
Khan hanya bisa mengambil napas panjang saat diusir secara halus oleh Umi Maryam. Emosi di tekan kuat-kuat di hati Khan agar tidak terlihat oleh Umi Maryam. Tidak ingin memaksakan bertemu dengan kekasih hati yang sangat terluka.
"Apakah Ve sudah pulang, Umi?"
"Sudah, Nak. Maaf biarkan dia sendiri terlebih dahulu. Umi tidak ingin kalian mengambil keputusan dalam keadaan emosi."
"Baik ... Umi, terima kasih. Apakah Khan boleh bercerita sebentar pada Umi?"
"Umi sudah mendengar cerita dari Ve, Nak."
"Maksudnya, Khan ingin memberikan alasan dari wanita yang di ceritakan Vefe."
"Maksud Nak Khan bercerita tentang wanita yang bernama Eno itu?"
"Benar sekali, Umi."
"Baiklah ... Ceritakan. Umi akan mendengar dari dua sisi agar tidak memihak dari salah satu kalian."
Khan bercerita kepada Umi Maryam tentang perjodohan demi perjodohan yang dilakukan oleh Bunda Fatia. Awalnya setiap di tolak para wanita yang di jodohkan mundur teratur. Hanya ada dua wanita yang tidak pernah menyerah walaupun ditolak berkali-kali.
Yang pertama bernama Retno Wulandari atau yang dipanggil Eno. Sudah berkali-kali ditolak tetapi dia masih tidak pernah menyerah. Hanya karena ayahnya adalah sahabat Bunda Fatia.
Yang ke dua adalah Sania Parwati wanita asal Bandung yang memiliki kafe. Dia sampai terobsesi dan menganggap Khan adalah calon suamiya. Dia juga pernah meminta izin kepada Bunda Fatia untuk mengejar Khan.
Hanya satu yang tidak di ceritakan Khan kepada Umi Maryam. Trauma jika bertemu dengan wanita seksi belum berani diceritakan. Penculikan itu sangat membekas di hati sehingga sangat sulit untuk bercerita.
Khan juga tidak bercerita jika bertemu dengan wanita seksi akan mengeluarkan keringat dingin. Tidak juga bercerita saat bertemu Vefe dia tidak mengeluarkan keringat dingin. Masih ada rasa takut saat akan bercerita tentang penculikan saat masih sekolah dasar dulu.
"Jadi Nak Khan tidak pernah menerima perjodohan dengan Eno?" tanya Umi Maryam setelah Khan bercerita.
"Sama sekali tidak, Umi. Wanita ganjen itu bukan tipe Khan. Khan hanya jatuh cinta pada Vefe saja."
Umi Maryam tergelak mendengar julukan Eno yang dikatakan wanita ganjen. Umi melihat sekilas sorot mata Khan yang terlihat jujur saat bercerita. Sorot mata yang terlihat kesal saat bercerita tentang Eno.
__ADS_1
"Bagaimana dengan wanita yang satu lagi, Nak. Apakah Nak Khaan juga tidak menyukai dia?"
"Si Minyak Goreng itu, Umi. Khan sangat membencinya, dia seperti parasit yang ingin selalu Khan hindari.
"Ha ha ha, mengapa di panggil dengan minyak goreng?"
Khan ikut tersenyum melihat Umi Maryam tergelak, "Namanya seperti merk minyak goreng."
"Baiklah ... Nak. Umi mengerti sekarang. Umi harap Nak Khan harus sabar mengadapi Vefe."
"Iya Umi, bagaimana keadaan dia sekarang?"
"Dia sangat merasa bersalah karena mengira dia merebut Nak Khan dari Eno. Dia sangat terpukul karena dia juga pernah mengalami dulu saat SMA."
"Iya ... Umi, Khan mengerti."
"Umi hanya minta satu pada Nak Khan, tolong jangan memaksakan untuk bertemu Vefe sebelum dia merasa tenang!"
"Sampai berapa lama, bagaimana jika Khan kangen dia?"
"Anggap saja ini ujian yang harus Nak Khan hadapi, Umi hanya berdoa semoga semua baik-baik saja dan kalian berjodoh."
"Aamiin ...."
Sehari, dua hari sampai hari ke lima Khan sama sekali tidak bisa bertemu dengan Vefe. Rasa rindu yang tidak terbendung lagi membuat dia frustasi. Setiap hari dia selalu berkunjung ke panti asuhan tanpa bosan, tetapi Vefe tidak mau bertemu dengannya.
Lupa makan, tidak pernah merawat tubuhnya seperti biasa dan sekarang jambang mulai tumbuh di sisi wajah Khan. Karena sudah hampir satu minggu tidak membersihkan wajahnya. Dia juga jarang berangkat ke kantor jika tidak penting.
Makanpun rasanya tidak enak, selalu teringat kekasih hati. Apapun yang dilakukan serba salah serba tidak pas. Mudah marah dan tidak pernah mendengarkan nasehat siapapun termasuk Asisten Satria ataupun Pak Gun.
Sepuluh hari berlalu, Khan tidak juga bertemu dengan kekasih hati. Umi Maryam juga sudah berusaha merayu agar Vefe menemui Khan sekali saja. Mpok Ria juga tidak kurang menasehati Vefe.
Erina dan Daiel juga membantu untuk bisa mempertemukan Vefe dengan Khan. Dengan berbagai cara sudah dilakukan tetapi tidak ada satupun yang berhasil.
__ADS_1
Khan mulai putus asa, hari kesebelas dia tidak datang ke panti asuhan seperti biasanya. Dia hanya tidur di kamar sama sekali tidak keluar seharian. Pak Gun bingung dengan perubahan anak asuhnya.
Tidak adanya asupan makan yang bergizi seimbang. Pikiran kalut dicampur dengan rindu yang membara. Kini Khan jatuh sakit badannya panas dan tidak bertenaga.
Terpaksa Asisten Satria memanggil Dokter Dino sabatnya untuk memeriksa Khan. Malam hari dia datang berkunjung ke rumah Khan, "Apa yang terjadi dengan dia, Satria?" tanya Dokter Dino.
Asiosten Satria bercerita sekilas tentang Eno, Vefe dan Khan. Meminta untuk mengajak berbincang agar Khan bersemangat dan mengejar Vefe lagi. Di tambah untuk memberikan obat atau vitamin agar dia sehat.
Setelah Dokter Dino memeriksa dan Khan enggan diajak bicara. Dokter Dino keluar kamar menemui Asisten Satria kembali, "Itu obatnya hanya hanya gadis itu saja, obat dokter tidak akan mempan, sebaiknya kamu temui gadis itu!" saran Dokter Dino.
Sekarang yang berkunjung ke panti asuhan Asisten Satria. Ingin menyampaikan jika tuannya sakit saat ini. Ingin meminta Vefe sekali saja menemuinya.
Sayangnya Vefe tetap dalam pendirian dan tekatnya yang bulat. Vefe tidak mau bertemu dengan Asisten Satria sama sekali. Dua hari berturut-turut Asisten Satria datang tetap saja ditolak olehnya.
Sore ini Asisten Satria duduk bersama Pak Gun di meja makan. Khan sudah tiga hari tidak keluar kamar, pekerjaan terbengkalai. Ingin meminta pendapat pada Pengasuh sekaligus koki kesayangan Khan.
Bagaimana ini, Pak Gun?"
"Pak Gun juga bingung, bagaimana kalau kita meminta pertimbangan kepada Nyonya Bunda?"
Asisten Satria teringat tiga hari yang lalu dihubungi oleh Bunda Fatia. Saat ini Bunda Fatia dan Ayah Jose sedang menjalankan ibadah haji di tanah suci. Kemungkinan satu minggu lagi baru akan selesai jadi tidak bisa di ganggu.
"Nyonya Bunda kebetuan sedang menunaikan ibadah haji dengan Tuan Jose, tidak mungkin beliau langsung pulang sebelum selesai, Pak."
"Sudah puluhan kali mereka melakukan ya Allah semoga di permudah," doa Pak Gun.
"Aamiin."
Tanpa di duga ada nada dering dari Elya di Manhatten New York. Dia bertanya tentang keadaan Khan. Asisten Satria langsung menceritakan yang terjadi saat ini.
"Bang ... El akan pulang sekarang juga!"
BERSAMBUNG
__ADS_1
Shobat jangan lupa mampir yo di novel temnan yang rekomen ini. Ada di NT kok sambil menunggu KKJ up lagi