
Tidak hanya Asisten Satria yang menarik Eno menghadap Khan. Ada dua security yang menjaga dari belakang saat Asisten Satria menarik paksa Eno. Pasalnya Eno hampir melarikan diri saat mendengar Khan marah besar karena ulahnya.
"Tuan, ini orangnya ... Tadi dia akan kabur!" terisak Asisten Satria sambil mendorong Eno.
Eno langsung bersujud di depan Khan dengan linangan air mata. Wajahnya pucat pasi dan badan yang bergetar. Tidak menyangka usahanya kali ini berbalik pada diri sendiri.
"Ampuni saya, Tuan. Saya tidak bermaksud menyakiti gadis itu, saya hanya ingin Bunda Fatia merestui saya berjuang kembali." Eno memohon sambil terisak dan tidak mau beranjak dari tempatnya.
"Setiap perbuatan akan mendapatkan konsekuensi yang setimpal, untung kamu perempuan, kalau tidak sudah aku hajar habis-habisan. Mulai saat ini kamu bukan karyawan PT KURNIA lagi!" teriak Khan dengan nada yang tinggi.
Eno semakin menangis tersedu dan terus bersujud sampai wajahnya menyentuh lantai, "Tolong jangan pecat saya, Tuan. Orang tua saya akan makan apa kalau saya berhenti bekerja."
"Tidak perduli ... Toleransiku sudah habis, berkali-kali kamu buat ulah aku maafkan itu semata-mata ayah kamu teman Bunda. Sekarang ini silahkan pergi dari sini!"
"Demi Bunda ampuni saya, Tuan. Jangan pecat saya," Eno semakin tergugu dan berusaha mendekati kaki Khan.
Khan memundurkan badannya, emosinya semakin memuncak karena Eno berusaha memegang kakinya, "Satria ...!"
Asisten Satria langsung berdiri diantara Khan dan Eno yang sedang sujud. Dengan otomatis kaki Asisten Satria yang di pegang oleh Eno. Tangan Asisten Satria sudah mengepal ingin menampar Eno.
"Huuuh, aku saja emosi ingin menghajar kamu dasar wanita bod*h." Tangan Asisten Satria hanya diangkat dan memukul angin.
Eno memegang kaki Asisten Satria sambil terus terisak, "Tolong saya Sat, jangan pecat saya!"
Kaki ASisten Satria mendorong Eno perlahan, "Jauhkan tanganmu dari kakiku!"
Khan memukul meja dengan keras untuk melampiaskan kekesalannya. Semua barang yang ada di depannya terlempar berserakan di lantai. Bahkan ada yang mengenai kaki Asisten Satria dan badan Eno.
Eno kaget dan semakin menangis tersedu-sedu. Antara kaget dan takut melihat Khan mengamuk, "Ampun ... Tuan. Ampuni saya!"
"Minggat kamu dari sini sebelum kesabaranku habis dan membunuhmu!" teriak Khan dengan suara yang menggelegar.
Asisten Satria dan dua security kembali menarik tangan Eno keluar kantor. Eno semakin histeris tidak ingin keluar kantor. Dia meronta-ronta masih ingin meminta maaf.
"Aaaaargh ...brengs*k!" teriak Khan lagi meluapkan emosinya.
__ADS_1
Asisten Satria menyerahkan Eno kepada security untuk di tangani. Dia kembali masuk kantor Khan karena mendengar teriakan tuannya, "Tuan, kendalikan diri Anda!"
Khan mengambil napas panjang dan menghembuskan dengan kasar. Berkali-kali Khan mengulangi bernapas dengan panjang untuk mengurangi emosi. Pikiran Khan seolah buntu dan bingung karena kesal.
"Ini silahkan Anda lihat kotak kecil yang dititipkan pada resepsionis tadi!"
Khan membuka kotak kecil yang berada di dalam paper bag. Isinya ATM black card yang sengaja diberikan dua hari yang lalu. Gagal sudah rencana ingin membuatnya percaya diri.
"Sebaiknya Anda menghubungi Nona Vefe saja sekarang, Tuan!"
Khan mengubungi Vefe langsung dengan sambungan ponsel. Lebih dari sepuluh kali dia mencoba. Ponsel mati hanya operator ponsel yang menjawabnya.
Mengirim pesan WA, pesan lewat telegram bahkan email juga Khan manfaatkan. Tidak satupun yang tersampaikan hanya ada centrang satu. Itu tandanya ponsel Vefe mati atau sengaja dimatikan.
"Kamu urusi pekerjaan hari ini, aku mau mencari Vefe!"
"Baik siap, Tuan."
Khan keluar kantor hanya menyambar kunci dan memasukkan ponsel di saku celana. Jas yang awalnya di pakai hanya dilempar di jok mobil setelah dia sampai di mobil. Tujuan pertama yang dia tuju adalah rumah sahabatnya yaitu Verin Olshop.
"Kamu tahu biasanya ke mana jika Vefe sedang galau, Rin?" tanya Khan.
"Biasanya Vefe selalu mukul samsak di panti asuhan bagian belakang."
"Mas cari ke sana saja kalau begitu."
"Tunggu dulu, Mas!"
"Ada apa lagi, Rin.?"
"Erin baru saja menghubungi panti asuhan, dia tidak ada di sana."
"Jadi Mas harus cari ke mana, Rin?"
"Coba saja ke sana, Mas. Siapa tahu dia sudah pulang sekarang!"
__ADS_1
"Baiklah ...."
Khan mencari Vefe ke panti asuhan, berharap bisa bertemu kekakih hati. Sampai di sana Khan harus menelan kekecewaan. Tidak bertemu Vefe, bahkan Umi Maryam juga tidak ditemukan.
Khan berjalan ke belakang panti asuhan. Ingin melihat samsak yang dimaksud Erina. Samsak yang ada dipojok halaman belakang juga kosong tak berpenghuni.
Khan berkeliling tanpa tujuan menyusuri jalan antara PT kurnia, Verin Olshop sampai panti asuhan. Berharap menemukan dia dan ingin memeluknya dengan erat. Antara rindu, cemas dan khawatir menjadi satu.
Pikiran seolah sudah tidak berada di tempatnya saat ini. Lupa makan, lupa istirahat dan lupa waktu, Khan terus saja mencari keberadaan Vefe. Ponsel juga tidak kunjung diaktifkan sampai saat ini pukul lima sore.
Sore hari Khan kembali mengunjungi Verin Olshop. Akan tetapi dia belum juga datang. Kembali mengunjungi panti asuhan berharap dia sudah pulang. Hanya sayangnya kekasih hati belum juga menampakkan batang hidungnya.
Khan hanya bertemu dengan Umi Maryam dan Mpok Ria. Berbincang dengan mereka sejenak sampai senja hari. Khan belum berani menceritakan kepada Umi Maryam.
Khan masih ingin menyelesaikan masalah salah faham berdua. Tidak ingin merepotkan atau membebani pikiran orang tua. Selagi bisa di atasi berdua akan lebih melegakan hati.
Khan berpamitan pulang setelah senja hari. Khan pulang hanya untuk mandi dan berganti baju. Dia kembali menunggu Vefe di jalan masuk panti asauhan.
Menunggu sambil melihat motor yang berlalu lalang di jalan raya. Pikirannya kalut dan bingung hampir dua jam berlalu tetapi nyang di harap tak kunjung lewat.
Sambil menunggu, Khan berkali-kali melihat ponsel miliknya. Memeriksa pesan WA, telegram dan email tetap seperti semula.
Sudah lelah menunggu, lelah pikiran dan badan namun sang kekasih hati belum juga ditemukan. Tepat pukul sembilan malam Khan kembali memasuki halaman panti asuhan. Kembali menemui Umi Maryam dan berencana menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Belum sempat mengetuk pintu, Umi Maryam sudah membuka pintu menyambut kedatangan Khan. Wajahnya tampak muram dan kecewa. Kemungkinan Umi Maryam sudah mengetahui persoalan putrinya.
"Nak Khan silahkan duduk!" Umi Matyam mempersilahkan duduk di kursi panjang yang ada di teras.
"Terima kaish, Umi." Khan tidak berani membatah walau sebenarnya ingin bertanya karena biasanya langsung diajak masuk dan duduk di ruang tamu.
"Maaf ya, Nak. Ve untuk sementara tidak ingin bertemu denganmu dulu, silahkan pulang saja sekarang sudah malam."
BERSAMBUNG
Jangan lupa mampir ya shobat Anna ini sangat rekomen banget lo di novel toon juga, sambil menunggu KKJ up lagi
__ADS_1