
Wahono hanya bisa menarik napas panjang mendengar panggilan Kak Mur. Dia hanya mengangguk dan tersenyum tetap menggenggam erat jemari Dewi. Dalam hati khawatir dan takut Kak Mur langsung berterus terang tentang perasaan yang dirasakan.
Masih ada jarak dua meter antara pintu parkiran dengan Kak Mur dan Aan berdiri. Masih ada kesempatan untuk memikirkan cara agar semua berjalan dengan lancar. Tidak terjadi salah faham antara Kak Mur dan Dewi dalam pertemuan pertama.
Wahono tersenyum setelah memiliki cara ampuh untuk memberikan bukti jika ada masalah. Foto yang diambil saat mereka jadian bisa dijadikan sebagai senjata. Sebelum terjadi sesuatu dia memutuskan untuk menunjukkan sekarang.
Wahono langsung membuka ponsel sambil berjalan, "Cintaku ... Lihatlah ini, mereka sudah jadian, jadi jangan percaya kalau pacar Aan itu macam-macam sama Abang, kemungkinan mereka akan menguji cinta kita."
"Apakah harus di uji dulu begitu ya, Bang?"
"Iya nanti cintaku jangan marah ya!"
"Iya Bang."
Setelah menunjukkan kepada Dewi, dengan sengaja Wahono mengirim foto itu kepada Aan melalui pesan WA. Tanpa tulisan katapun pasti Aan akan mengerti apa maksudnya. Untungnya Aan langsung membuka pesan WA yang dikirim.
Aan langsung menatap wajah Aan dengan kaget dan kesal. Dia sangat tahu apa yang dimaksud oleh temannya dengan mengirim foto itu. Agar tidak terjadi salah faham tentang Mursida dan Dewi.
Dengan terpaksa Aan merayu sambil berbisik di telinga Kak Mur agar tidak marah, "Say ... Itu gebetan Wahono yang baru datang dari luar negeri kemarin."
Kak Mur yang baru pertama dipanggil Say langsung melayang dan tersenyum manis. Teringat baru saja jadian menerima pernyataan cinta dari Aan. Dalam hati kecilnya menyukai Wahono, tetapi dari kemarin dia menghindar dan jarang bertemu.
Saat menerima cinta Aan tadi yang ada di otaknya hanya satu. Lebih memilih dicintai daripada mencintai. Karena sudah hampir seluruh waktunya sering mencintai tetapi tidak terbalas.
Selalau terasa berat dan capek berjuang sendiri saat cinta bertepuk sebelah Tangan. Umur sudah tidak muda lagi saat ini. Keputusan menerima Aan adalah keputusan yang sangat dirasa tepat olehnya sendiri saat ini.
"Apakah mereka sudah balikan, Bang?" tanya Kak Mur juga ikut berbisik.
"Lihat saja sendiri, dia menggandeng tangan wanita itu dengan mesra, Abang juga boleh dong mesra gitu, Say?"
Kak Mur tergelak mendengar rayuan gombal Aan. Dia langsung mengulurkan tangan untuk bisa di genggam oleh Aan. Ingin berusaha menyukai Aan daripada Wahono.
"Ayo kita tunjukkan kalau kita juga sudah jadi pasangan," rayu Aan lagi
"Ayo ...."
Khan tersenyum saat melihat dua pasangan yang terlihat saling menunjukkan kedekatan mereka. Bisa menebak semua akan berjalan lancar tanpa ada masalah saat dua sahabat bujang lapuk menggenggam pasangan masing-masing.
__ADS_1
"Hai Bro ...!" teriak Wahono sambil mengangkat tangan untuk mengajak tos Aan.
"Hai ... mengapa tidak mengajak nge-date bareng, seharusnya kita bisa triple date?" tanya Aan.
"Aku tidak sengaja bertemu mereka, Adik Ve lagi ngidam sate taichan," jawab Wahono sambil menunjuk Vefe.
"Kalian saja yang doble date, atau sekalian pesan gedung ini untuk nikah bareng. Niat baik jangan ditunda, tidak baik!" saran Khan.
Wahono dan Aan tersenyum sambil saling tatap, "Waaah ide bagus!" teriak mereka bersamaan.
"Kami duluan ya?" pamit Khan berjalan keluar gedung karena mobil miliknya ada di pinggir jalan.
"Ok hati-hati, Bro!"
Khan langsung menggandeng Vefe untuk keluar gedung. Menuju mobilnya yang ada di pinggir jalan raya.
"Mungkin asyik kali ya kalau saran Mas tadi mereka lakukan?"
"Menikah bareng atau resepsi bareng?"
"Yang penting pengantinnya tidak tertukar aja."
Vefe tersenyum devil, otaknya membayangkan ada pengantin tertukar. Pasti akan ramai dan viral ada pengantin yang tertukar. Pikiran Vefe jadi treveling sendiri membayangkan hal yang macam-macam karena membayangkan dua pasang menikah bersama.
Khan mengusap pipi Vefe dengan lembut sebelum menjalankan mobilnya, "Vefe sedang membayangkan saat mereka berlomba saat malam setelah akad ya?"
Vefe tergelak saat suaminya bisa menebak yang ada di pikiranya, "Daripada membayangkan mereka lebih baik membeyangkan kita berburu sendiri saja, Sayang."
"Di larang beburu di dalam mobil dong, Mas iiiih mesum aja."
Baru menjalankan mobilnya beberapa meter. Ponsel Khan berbunyi suara notifikasi ponsel milik Bunda Fatia, "Ada apa, Bun?" tanya Khan sambil menyetir dan suara ponsel terdengar jelas di loud speaker.
"Di Surabaya ada berita heboh tentang pernikahan Eno dengan laki-laki yang namanya Bunda karang dulu." Bunda Fatia bercerita sambil tertawa.
"Oya Bun, bagaimana ceritanya?" tanya Vefe penasaran.
Bunda Fatia bercerita awalnya membaca postingan dari gedung yang sudah di sewa oleh Eno satu tahun yang lalu. Mereka mempoting jadwal acara pernikahan agar ditanggal itu tidak dipesan oleh orang lain.
__ADS_1
Dari postingan itu pihak gedung tidak lupa tag ig dari pihak yang memesan. Kemarin Eno yang memesan sehingga status Eno dengan sendirinya memasang status jika satu minggu lagi akan menikah.
Semua teman dan keluarga Eno berbondong-bondong datang untuk mengucapkan selamat. Ada juga yang langsung mengirim kado kepada Eno di rumahnya. Ada banyak doa semoga bahagia.
"Berarti senjata makan tuan dong, Bun?" tanya Khan pada Bunda Fatia.
"Iya Nak, hari ini mereka bingung akan menjawab apa?"
"Sekarang bagaimana situasi di sana, Bun?" tanya Vefe ikut penasaran.
"seru sekali, Nak."
"Ve jadi pingin ke sana langsung, Bun."
"Khan ... pesawat otw ke Jakarta, istrimu ngidam pingin ke Surabaya, kamu cepatlah siap-siap!"
"Eee Bunda Ve tidak ...?" Vefe tidak melanjutkan ucapannya.
Vefe hanya tersenyum simpul, tidak berniat benar-benar ingin ke Surabaya. Itu ungkapan spontan karena penasaran mendengar cerita Bunda Fatia. Oleh bunda dianggap keinginan si jabang bayi.
"Siap ... Khan pulang dulu sebentar."
"Mengapa pulang dulu, langsung saja ke bandara?"
Khan ingin asupan gizi untuk Vefe dan bayinya tetap terjaga. Yang paling memperhatikan itu adalah Mpok Ria. Lebih baik mengajak Mpok Ria dan Pak Gun agar semua berjalan sesuai anjuran dokter.
"Khan ingin mengajak Pak Gun dan Mpok Ria, Bunda."
"Ya sudah ... Bunda tunggu."
Pukul enam sore Khan dan rombongan sampai di Surabaya. Mereka langsung menuju rumah utama yaitu rumah Bunda Fatia. Saat melewati rumah Eno memang terlihat ramai dan banyak yang bertamu di sana.
Saat Khan saampai rumah sempat bertemu dengan beberapa tetangga yang akan ke rumah Eno. Mereka mengajak Bunda Fatia dan Vefe untuk mengucapkan selamat kepada keluarga Eno.
"Bunda ... Kebetulan menantunya datang, ayo kita ke rumah Bu Darsono!"
Bunda Fatia mengangguk dan tersenyum sambil melihat Vefe. Beliau mengusap perut Vefe kemudian memeluknya dengan erat, "Ve mau ikut, Bunda ke rumah Eno?"
__ADS_1