Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 233. Terapi Plus-plus


__ADS_3

Dokter anak mengatakan bahwa baby Aaron tidak ada gejala demam berdarah. Hasil laboratorium negatif dan trombosit normal. Hanya terkena panas dan flu karena perubahan cuaca.


Dengan minum obat penurun panas dan obat flu yang sesuai dosis. Akan cepat sembuh apalagi ditambah dengan vitamin. Dan membutuhkan waktu istirahat yang cukup.


"Alhamdulillah." Vefe mengucap syukur berkali-kali.


"Ini resep obatnya, kalau bisa langsung diminumkan ya, Biar cepat sembuh!" perintah Dokter sambil memberikan satu lembar kertas berisi resep dokter.


"Iya terima kasih, Dok." Khan yang mengambil resep dari tangan dokter.


Datang Pak Gun yang baru saja mendengar jika baby Aaron sedang berada di rumah sakit yang sama dengan istri dan putranya, "Tuan ... sini saya saja yang ke apotek, sekalian saya juga mau mengambil vitamin."


"Vitamin untuk Mpok Ria ya, Pak Gun?" tanya Vefe.


"Benar sekali, Nyonya."


Saat Pak Gun ke apotek, keluarga mengunjungi Mpok Ria dan baby Ilham. Menanyakan keadaan keduanya. Dan kapan diperbolehkan pulang.


Sekarang ini berat badan baby Ilham dua koma satu kilogram. Tadi sore sudah mendapatkan izin dokter untuk pulang. Hanya sayangnya besok pagi baru diizinkan karena menunggu tanda tangan dokter yang terlanjur pulang sebelum tanda tangan.


Obat milik baby Aaron berupa syrup dan rasanya manis. Baby Aaron sangat menyukai rasa stroberi. Sehingga masih di ruang rawat inap Mpok Ria, batita itu meminta sendiri untuk minum obat.


"Mau minum obat sekarang?" tanya Vefe.


"Mum ... mum," jawab baby Aaron.


Khan menuang syrup rasa stroberi sesuai kataran yang dianjurkan oleh dokter, "Ayo ... buka mulutnya!" perintah Khan.


Khan dan keluarga bernapas lega baby Aaron ditangani dengan tepat. Besok baby Ilham diperbolehkan pulang. Belum sampai rumah dan masih dalam perjalanan pulang baby Aaron mulai terlelap dalam gendongan Vefe.


Kemungkinan obat langsung beraksi membuat baby Aaron anteng dan terlelap dalam dekapan maminya. Bahkan setelah sampai rumah dan di tidurkan bi box bayi. Batita itu tidak terjaga dan tetap tidur pulas.


Sekarang gantian pundak Vefe yang terasa pegal. Hampir dari pagi selalu meggendong baby Aaron hanya beristirahat sebentar. Sambil duduk di kursi meja rias Vefe menekan sendiri pundaknya perlahan.


"Rasanya pegal sekali," mololog Vefe sendiri.


Khan yang baru saja ke luar dari kamar mandi mendengar Vefe bicara sendiri. Khan langsung mengangkat Vefe dari belakang, "Ayo di tempat tidur, Papi akan memberikan servis plus-plus untuk Mami."


"Aaaah ... Papi turunkan!" teriak Vefe sambil menggerakkan badan.


"Jangan bergerak dong, Mami. Nanti jatuh!"


"Lagian Papi ngapain pakai diangkat segala?"

__ADS_1


Sampai di tempat tidur tanpa sengaja Khan terjatuh bersamaan Vefe juga terbaring. Badan Khan menimpa tepat di atas badan Vefe. Dengan spontan tangan Khan langsung menahan agar berat badan tidak tertumpu pada Vefe.


"Dasar Papi modus, cepat bangun!"


Dengan tersenyum devil Khan hanya memandang bibir Vefe yang memerah, "Cepat bangun, Pi!"


"Tadinya Papi berniat memberikan servis dulu dengan memijat pundak Mami, sekarang Papi mau yang plus-plus dulu terapinya belakangan." Mulut Khan monyong ingin segera menikmati bibir mungil Vefe.


"Mami tidak mau, stop!" Vefe langsung menutup mulut Khan agar tidak menyentuh bibirnya sendiri.


"Hhmm ...?"


"Papi harus servis dulu!" perintah Vefe sambil melepaskan tangan dari mulut Khan.


"Dia sudah bangun, Mami. nanti saja ya servisnya?"


Vefe menggelengkan kepala dengan cepat. Tahu betul kebiasaan suami tercinta. Setiap selesai mengajak beraksi jika tidak berniat tambah ronde kedua, pasti akan langsung tertidur pulas.


"Pokoknya Mami mau servis dulu, tidak ada servis tidak ada beraksi."


"Baiklah ... ayo tengkurep!"


Vefe langsung membalikkan badan dengan cepat sambil tersenyum. Menarik bantal untuk tumpuan kepala yang dimiringkan ke samping, "Ayo dimulai, Pi!"


"Dibuka sekalian dong baju tidurnya, Mami!"


Sambil tergelak Khan mulai memberikan sentuhan lembut mulai dari punggung dan sekitar leher. Baru lima menit saja yang beraksi bukan hanya tangan saja. Bibir juga ikut beraksi dengan mengecup punggung berkali-kali.


"Papi ... bibirnya tidak usah memberikan servis!"


"Maaf, bibir Papi bergerak sendiri."


Hampir sepuluh menit, tangan Khan mulai memberikan sentuhan di pinggang dan sekitarnya. Tangannya sengaja di pelesetkan terkena samping badan. Seolah terpeleset pas mengenai pinggiran gunung kembar.


"Tidak perlu disengaja, Pi. Yang betul coba servisnya!"


Khan tergelak dan terus mengulangi lagi modusnya, "Tangan Papi jalan sendiri, maunya ke sini terus."


"Alasan ... yang betul dong!"


"Iya Mami Sayang."


Tangan Khan mulai pindah lebih ke bawah. Servis di sekitar pinggang ke bawah. Lagi-lagi hanya bertahan sepuluh menit saja. Tangan itu selalu mendekati di tengah antara dua kaki.

__ADS_1


"Papi ...!"


"Ini yang namanya servis plus-plus, Mami tinggal menikmati saja."


Kini servis Khan pindah di bagian kaki bagian atas. Sengaja kaki Vefe sedikit di buka padahal awalnya kaki lurus dan rapat. Memilih servis pangkal paha bagian atas agar mudah menyentuh sesekali inti di antara dua kaki.


"Eee Papi ... mengapa kaki Mami harus di geser?"


"Sebelah sini harus di servis juga dong, Mami." Khan mengusap lembut inti di antara dua kaki.


"Tidak perlu situ di servis dong, Pi. Bagian itu nanti ada yang memberikan servis tersendiri."


"Asyik ... senjata tomahawk Papi, 'kan?"


"Hhmm ...."


"Apakah boleh sekarang?"


"Tidak, Papi harus memberikan servis yang memuaskan terlebih dahulu!"


"Baiklah ... ini salah satu servis memuaskan dari Papi." Khan langsung menarik celana tidur milik Vefe sampai terlepas."


"Eeee kok begitu, Pi?"


"Jangan protes, Mami cukup merasakan saja sentuhan tangan Papi."


Khan memberikan totok menggunakan jari telunjuk di beberapa bagian paha bagian atas. Menekan otot yang tegang dan kaku. Walau awalnya terasa sakit, tetapi otot lama-kelamaan terasa lemas dan tidak tegang.


Vefe terdiam menikmati sentuhan totok tangan Khan. Tidak protes lagi seperti sebelumnya. Terkadang memejamkan mata karena merasakan manfaatnya.


"Sekarang pindah di pinggang dan punggung ya, Mi?"


"Hhmm."


"Dibuka dulu dong baju tidurnya!" perintah Khan sambil tersenyum devil.


Vefe mengikuti perintah Khan tanpa curiga. Sudah merasakan enaknya saat di totok bagian kaki. Langsung membuka baju tidur walaupun tanpa berpindah posisi, "Sudah ya, Pi."


"Ok ...."


Khan mulai memberikan totok di beberapa bagian dengan tangan kakan. Tangan kirinya untuk membuka semua yang menempel di badan satu persatu. Dan dilempar entah ke mana tanpa diketahui Vefe.


Vefe masih merasakan sentuhan tangan Khan yang mengetahui dengan meraba otot yang tegang. Servis kali ini sangat membuat Vefe merasakan manfaatnya. Badan yang awalnya pegal kini menjadi rileks.

__ADS_1


"Sudah selesai, Mami."


"Alhamdulillah ... terima kasih, Papi." Vefe langsung berbalik badan, "Astagfurullah ... Papi kok sudah polos begitu?"


__ADS_2