
Pak Raharjanto terlihat gugup saat di tanya wartawan tentang status putranya sebelum meninggal. Dia meminta dukungan dengan memandang Khan. Setelah Khan menganggukkan kepala Pak Raharjanto tersenyum dan lega.
Sebelum menjawab pertanyaan wartawan Pak Raharjanto mengambil napas panjang, "Ada masa lalu yang baru kami ketahui sekarang ini yang tidak bisa saya ceritakan karena demi menjaga perasaan cucu kandung saya yaitu istri dari Nak Khan, toh menikah tidak harus tercatat, intinya dia adalah garis keturunan Raharjanto. Saya pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk masa lalu Nak Vefe."
Wartawan terdiam mendengar keterangan Pak Raharjanto. Mereka seperti masih memahami apa yang di katakan mantan ketua anggota dewan itu. Ada juga sebagian yang langsung mengangguk faham karena persoalan pribadi yang tidak ingin dibagi untuk khalayak umum.
"Apakah ibu dari cucu Anda masih ada sekarang ini, Pak?" tanya salah satu Wartawan laki-laki.
"Itu saya saja yang menjawabnya," jawab Khan sambil mengangkat tangannya.
"Silahkan Tuan." Beberapa Wartawan menjawab bersamaan.
"Ibu mertua saya asli orang Indonesia, tetapi Beliau tinggal di San Fransisco."
"Apakah karena itu istri Anda tinggal di panti asuhan?"
Khan tersenyum karena wartawan semakin kritis dan banyak bertanya. Kecurigaan mereka seolah sudah terjawab tanpa harus diberikan keteragan. Namun demi istri dan nama baik kakek mertua, lebih memilih untuk tidak menjawab dan hanya tersenyum.
__ADS_1
"Itu beda lagi, yang terpenting sekarang kami sudah berkumpul dan saling memaafkan. Takdir yang dijalani istri saya Vena Fatmala kami jadikan pelajaran hidup, keikhlasan hati."
"Jika saya menyimpulkan dari ucapan Anda dan Pak Har, berarti istri Anda adalah putri yang baru saja ditemukan setelah hilang bertahun-tahun?" tanya wartawan wanita yang berdiri paling pinggir.
"Something like that!" Khan mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.
Pak Raharjanto tersenyum mendengar keterangan Khan. Dan kesimpulan yang diambil oleh wartawan. Rasa lega di hati seolah terlepas dari belenggu ikatan rantai yang mengikat kakinya.
Dari tadi ingin mengungkapkan perumpamaan status cucu kandung. Namun bingung dengan kata apa yang tidak membuat cucunya tersinggung. Bisa menjaga perasaan dan tidak rendah diri.
"Ada pertanyaan lagi sebelum kami pamit?" tanya Pak Raharjanto setelah hatinya merasa lega.
"Bagaimana Anda mengenal dan bisa menemukan cucunya?"
"Hanya dengan melihat wajahnya dan bertemu dengan ibu kandungnya saya sangat yakin itu adalah keturunan Raharjanto."
"Tanpa tes DNA?"
__ADS_1
"Ya tanpa tes DNA, wajahnya sangat mirip dengan Almarhumah Hartanti istri saya."
Vefe tersenyum dari dalam mobil mendengar wawancara itu. Tidak menyangka kakek kandung yang selama ini dinilai tidak mau menerima dirinya. Bersikap bijak dan menjaga perasaannya.
Ketakutan di cap sebagai anak tidak sah karena lahir di luar nikah beredar luas di dunia maya tidak terjadi. Kakek dan suami yang sangat mencintai sangat membanggakan. Nikmat mana lagi yang harus di dustakan sekarang ini.
Setelah wartawan membubarkan diri. Khan dan Vefe langsung diajak ke kediaman keluarga besar Raharjanto. Mereka ternyata tinggal satu komplek dengan tiga bangunan rumah yang berbeda.
Ada tiga rumah berbentuk Joglo berjajar di tanah seluas dua hektare yang berada di pinggiran Jakarta Timur Perbatasan Bogor. Di kelilingi pagar dan ada hutan kecil di sekeliling pagar.
Rumah Pak Raharjanto menunjukkan suasana rumah asli suku Jawa yang masih memegang teguh tradisi dan adat. Baik dari bentuk bangunan dan semua isi perabotan rumah. Sebagian besar furnitur terbuat dari ukiran kayu jati.
Rumah yang ada di kanan milik Darwati Raharjanto putri pertama. Rumah yang ada di kiri milik Suprapti Raharjanto putri bungsu. Bangunan terlihat lebih modern walau keduanya juga berbentuk Joglo.
Baru menginjak pintu utama Vefe, Khan dan baby Aaron disambut oleh pegawai dan staf pribadi keluarga. Adat Jawa yang sangat kental terlihat baik dari pakaian dan menu masakan yang dihidangkan.
Setelan melihat rumah utama dan makan bersama Vefe dan Khan diajak ke rumah Tante Suprapti Raharjanto. Ada satu perhatian khusus dari Vefe dan Khan saat memasuki pintu utama rumah. Ada foto perkumpulan wanita sosialita yang terlihat beda usia menempel di dinding ruang tamu.
__ADS_1
Setelah Vefe melihat dengan jelas salah satu wanita yang berdiridi tengah, dia kaget karena sangat mengenalnya, "Papi ... foto yang tengah itu bukannya si Eno, apa hubungan dia dengan Tante Prapti?"