
Malam ini Khan tidur dengan nyenyak. Biasanya yang di peluk guling beerisi busa. Sekarang ini gulingnya hidup bisa bernapas.
Lebih enak memeluk guling hidup dari pada guling busa. Guling hidup bisa dirayu dan diajak cerita. Bisa juga diajak bercanda, apalagi bisa diajak melayang menuju nirwana.
Di malam ini saja senjata tomahawk bisa berburu sampai tiga ronde. Dari mau tidur dua kali berburu. Dan menjelang pagi berburu satu ronde saja.
Pukul enam pagi Khan mengajak Vefe lari pagi. Berlari menyusuri pantai Kuta dengan udara yang segar. Sambil menikmati sunrise yang berwarna jingga kemerahan.
Belum banyak wisatawan yang berlalu lalang. Khan dan Vefe berlari di pinggir pantai. Sesekali kakinya menyentuh ombak dan mereka melompat sambil berlari.
"Mas ...awas ombak!" teriak vefe melompat menghindari ombak.
Kaki ke duanya tanpa alas, mereka langsung menginjak pasir. Berlari berkejaran sambil bercanda dan main ombak saat datang. Sesekali memeluk dan merangkul pundak.
Matahari mulai menunjukkan sinar hangatnya saat Khan mengajak Vefe kembali ke villa. Kembali berlari kali ini mereka adu kecepatan sampai depan villa. "Ayo cepat, Sayang. Kejar Mas!" teriak Khan.
"Aaaah Mas tunggu ...!" Vefe ikut berteriak belari menyusul Khan.
Sampai depan pintu villa disambut denga air putih hangat, "Silahkan diminum, Tuan ... Nona!"
"Terima kasih, Pak."
Kali ini koki sengaja memberikan satu belas air putih hangat dalam ukuran besar. Koki tahu tuannya sedang kasmaran. Semua dilakukan berdua tanpa terpisahkan.
Vefe berlari kembali masuk kamar setelah selesai minum air hangat, "Mas Ve duluan!" Vefe berlari masuk kamar mandi langsung ingin mandi.
Khan langsung berlari menyusul sampai kamar mandi dan memluknya dari belakang, "Ketangkap ya!"
"Mas keluar dulu, Ve mau mandi!" Vefe mendorong Khan untuk keluar kamar mandi.
__ADS_1
"Tidak ... Kali ini Mas mau mandi berdua ayo kita masuk buth-up." Khan menggendong bridal Vefe dan masuk buth-up berdua.
Awalnya Khan berendam sambil merebahkan tubuhnya berdampingan dengan Vefe. Setelah semua helaian benang yang menempel di ke duanya sudah terlapas. Senjata Kapak tomahawk berburu di dalam buth-up.
Ada sensasi tersendiri saat merasakan perburuan di dalam air beraroma terapi. Air hangatnya bercampur peluh yang mengucur deras. Sampai terbang ke atas awan ke duanya masih ada di dalam buth-up.
Yang biasanya mandi hanya setengah jam. Sekarang menjadi molor satu setengah jam. Banyak acara plus-plus daripada membersihkan badan.
Dengan terpaksa koki membuat sarapan yang ke dua. Di perkirakan hanya satu jam keluar dari kamar mandi. Mereka dua jam kemudian baru keluar kamar.
Hidup Khan berubah drastis, dulu sangat disiplin dan tepat waktu. Sekarang banyak berubah, waktu selalu sesuai dengan keinginan hati. Banyak tersenyum dan jarang marah.
Pegawai villa sangat merasakan perubahan sikap Khan kini. Ikut merasakan kebahagiaan dengan perubahan tuannya. Wajahnya terlihat cerah padahal dulu terlihat datar dan serius.
Hari kedua Khan mengajak Vefe santai menikmati pemandangan pantai nan eksotis. Pasir putih yang menghampar di sepanjang empat kilo meter. Membuat mereka berdua tidak bosan untuk menelusuri keindahannya.
Ada banyak wisatawan yang santai menimati cahaya matahaari. Berjemur atau berselanjar. Ada banyak habitat penyu yang hidup di daerah pantai Kuta menambah daya tarik tersendiri bagi pengunjung pantai.
Menjelang senja Khan mengajak Vefe menikmati sunset di pinggir pantai. Diiringi deburan ombak dan warna jingga sang surya. Menambah ke duanya semakin romantis.
Duduk menghadap memandang lautan lepas. Saling bersandar dan memeluk pinggang. Berbincang dan bercanda dengan mesra. Seolah duania hanya milik berdua.
Hari ke tiga pulang ke Surabaya, Di sambut oleh keluarga besar. Elya dan keluarga juga sudah tiba dari Manhatten. Persiapan resepsi yang akan dilakukan esok hari sudah selesai.
Malam ini adalah malam ramah-tamah perkenalan dengan keluarga besar. Berkmpulnya empat sahabat Ayah Jose. Khan adalah putra terakhir yang menikah diantara empat sahabat.
Sama seperti Ayah Jose saat muda, Beliaulah yang paling menikah trakhir diantara empat sahabat. Kini kebahagiaan menghampiri karena Khan bisa menikah dengan gadis pilihannya sendiri.
Banyak tamu yang berkumpul malam ini. Setelah Vefe diperkenalkan dengan seluruh keluarga. Vefe dan Freya sedang berbincang berdua di samping Bunda Fatia.
__ADS_1
Datang tamu tetangga sebelah rumah, seorang wanita paruh baya tetangga Bunda Fatia. Wajahnya terlihat judes dan jutek. Dia langsung duduk di samping Bunda Fatia yang sedang berbincang dengan keluarga.
"Mana calon menantumu, Jeng?"
"Ooo perkenalkan dia sudah menjadi menantu kami bukan hanya calon, namanya Vefe." Bunda Fatia merangkul Vefe.
"Saya Vefe, Tante. Salam kenal."
Vefe langsung meraih dan mencium punggung tangan teman Bunda Fatia. Menyapanya dengan sopan sambil menundukkan badannya tanda hormat. Hanya sayangnya tamunya terlihat tidak suka dan terlihat meremehkan.
"Jeng, mantumu biasa wae, isih ayu putriku, yo'opo seh kon ora gelem karo putriku wae?"
Vefe tidak bisa bahasa jawa, tetapi mengerti apa yang dikatakan tamu Bunda Fatia. Dia mengatakan lebih cantik putrinya daripada dirinya. Tidak memilih putrinya sebagai menantu, seperti itu kira-kira arti yang ditankap oleh Vefe.
"Namanya jodoh sudah ada yang mengatur, Bu Eno. Putraku sangat mencintai istrinya," jawab Bunda Fatia sambil tersenyum.
Vefe langsung teringat wanita yang pernah ditemui di perusahaan kemarin. Kemungkinan tamu Bunda Fatia adalah ibu kandung dari Eno. Jika diperhatikan wajahnya mirip hanya berbeda umur saja.
Perbincangan antara Bunda Fatia dengan ibu dari Eno tidak terlalu Vefe dengarkan. Vefe lebih memilih mendengarkan cerita Freya yang ceria. Cerita dengan dua bahasa terkadang membuat Vefe tertawa.
Sampai Bu Eno bertanya tentang pemecatan putrinya di perusahaan kepada Bunda Fatia. Vefe masih di lirik dan di pandang dengan sebelah mata oleh tamu itu. Seolah matanya mengatakan Vefe yang merebut calon menantunya.
"Tolong diterima lagi Eno di perusahaan ya, Jeng. Sakno sampe saiki isih nganggur are'e," pinta Ibu Eno.
"Sepurane, semua Khan yang memutuskan, Bu Eno."
Vefe masih mendengarkan semua perbincangan Bunda Fatia bersama Bu Eno. Sering sekali wanita paruh baya itu melirik Vefe. Sorot matanya seolah memancarkan kebencian dan menyalahkan.
Melintas pikiran Vefe mulai menyalahkan diri sendiri. Vefe hanya menarik napas panjang dan mengingat kebahagiaan suami. Mencoba tidak terpengaruh dengan ucapan dari Ibu Eno.
__ADS_1
"Di mana Putra Jeng Fatia, aku ingin bertanya padanya, apa salah putriku sampai harus di pecat gara-gara menolak perjodohan, padahal jelas-jelas putriku lebih cantik daripada wanita tidak jelas itu?" tanya Bu Eno lagi.
"Eeee ...!"