemu dengan Mommy Astrid. Dari kemarin tidak sempat bertemu dengan kekasih putranya di masa lalu. Masih gamang dan bimbang karena bertahun-tahun menyalahkan dia tanpa mau mendengarkan penjelasan terlebih dahulu.


Sekarang setelah ada cucu, pandangan dan penilaian tentang ibu kandung dari cucunya mulai berubah. Hanya sayangnya semua di sadari setelah dia pulang kembali ke tempat tinggalnya kini. Ada rasa sesal namun tidak berani mengungkapkan kepada siapapun.


"Kakek ...!" panggil Vefe.


"Iya ... ada apa?"


"Ve ingin Kakek menemani Ve untuk menunjukkan ini kepada Mommy."


"Baiklah, kalian atur waktunya. Kakek akan menemani Ve bertemu dengan dia."


"Alhamdulillah." Khan dan Vefe mengucap syukur bersamaan.


Vefe tidak melanjutkan memeriksa semua amplop yang ada di kotak milik Ayah Igun. Berniat akan membuka bersama Mommy Astrid nanti saat bertemu, "Kakek, Ve akan melanjutkan melihat semua isi kotak ini bersama Mommy."


"Kenapa harus dengan dia?" tanya Kakek Raharjanto.


"Menurut Ve, yang berhak membuka ini adalah Mommy."


Khan mengacungkan jempolnya, "Papi setuju, isi kotak seharusnya Mommy yang membukanya. Bagaimana ... Kek?"


"Jika itu baik menurut kalian, Kakek juga setuju."


"Kakek harus janji, pertemuan dengan Mommy kita yang atur." Vefe mengulangi rencananya agar semua lebih jelas.


"Baik ... Kakek janji."

__ADS_1


Saat dalam perjalanan pulang, Khan mengusulkan kepada Vefe untuk mengajak Kakek Raharjanto ke San Fransisco. Memberikan kejutan kepada Mommy Astrid di sana. Mengajak keluarga besar kakek untuk berkunjung sambil berwisata.


"Bagaimana dengan Mpok Ria, Papi. Mami tida tega meninggalkan dia karena saat ini dia memerlukan perhatian lebih?"


"Nanti kita konsultasi dengan dokter kandungan dulu dong, Mami."


"Benar juga sih, apakah boleh Mbok Ria diajak, Pi?"


"Sangat beresiko dong, Mami Sayang. Masih ada Umi Maryam yang membantu Mpok Ria selama kita tinggal."


"Nanti Mami bicara dengan Mpok Ria dulu deh."


Dua hari berlalu Vefe masih ragu meninggalkan Mpok Ria. Keadaan dia terlihat lemah dan semakin kurus. Dokter memberikan vitamin dan obat nafsu makan agar bayi dan ibunya sehat.


Vefe minta pertimbangan kepada Umi Maryam saat beliau berkunjung. Menceritakan semua permasalahan yang membuatnya ragu meninggalkan ibu angkatnya. Padahal mempertemukan Kakek Raharjanto dan Mommy Astrid juga penting.


"Tetapi Ve tidak tega, Umi."


Tanpa diduga Pak Gun mendengar pembicaraan mereka. Ada Mpok Ria juga saat Vefe dan Umi Maryam sedang berbicara. Pak Gun memberikan penjelasan kepada Mpok Ria dengan bahasa isyarat tentang kegelisahan Vefe.


Mpok Ria langsung mendekati Vefe dan mengusap pundaknya. Dia meyakinkan Vefe untuk berangkat saja jangan mengkhawatirkan dirinya dengan bahasa isyarat. Mengatakan ada banyak yang menjaga dirinya di rumah.


"Baiklah Ve berangkat, tetapi Mpok Ria harus janji untuk semangat dan makan yang banyak, ok!" Vefe mengatakan dengan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh Mpok Ria.


Mpok Ria memberikan dua jempol kepada Vefe. Memeluknya dengan erat sambil meneteskan air mata. perhatian Vefe sangat tulus dan penuh kasih sayang.


Malam harinya Vefe bercerita kepada Khan tentang rencana untuk berkunjung ke San Fransisco, "Mami sekarang sudah yakin kita berangkat mengunjungi Mommy?" tanya Khan.

__ADS_1


"Iya Papi, kapan rencananya kita berangkat?"


"Papi tadi menghubungi Bunda, beliau mengatakan minggu depan pesawat baru bisa jemput kita, Mami. Minggu ini jadwal Ayah dan Bunda sangat padat."


"Baik ... Mami akan persiapkan semua, termasuk mengabarkan rencana kepada Kakek dan keluarga."


Khan teringat dengan masalah Tante Suprapti yang kemarin bingung tentang koperasi dan arisan, "Mami sudah mendapatkan kabar dari Tante Prapti?"


"Papi penasaran tentang Eno ya?"


"Eee kagak ...!"


"Awas ya, Papi jangan memikirkan tentang wanita ganjen itu!"


"Mami salah alamat kalau cemburu dengan wanita model dia," jawab Khan kesal.


"Iya maaf, Mami cuma bercanda."


"Mami tidak asyik bercandanya."


"Iya maaf ... Jangan marah dong, baiklah Mami ceritakan tentang masalah Tante Prapti."


"Tidak ... Nanti saja ceritanya, Mami harus merayu dia dulu sebelum cerita!" pertintah Khan menunjuk ke bawah.


"Eee apa hubungannya dengan senjata tomahawk Papi, mengapa dia harus dirayu?"


"Tadi dia sudah bangun, sekarang dia tidur lagi gara-gara Mami."

__ADS_1


"Waduh!"


__ADS_2