Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 228. Karena Sate Kambing


__ADS_3

Sekali lagi Kakek harus kecewa karena Umi Maryam tidak bisa datang. Alasannya karena setelah sampai di panti asuhan Umi Maryam menerima tamu. Tamu dari perusahaan yang akan memberikan sumbangan kepada panti asuhan.


Kakek Raharjanto berbincang dengan Daddy Kim Oen sampai makan malam. Berbincang tentang banyak hal sehingga lupa tujuan awal.Tidak ada lagi kesempatan untuk berkunjung ke panti asuhan.


Khan bergabung duduk disamping Daddy Kim Oen. Ikut berbincang sambil menikmati kopi buatan Pak Gun. Merencanakan untuk berangkat ke Korea dengan pesawat pribadi keluarga.


Hampir pukul sepuluh malam, Kakek Raharjanto berpamitan untuk pulang ke rumah. Diminta untuk menginap lagi, tetapi menolak. Sudah dua hari tidak pulang dan menginap di rumah cucu.


Baru saja kakek keluar dari pintu gerbang. Ada suara teriakan bibi minta tolong dari belakang rumah. Khan dan Daddy Kim Oen berlari menuju taman samping kolam renang.


"Ada apa, Bibi?"


"Mpok Ria itu ...!" teriaknya.


"Mpok kenapa?" tanya Khan dengan bahasa isyarat.


Mpok Ria menunjuk ke arah bawah di sela kaki. Ada darah mengalir yang ke luar dari sana. Mpok Ria berdiri mematung tidak berani bergerak sambil mencoba tenang.


"Dad ... tolong panggil Pak Gun dan Bunda!" perintah Khan.


"Ok." Daddy Kim Oen langsung berlari menuju rumah.


"Tenang ya, Mpok. Ambil napas panjang!" Kembali Khan mengatakan dengan bahasa isyarat.


Umur kandungan Mpok Ria sudah memasuki bulan ke tujuh. Sejak dari awal keadaan Mpok Ria lemah. Tidak bisa terlalu capek dan tidak bisa terlalu banyak pikiran.


Bunda Fatia, Pak Gun dan Vefe berlari bersamaan. Sedangkan Daddy Kim Oen masih memanggil Mommy Astid yang ada di kamar. Tidak ada yang tidak khawatir saat ini melihat keadaan Mpok Ria.


"Tunggu sebentar, apa yang Mpok Ria rasakan?" tanya Bunda Fatia.


"Sayang apa yang terjadi?" tanya Pak Gun.


"Mpok ... mengapa bisa begini?" tanya Vefe.


Pertanyaan ketiganya hampir bersamaan dengan menggunakan bahasa isyarat. Mpok Ria kembali mengambil napas panjang. Masih tetap berdiri dan menunduk melihat darah mengalir semakin banyak ditambah dengan lendir.


Perut rasanya seperti diaduk kata Mpok Ria dengan menggunakan bahasa isyarat. Semua menjadi panik karena mengingat umur kandungan yang baru tujuh bulan. Baru tadi pagi diperiksa dokter kandungan dan bayi dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.

__ADS_1


"Pak Gun ... Mpok Ria mau melahirkan, cepat ayo ke rumah sakit!" teriak Bunda Fatia.


"Papi cepat siapin mobil!" perintah Vefe.


Mommy Astrid dan Daddy Kim Oen berlari mengikuti Pak Gun yang sedang menggendong bridal Mpok Ria. Bersamaan Khan juga menuju mobil yang masih ada di halaman rumah. Hanya sayangnya kunci mobil berada di kamar yang ada di lantai atas.


"Mami ... ambil kunci mobil dan dompet Papi!" teriak Khan sambil berlari.


Pak Gun langsung masuk mobil bersamaan Vefe datang dan memberikan kunci dan dompet Khan, "Cepat berangkat, Pi. Ve yang akan menghubungi Dokter Dino untuk minta tolong!"


"Iya ... Mami jangan lupa hubungi Umi."


Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Mpok Ria. Yang terpenting pertolongan pertama yang dilakukan dengan cepat. Untuk bisa menyelamatkan bayi dan ibunya.


"Tadi apa yang terjadi, Bibi?" tanya Bunda Fatia.


"Bibi juga tidak tahu, Nyonya Bunda. Dia sedang menikmati sate sendirian sambil duduk disamping kolam renang."


"Sate apa, Bi?"


"Katanya sate kambing yang dipesan lewat online."


"Bibi ... tolong bawa masuk bekas piring sate yang ada di belakang!"


"Buat apa, Nyonya Bunda?"


"Berapa tusuk sate yang dimakan oleh Mpok Ria?"


"Sebentar saya ambil dulu."


Bunda Fatia, Mommy Astrid, Vefe menyusul ke rumah sakit menggunakan mobil yang mengemudikan Daddy Kim Oen. Mampir untuk menjemput Umi Maryam terlebih dahulu. Untuk berangkat bersama-sama menuju rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, langsung menuju ruang bersalin. Saat ini Mpok Ria dan Pak Gun sedang berjuang di dalam. Seangkan yang di luar mengunggu dengan sangat cemas.


"Apa kata dokter, Pi?" tanya Feve.


"Kemungkinan lahir prematur, tadi saat diperiksa di UGD sudah pembukaan tiga."

__ADS_1


"Tadi pagi sehat-sehat saja, mengapa bisa begini?" tanya Umi Maryam.


Belum sempat Bunda Fatia bercerita bergabung Dokter Dino. Menyalami satu persatu keluarga sahabat sang ayah, "Apa kabar, Bun?"


"Alhamdulillah baik, Nak. Oya kebetulan ada Nak Dino, Bunda mau tanya tentang sate kambing."


"Silahkan mau tanya apa, Bun?"


Bunda Fatia bercerita tentang Mpok Ria. Sebelum pendarahan ibu hamil itu makan sate kambing lima belas tusuk. JIka dilihat dari piringnya dimakan tanpa nasi ataupun lontong.


"Apakah kemungkinan Mpok Ria pendarahan karena makan sate kambing, Nak Dino?" tanya Bunda Fatia.


"Kemungkinan bisa saja, Bun. Sebenarnya ibu hamil tidak dilarang mengkonsumsi daging kambing karena memiliki gizi yang bagus untuk janin, tetapi harus diolah dengan cara yang tepat."


"Apakah danging kambing yang di bakar kurang tepat untuk ibu hamil?" tanya Vefe.


"Benar sekali, seharusnya olah daging kambing yang akan dikonsumsi dimasak hingga matang dengan cara yang tepat. Hal ini karena, daging kambing rentan terpapar bakteri toksoplasma. Bakteri ini sangat berbahaya untuk ibu hamil, karena dapat menyebabkan bayi lahir dengan prematur. Ibu hamil juga disarankan tidak mengonsumsi sate, karena bahaya pembakarannya. Sebaiknya, hindari mengonsumsi sate kambing."


"Bagaimana cara agar ibu hamil bisa mengkonsumsi daging kambing dan tidak membahayakan janin, Dok?" tanya Mommy Astrid.


"Harus diimbangi dengan mengonsumsi sayuran dan buah yang banyak mengandung kalsium sesaat setelah ibu hamil mengonsumsi daging kambing untuk meningkatkan gizi dan nutrisi pada bayi yang ada di dalam kandungan."


Bunda Fatia termenung setelah mendengar penjelasan dari dokter Dino. Biasanya Mpok Ria jika ingin makan atau ngidam sesuatu pasti dimasak sendiri oleh suaminya. Pak Gun adalah koki handal yang masakannya tidak diragukan lagi.


Kemungkinan Mpok Ria memesan sate sendiri melalui aplikasi online. Pada zaman modern sekarang ini semua keinginan ada dalam genggaman. Yang terpenting ada saldo di aplikasi dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkan.


Hampir dua jam menunggu di luar ruang bersalin. Namun belum ada tanda-tanda melahirkan. Belum ada yang keluar dari ruang bersalin untuk memberikan kabar.


Ada sedikit kekhawatiran di hati Vefe tentang bayi yang akan dilahirkan oleh ibu angkatnya. Karena sang ibu memiliki keterbatasan dalam berucap. takut bayi yang lahir akan sama seperti ibunya.


Keadaan fisik bisa dilihat dengan menggunakan USG. Tetapi jika tentang keterbatasan seperti Mpok Ria hanya bisa diketahui setelah lahir.


Vefe tersentak kaget diikuti seluruh keluarga tersenyum saat mendengar ada suara tangisan bayi yang sangat keras dari dalam ruang bersalin, "Alhamdulillah."


BERSAMBUNG


yok mampir di novel teman author yang rekomen banget ini, ada di novel toon juga kok, terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2