
Vefe menghentikan langkahnya dan memegang tangan Khan. Berteriak memanggil adiknya, "Gi ... Ji berhenti sebentar!"
Mereka menghentikan langkahnya dan berbalik badan sambil mendorong troli. Wanita seksi itu awalnya berhenti hampir tertaberak troli yang didorong Gi dan Ji. Wanita seksi mundur terhalang troli tidak jadi mendekati mereka.
"Mas, mengapa berkeringat dingin begini?" tanya Vefe sambil memegangi dahi dan telapak tangan Khan.
Melihat Vefe yang terlihat cemas dan akrab wanita seksi itu meninggalkan mereka. Dia langsung melanjutkan berjalan keluar pintu bandara. Dia hanya menggelengkan kepala sebbelum meninggalkan tempat.
Khan hanya terdiam sambil menarik napas panjang. Mencoba menenangkan hati. Meyakinkan pikirian jika dia bukan wanita seksi yang dulu pernah menculiknya.
Perasaan lega setelah wanita seksi itu melenggang pergi. Mencoba tersenyum setelah menyadari Vefe memegangi telapak tangan dan dahinya, "Mas tidak apa-apa, Ve. Terkadang kalau cuaca berubah drastis terkadang Mas memang tiba-tiba berkeringat dingin," jawab Khan sekenanya.
Khan kembali mengambil napas panjang dan dihembuskan perlahan. Masih belum bisa menceritakan tentang traumanya kepada Vefe. Di samping karena belum terlalu akrab, hubungan masih hanya sekedar teman.
Belum berani menyatakan perasaan hati. Masih memerlukan banyak waktu cara mengenal seorang gadis. Belum mengetahui bagaimana hati gadis yang di sukai.
__ADS_1
"Sekarang sudah baikkan, Mas?" tanya Vefe lagi.
"Iya Alhamdulillah, ayo kita keluar sekarang!"
Mereka kembali berjalan keluar bandara. Melihat Asisten Satria yang berdiri di depan pintu. Gi dan Ji yang berteriak memanggil dengan riang, "Bang ... sudah dari tadi?" tanya Gi.
"Lumayan sih, Gi. Mengapa lama sekali?"
"Iya Bang, kita keluar pesawat terakhir karena pada berebutan, terus tadi Mas Khan seperti sakit gitu karena mengengeluarkan keringat dingin. Jadi kita beristirahat dulu." Ji bercerita dengan panjang lebar.
Tas oleh-oleh langsung dimasukkan bagasi. Khan dan Vefe masuk di belakang sopir. Asisten Satria langsung memanggil adik Vefe untuk bisa duduk di depan agar tidak mengganggu Khan dan Vefe.
"Gi dan Ji duduk di depan saja biar kelihatan kalau ingin lihat sesuatu!" perintah Aasisten Satria.
"Gi dulu yang masuk!" teriak Gi langsung berlari membuka pintu.
__ADS_1
Di susul Ji masuk dan duduk di samping Gi. Berjalan sambil berincang dan bercerita. Terutama Gi dan Ji yang bercerita tentang sekitar pertandingan.
Khan mulai terasa lalah seharian terus beraktifitas tanpa ada beristirahat. Berkeliling, berwista sampai naik pesawat yang tidak biasa. Rasa kantuk mulai tidak bisa di tahan. Padahal awalnya ikut berbincang dan bercanda.
Tanpa sadar sekarang bergantian Khan tertidur, badannya menempel di badan Vefe. Khan yang badannya tinggi dan besar, terlihat tidak seimbang dengan tubuh Vefe yang kurus, Kepala Khan bukan di pundak tetapi kepala menempel di kepala Vefe juga.
Awalnya Vefe kaget dan mencoba mendorong tubuh Khan yang mulai terlelap. Badan Khan kembali menempel di tubuh Vefe tanpa disadari. Akhirnya Vefe membiarkan Khan terlelap bersandar padanya.
Vefe memilih konsentrasi pada ponselnya agar tidak gugup dan grogi. Dia menunduk sambil memeriksa dagangan toko online yang selalu di pantau lewat ponsel. Walau jarak berjauhan Vefe tetap menjalankan tugasnya di toko bersama Erina.
Asisten Satria tersenyum melirik spion yang ada di atas kepala. Terlihat Khan semakin akrab dengan Vefe. Ini pertama kali dia melihat tuannya bisa terlelap disamping seorang gadis.
Ingin rasanya mengabadikan momen yang langka. Hanya sayangnya tidak mungkin sekarang ini dilakukan. Di samping sedang menyetir tidak mungkin juga akan mengambil foto karena Vefe terjaga.
Sampai di depan panti asuhan, Khan terbangun karena mendengar suara riang Gi dan Ji. Khan terbangun dan langsung menengok ke kanan. Posisi Vefe ada di sebelah kanan Khan. Saat menengok bibir Khan tepat menempel di pipi Vefe, "Eee maaf Ve. Tidak sengaja!"
__ADS_1