
Yang di cari sedang asyik berbincang dengan pramugari cantik di dekat toilet. Dewi datang berlari mendekati suaminya yang mengira berselingkuh. Datang dengan wajah yang di tekuk sambil menahan amarah.
Aan yang mengikuti Dewi dari belakang tergelak melihat tingkah Wahono. Dia tampak astyk berbincang dengan pramugari cantik. Terlihat akrab dan seolah telah mengenal pramugari cantik itu bertahun-tahun.
"Bang Wah ...!" teriak Dewi dengan kesal.
Wahono dan pramugari itu langsung menoleh dan kaget, "Cintaku ... Tunggu jangan marah, ini tidak seperti yang terlihat." Wahono menyadari situasi dan melihat wajah dewi yang kesal dan terlihat cemburu.
"Bang Wah selingkuh di hari pernikahan kita?" tanya Dewi dengan suara jutek.
"Kamu ketahuan ya Bro?" tanya Aan dengan suara tergelak.
"Tunggu dulu jangan curiga. Dia keponakan yang lama tidak ketemu. Dulu saat dia masih SD terakhir bertemu dengan dia."
Pramugari itu langsung meraih dan mencium punggung tangan Dewi dan Aan begantian, "Tante salam kenal ...."
Dewi akhirnya tersenyum dan mengusap punggung pramugari yang ternyata keponakan dari suaminya, "Salam kenal juga."
"Ayo ... Kita sebentar lagi akan take-off, dari tadi dicari oleh pramugari karena anggota hilang satu!" ajak Aan.
Anggota rombongan sudah lengkap dan duduk di kursi masing-masing. Hanya Khan, Vefe dan Bunda Fatia yang berada di dalam kamar kabin. Suara pilot langsung mengumumkan bahwa pesawat akan segera mengudara.
Khan sedang merayu Vefe yang sedang bersandar di tempat tidur. Dia sedang mengajak putranya yang masih dalam perut berbincang, "Sekarang tidak ngiler lagi, 'kan?"
Vefe hanya tersenyum dan mengusap rambut Khan. Matanya masih konsentrasi pada ponsel. Dia sedang cheating dengan Erina. Membiarkan Khan beraksi dan terus membelai dan berbincang dengan putranya.
Sambil berbincang tangan Khan usil membuka buah baju Vefe dari bawah. berbincang dan membuka lama-kelamaan tinggal satu yang paling atas yang belum terbuka. Vefe belum menyadari apa yang dilakukan oleh suaminya.
Tangan Khan menysup sambil masih berbincang membuat Vefe tersentak kaget, "Mas ... Mengapa dibuka?"
"Mas tadi sudah izin putra kita, Sayang." Khan terus beraksi menyusuri di setiap inci daerah perut yang terlihat nyata.
"Kapan kok Ve tidak dengar?"
Khan mendongakkan wajahnya sambil tersenyum manis. Tangannya tetap terus beraksi tanpa henti, "Mas berbincang dan meminta izin kepada putra kita, jelas saja tidak dengar. Ve asyik main ponsel."
__ADS_1
"Alasan saja ... Tutup lagi!"
"Ya nanti kalau sudah selesai ya, Sayang."
Bukannya menutup buah baju, tetapi Khan malah menyendal satu lagi buah baju yang paling atas. Terlihat dua gundukan yang masih tertutup sempurna. Khan langung menenggelamkan wajahnya di tengah gundukan dan mengecupnya dengan lembut.
Tanpa sengaja rambut Khan menyenggol ponsel yang dipegang oleh Vefe. Ponsel itu terjatuh tepat di kepala Khan, "Aduuuh ...!" teriaknya.
Vefe tergelak sambil mengambil ponsel miliknya dengan cepat, "Maaf tidak sengaja."
Dengan gemas Khan pengusapkan kepala yang terkena ponsel di salah satu puncak gundukan kembar.
"Mas aaaah!" teriaknya sambil menggeliat manja.
"Ve harus tanggung jawab."
"Ve salah apa, Mas yang menyenggol ponselnya, bukan Ve?"
"Kepala Mas pusing kejatuhan ponsel harus segera berburu nich biar pusingnya hilang."
"Kali ini harus beda ya, Sayang?" tanya Khan mendongakkan wajahnya memandangi Vefe yang mulai terbawa rasa.
"Apanya yang berbeda, Mas?"
"Jelas beda dong, Ve harus memberikan hadiah satu ronde untuk makan malam ketupat kandangan. Satu ronde lagi untuk babymoon di Singapura. Dan satu ronde lagi untuk semua anggota yang ikut berwisata ke Singapura.
"Waduh gempor dong Ve nanti!"
Khan tergelak dan langsung melanjutkan aksinya bermain memutari lembah, mendaki sampai puncak. Bermain di puncak bergantian kanan dan kiri dengan penuh rasa.
Sensasi sampai puncak nirwana bersamaan dengan pesawat take-off dengan sempurna menambah rasa semakin menggelora. Pesawat mulai stabil Khan berbaring di samping Vefe dan memeluknya dengan erat.
Perjalanan dari Kalimantan Selatan sampai Singapura hanya ditempuh selama satu jam saja. Mereka langsung menuju villa yang sudah di pesan. Di jemput menggunakan bus yang sudah disediakan oleh pihak villa.
Perbedaan waktu yang hanya satu jam dari Jakarta. Mereka langsung beristirahat di kamar masing-masing sampai pagi menjelang. Kegiatan mereka esok hari akan berbeda di hari pertama dan ke dua, tetapi hari ke tiga akan berwisata bersama.
__ADS_1
Hanya sayangnya, Bunda Fatia pagi hari harus terbang ke Manhatten. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan di sana. Rencana akan menemani dan menghabiskan waktu dengan Vefe buyar, "Maaf ya, Nak. Bunda tidak bisa menemani kali ini."
"Iya Bunda, Tidak apa-apa. Bunda hati-hati dan jangan lupa jaga kesehatan." Vefe langsung memeluk Bunda Fatia sebelum meninggalakan villa.
"Salam buat Ayah, Elya, dan keluarga ya, Bun." Khan mencium punggung tangannya.
"Tentu ... jaga kesehatan cucu Bunda, jangan sampai kejadian seperti kemarin terulang lagi!"
"Kejadian apa, Bun?" tanya Khan.
"Itu putri Bunda sampai ngiler pingin ketupat Kandangan. Usahakan apapaun yang diinginkan cucu Bunda harus di penuhi!"
"Iya ... Bun."
Vefe tersenyum mendengar pesan ibu mertuanya. Sebenarnya sampai sekarang masih bingung jika memikirkan tentang ngidam. Sudah merasakan sendiri rasanya ngidam dan selalu terbayang saat belum terpenuhi.
Yang masih bingung dan tidak habis pikir adalah tentang si jabang bayi yang ileran. Hati masih bingung saat memikirkan jika tidak di turuti si jabang bayi akan ileran. Bahkan Khan ikut dan nurut saja kata Bunda Fatia mengatakan si jabang bayi ileran jika lahir nanti.
Vefe jadi teringat si Kie dan Lie yang ada di panti asuhan. Dua balita itu sampai sekarang selalu saja ileran walupun umurnya hampir empat tahun. Terkadang baju mereka basah saat bermain kateran iler yang menetes.
Belum ada yang bisa membuktikan jika ada hubungannya iler dengan tidak terpenuhinya saat ibu mengandung. Hanya saja cerita dari orang tua zaman dulu selalu ada pesan dan nasehat yang tersirat di balik peristiwa pendapat mereka.
"Dengar pesan Bunda, Sayang. Jangan diulangi lagi peristiwa kemarin!"
"Iya ... Baik."
"Mas tidak mau putra Mas gagah dan tampan di dalam perut sudah ileran."
"Lo memang bisa ileran saat masih di dalam perut, Bun?" tanya Vefe penasaran.
"Ya tidak juga dong, Nak. Nanti siapa yang akan mengusap ilernya kalau di dalam kandungan?" jawan Bunda Fatia asal.
Khan yang memiliki ide jahil karena mendengar jawaban Bunda Fatia. Bayangan dan pikirannya saat berburu justru ada ilernya kapak tomahawk yang menyembur di sana, "Kalau masih di dalam perut bukan ileran, tetapi menerima ilernya kapak tomahawk," bisik Khan di telinga Vefe.
"Aaah Mas ini, itu bukan iler, Mas." Vefe menjawab dengan berbisik juga.
__ADS_1
"Eee kaalu tidak percaya, ayo dipraktekkan!"