Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 130. Kamu yang Melayani


__ADS_3

Vefe dari kecil sudah terbiasa di hina oleh teman-temannya. Bukannya marah, dia malah tersenyum mendengar pertanyaan Merry teman SMA.Tidak merasa sakit hati saat di hina tidak mungkin mampu membeli gaun yang dijual di butuk terkenal.


Khan yang mendengar dari kejauhan melihat istrinya di hina. Dia langsung berdiri dan menatap tajam ke arah pemilik butik. Kata tidak terucap, tetapi mata menunjukkan ketidaksukaannya pada karyawan yang telah menghina istrinya.


Pemilik butik langsung berdiri dan memahami situasinya. Harus segera mengatasi sebelum suasana semakin memanas, "Tunggu, Tuan. Saya yang akan mengatasi masalah karyawan yang tidak sopan!'"


Pemilik butik langsung berlari mendekati Merry yang masih bertolak pinggang, "Merry ...!" teriaknya.


"Saya ... Bu."


"Jaga mulut kamu, kamu tidak tahu sedang berbicara dengan siapa?"


"Dia teman sekolah Merry, Bu. Anak yatim piatu yang ...?"


Merry tidak melanjutkan ucapannya saat Khan mendekati mereka. Khan langsung merangkul pundak Vefe dan mengusap lembut pipinya. Menunjukkan senyuman yang menawan agar Vefe tidak berkecil hati.


Merry langsung membelalakkan matanya melihat Khan. Dia kenal betul pengusaha yang sering wira-wiri di televisi sebagai membicara bisnis. Termasuk salah satu idola para wanita yang masih lajang seperti Merry.


"Cepat kamu minta maaf kepada Nyonya Khan sekarang!"

__ADS_1


"Tetapi dia ...!" Merry kembali tidak melanjutkan ucapannya. Kali ini Khan yang memotong pembicaraan wanita itu.


"Istriku bisa membeli semua gaun yang ada di sini, bahkan butik ini mampu dia beli, Kamu mengerti?" bentak Khan dengan kesal.


"Maafkan Merry Ve," kata Merry sambil tertunduk.


"Merry yang sopan kalau memanggil istri Tuan Khan, atau kamu mau Ibu pecat?"


Merry bingung dan membelalakkan matanya. Tidak menyangka temannya yang dulu sering di bully. Sekarang ini menjadi istri dari seorang konglomerat dan istri pengusaha terkenal.


"Jika Anda tidak bisa mengatur karyawan Anda yang tidak sopan, kami akan mencari butik yang lain, Bu," ancam Khan dengan nada suara semakin marah.


"Maafkan kesalahan saya Tuan dan Nyonya, saya tidak akan mengulangi lagi." Merry membungkukkan badannya di hadapan Vefe dan Khan.


"Saya maafkan kamu, Merry. Ve harap kamu bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini, tidak selamanya nasib orang selalu sama, dulu kamu memang kaya-raya, tetapi apa yang terjadi?"


Merry menunduk dan mengangguk, tidak menjawab pertanyaan Vefe. Sekarang ini harus berjuang untuk mendapatkan rezeki untuk menghidupi keluarga di rumah. Setelah usaha orang tuanya bangkrut hanya dialah sebagai tulang punggung saat ini.


"Saya mewakili karyawan mohon maaf soal kejadian tadi, Tuan."

__ADS_1


Khan ingin menjawab ucapan pemilik butik. Langsung di jawab dengan cepat oleh Vefe, "Tidak perlu meminta maaf, Bu. Ini hanya keslahan kecil yang tidak di sengaja."


"Tapi Sayang, Mas masih belum bisa merima dia yang menghina tadi."


Vefe langsung menggelelngkan kepalan dan menjawab ucapan Khan, "Mas bule!"


Jika Vefe sudah berbicara dengan tegas dan memanggil sebutan dengan mas bule tandanya Vefe ingin marah. Khan langsung tersenyum dan tidak jadi memperpanjang masalahnya,


"Iya Sayang, ampun. Istri Mas memang yang terbaik."


Ibu pemilik butik merasa lega melihat Khan tidak jadi marah dan juga tidak membatalkan pesanan gaunnya. Pelanggan setia yang sering memborong pakaian dalam jumlah besar tidak mungkin akan disia-siakan kesempatannya.


"Mari ... Tuan. Silahkan kembali memilih gaun yang akan diinginkan," ajak Pemilik Butik.


Khan tersenyum memiliki ide untuk membalas hinaan Merry kepada Vefe, "Saya tidak akan membatalkan pembelian gaun di sini asalkan wanita itu yang melayani Istri saya!" perintah Khan dengan tegas.


"Eee tapi, Bu. Merry wakil Ibu bukan pelayan?"


"Ya sudah ... Kami akan pindah butik saja!" ancam Khan.

__ADS_1


"Merry kamu yang akan melayani Nyonya Khan!" perintah Pemilik butik.


__ADS_2