
Khan dan Vefe masih saling kirim dan membalas pesan, "Makan bakso di mana Mas, Ve bawa motor sendiri ya?"
"Eee jangan dong, Mas masih di jalan ini. Sudah otw ke sana, tunggu saja!"
"Baiklah, Ve ganti baju dulu."
Khan saat mengirim pesan sedang duduk di jok mobil bagian belakang sopir. Asisten Satria yang sedang mengemudikan mobilnya. Mereka baru pulang dari meeting dengan klien di restoran.
"Satria minggir sebentar!"
"Siap, Tuan."
Khan turun dari mobil dan membuka pintu mobil di samping Asisten Satria, "Kamu pulang naik mobil online saja, turunlah!"
"Tuan mau ke mana?"
"Mau makan bakso sama Vefe."
"Ooo Baiklah, demi kesejahteraan hati. Sang Asisten rela diturunkan di pinggir jalan."
Khan hanya tersenyum mendengar ucapan asistennya. Duduk di kemudi dan melajukan mobilnya secepat mungkin ke panti asuhan Bunda. Vefe sudah berdiri di depan pintu menunggu.
Khan turun dan berlari mendekati Vefe, "Lama ya Ve?"
"Lumayan."
__ADS_1
"Umi sudah tidur?"
"Belum, Beliau masih sholat, tapi Vefe sudah pamit sebelum beliau ambil air wudhu."
"Baiklah ... ayo berangkat!"
Khan membukakan pintu mobil untuk Vefe. Dia memutari mobil untuk duduk di kemudi samping Vefe. Langsung melajukan mobilnya membelah jalanan Ibu kota yang padat.
"Makan bakso di mana, Mas?"
"Enaknya di mana, Vefe punya langganan bakso yang rekomen?"
"Ada sih satu langganan Vefe di dekat taman kota. Kalau malam begini biasanya rame banget."
"Tidak apa-apa, yok kita ke sana!"
"Ramai banget ternyata di sini, Vefe sering ke sini?"
"Sering Mas, di sini banyak jahanan yang murah."
"Ke sini sama pacar?"
Vefe mengerucutkan bibirnya karena pertanyaan Khan. Belum pernah pacaran dalam hidupnya. Pernah saat SMA menyukai idola cowok satu kelas. Hanya saja cinta tidak terbalaskan karena dia lebih memilih gadis kaya kelas sebelah.
Banyak yang memandang sebelah mata gadis yang tumbuh dan besar di panti asuhan. Tidak memiliki kehidupan yang jelas kata mereka. Dan tidak juga memiliki silsilah keluarga yang jelas.
__ADS_1
Sering di katakan anak buangan. Gadis miskin dan bahkan mereka sering mengatakan anak haram. Sehingga Vefe menjadi lebih tertutup dan tidak mempunyai banyak teman.
"Ve belum pernah punya pacar, Mas."
"Kenapa, Ve gadis yang manis dan baik hati seharusnya banyak dong yang mengantri ingin jadi pacar Vefe?"
Vefe tergelak dan menggelengkan kepalanya, "Ve ini anak panti, Mas. tidak tahu asal usul keluarga, miskin, bahkan sering di katakan anak yang di pungut dari tempat sampah. Tidak mungkin ada yang mau menjadi pacar Vefe."
"Jangan berkecil hati, Ve. Manusia itu dilihat dari imannya di mata Allah, bukan di lihat dari strata sosialnya."
"Tetapi kenyataannya seperti itu, Mas. Nah kalau Mas Khan, Ve percaya pasti ada banyak wanita cantik yang antri."
"Antri apa, minyak goreng?"
"Sudah aah, jangan bahas pacar, ayo itu sudah berkurang pengunjung baksonya!"
"Mas cari tempat duduk kosong, Vefe yang pesan bakso ya!"
"Baiklah...."
Bakso datang bersamaan Vefe duduk di sebelah Khan. Di tambah es jeruk dan kerupuk yang di letakkan di piring, "Ayo Mas, silahkan!"
"Terima kasih."
Baru menikmati beberapa suap bakso. Khan melihat ada sosok wanita yang duduk di depannya yang sangat dia kenal. Wanita itu duduk membelakangi Khan. Dia bersama dengan laki-laki berondong muda.
__ADS_1
Mereka terlibat mesra walau dilihat dari belakang. Khan mendengar dan mengenal suara yang terdengar manja dengan pasangannya. Vefe sampai heran melihat Khan yang serius melihat wanita yang ada di depannya, "Siapa Mas, apakah pacar Mas Khan yang tertangkap selingkuh?"